Lupakan Emas-Tembaga, Jeruk & Blueberry Jadi Tambang Uang Baru Afrika
Jakarta, CNBC Indonesia - Saat dunia berburu emas dan mineral kritis, Zimbabwe justru menemukan tambang baru berwarna biru yakni blueberry. Buah mungil ini kini menjadi komoditas ekspor yang sedang meledak dan membuka jalan baru bagi industrialisasi Afrika.
Di perkebunan milik Alistair Campbell, sekitar 40 kilometer dari Harare, ratusan pekerja memanen blueberry setiap hari. Setelah disortir dan disimpan dalam fasilitas pendingin berteknologi tinggi, buah tersebut diterbangkan ke Asia Timur atau dikirim ke Eropa untuk mengisi rak supermarket.
Permintaannya begitu besar hingga produksi saat ini belum mampu memenuhi pasar.
Tahun ini, Zimbabwe diperkirakan mengekspor 12.000 ton blueberry, melonjak 40 kali lipat dibandingkan 2017. Fenomena tersebut bahkan memunculkan ungkapan baru di kalangan pelaku industri: "semua orang kini menanam blueberry."
Ilustrasi buah blueberry. (Freepik) Foto: Ilustrasi buah blueberry. (Freepik) |
Ledakan blueberry ini menjadi simbol perubahan ekonomi yang lebih besar di Afrika.
Selama puluhan tahun, banyak ekonom meyakini pertumbuhan Afrika harus ditopang sektor manufaktur seperti yang terjadi di Asia. Namun, kenyataannya industri manufaktur Afrika Sub-Sahara stagnan selama lebih dari satu dekade.
Kini, sektor pertanian modern mulai mengambil peran tersebut. Perkebunan berteknologi tinggi dinilai memiliki karakteristik layaknya pabrik: padat karya, terhubung dengan rantai pasok global, dan menghasilkan produk ekspor bernilai tinggi.
Tren ini terlihat di berbagai negara Afrika. Kenya dan Ethiopia kini menjadi pemain penting ekspor bunga potong dunia. Sementara ekspor buah tropis seperti alpukat, mangga, dan nanas dari Afrika meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam satu dekade terakhir.
Afrika Selatan juga mencatat prestasi besar. Pada Mei lalu, negara itu berhasil menyalip Spanyol sebagai eksportir jeruk terbesar dunia. Bahkan nilai ekspor jeruk kini melampaui ekspor berlian, yang selama ini menjadi salah satu simbol ekonomi Afrika Selatan.
Keberhasilan tersebut ditopang penggunaan teknologi modern mulai dari bibit hasil rekayasa persilangan, mesin sortir optik, fasilitas rantai dingin (cold storage), hingga sistem logistik yang terintegrasi.
Para ekonom menilai pertanian modern kini memberikan manfaat yang selama ini identik dengan sektor manufaktur. Selain menyerap banyak tenaga kerja, sektor ini juga menciptakan bisnis turunan mulai dari logistik, teknologi pertanian (agritech), pengolahan makanan hingga riset.
Perbandingan ekspor jeruk Foto: Economist |
Meski demikian, tantangan masih besar. Infrastruktur jalan yang buruk, pelabuhan yang padat, serta hambatan regulasi ekspor masih menjadi kendala utama bagi banyak negara Afrika.
Kabar baiknya, peluang pasar terus terbuka. China pada Mei lalu menghapus tarif untuk sebagian besar produk impor dari Afrika. Pada Juli, blueberry Zimbabwe untuk pertama kalinya berhasil menembus pasar Negeri Tirai Bambu.
Kisah sukses blueberry Zimbabwe, bunga Kenya, dan jeruk Afrika Selatan menunjukkan bahwa masa depan industrialisasi Afrika mungkin tidak hanya datang dari pabrik dan kawasan industri. Justru dari kebun-kebun modern yang memadukan teknologi, logistik, dan akses pasar global.
(mae/mae)
