10 Juta Pekerjaan Terancam Hilang, AS Berpacu Cegah 'Bencana' Baru
Jakarta, CNBC Indonesia - Goldman Sachs memperkirakan sekitar 10 juta pekerjaan di Amerika Serikat diperkirakan terdampak otomatisasi dalam satu dekade mendatang.
Posisi entry-level di pekerjaan kantoran dan pekerjaan administratif menjadi kelompok yang paling rentan seiring semakin luasnya penggunaan kecerdasan buatan (AI).
Gelombang PHK besar-besaran memang belum terjadi. Namun kekhawatiran mulai meningkat. Hampir satu dari lima pekerja Amerika memperkirakan AI akan menghilangkan pekerjaan mereka dalam lima tahun ke depan.
Di tengah ancaman tersebut, persoalan terbesar ternyata bukan AI itu sendiri. Amerika justru dinilai belum memiliki sistem pelatihan ulang tenaga kerja yang mampu membantu pekerja berpindah profesi ketika kebutuhan pasar kerja berubah.
Masalahnya Bukan Orang Enggan Belajar
Selama puluhan tahun, jalur karier di Amerika relatif sederhana. Seseorang menempuh pendidikan di awal kehidupan, memasuki dunia kerja, lalu mengembangkan karier di bidang yang sama selama bertahun-tahun.
AI mulai mengubah pola tersebut. Pekerja diperkirakan akan lebih sering berpindah pekerjaan, bahkan berganti profesi beberapa kali sepanjang kariernya.
Masalahnya, sistem pendidikan dan pelatihan tenaga kerja Amerika belum mengikuti perubahan itu.
Sekitar empat dari sepuluh lulusan sekolah menengah melanjutkan ke universitas empat tahun. Sebanyak 61% mahasiswa lulus dengan utang pendidikan. Sementara itu, community college yang menjadi penyedia utama pelatihan jangka pendek hanya memperoleh pendanaan publik sekitar US$25 miliar meski melayani sekitar delapan juta peserta setiap tahun.
Artinya bukan semakin banyak orang yang enggan belajar. Justru sistem pelatihannya masih dirancang untuk sekali belajar, bukan belajar berulang sepanjang karier.
Amerika Pernah Menghadapi Situasi Serupa
Program tersebut memang membantu sebagian pekerja kembali bekerja. Mereka yang mengikuti pelatihan rata-rata bekerja sekitar tiga bulan lebih lama dibanding kelompok pembanding. Dalam sepuluh tahun berikutnya, pendapatan mereka juga sekitar US$50 ribu lebih tinggi.
Namun manfaat tersebut hanya dirasakan sebagian kecil pekerja.
Sekitar 160 ribu pekerja memperoleh sertifikasi TAA setiap tahun, ketika sektor manufaktur kehilangan sekitar 500 ribu pekerjaan per tahun. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 40 ribu orang yang benar-benar mengikuti pelatihan.
Risikonya Tidak Merata
Kelompok yang paling rentan justru datang dari pekerjaan yang selama ini menjadi pintu masuk karier profesional, seperti pegawai administrasi, layanan pelanggan, call center, hingga pekerjaan back office.
Economist juga menilai perempuan tanpa gelar sarjana empat tahun menghadapi risiko lebih tinggi karena lebih banyak bekerja pada posisi-posisi tersebut..
Dengan kata lain, AI berpotensi mempersempit jalur masuk menuju kelas menengah, bukan
Magang Mulai Naik Daun
Jika jalur kuliah empat tahun semakin mahal dan pekerjaan entry level semakin menyusut, maka jalur masuk ke dunia kerja juga harus berubah.
Salah satu pendekatan yang mulai banyak dilirik adalah sectoral training. Dalam model ini, penyedia pelatihan bekerja sama langsung dengan perusahaan untuk menyusun kurikulum berdasarkan kebutuhan tenaga kerja yang benar-benar tersedia.
Empat randomized trial di sektor kesehatan, dukungan teknologi informasi, dan manufaktur menunjukkan hasil yang cukup konsisten. Peserta program mencatat kenaikan pendapatan antara 11% hingga 40% dalam jangka panjang dibandingkan kelompok pembanding.
Di saat yang sama, program magang (apprenticeship) juga kembali mendapat perhatian. Berbeda dengan magang konvensional, model ini menggabungkan pekerjaan berbayar dengan pelatihan terstruktur sehingga peserta memperoleh pengalaman kerja sekaligus keterampilan baru.
Meski mulai berkembang, skalanya masih relatif kecil. Amerika memiliki sekitar 800 ribu peserta registered apprenticeship. Jumlah tersebut bahkan masih di bawah Jerman yang memiliki hampir setengahnya, meski populasinya hanya sekitar seperempat Amerika Serikat.
Bagi banyak pekerja muda, jalur tersebut mulai dipandang sebagai alternatif ketika gelar sarjana tidak lagi otomatis menjadi tiket menuju pekerjaan pertama.
Perusahaan Tidak Lagi Menunggu Pemerintah
Banyak perusahaan jasa profesional, mulai dari firma konsultan hingga lembaga keuangan, kini membangun pelatihan internal agar karyawannya mampu memanfaatkan AI dalam pekerjaan sehari-hari. Fokusnya bukan mengganti pekerja, melainkan membantu mereka bekerja berdampingan dengan teknologi baru.
Pendekatan yang lebih menyeluruh terlihat di Salesforce. Perusahaan perangkat lunak tersebut mengembangkan Career Connect, platform yang memetakan keterampilan karyawan ke berbagai posisi internal yang masih tersedia. Sistem tersebut juga merekomendasikan pelatihan yang relevan, sementara skema education reimbursement membantu membiayai pendidikan atau sertifikasi tambahan.
Model seperti itu memberi gambaran bagaimana perpindahan karier dapat dilakukan tanpa harus meninggalkan perusahaan. Namun, infrastruktur mobilitas internal semacam ini masih menjadi pengecualian, bukan praktik yang umum di pasar tenaga kerja Amerika.
Meski berbagai program mulai bermunculan, pertanyaan terbesarnya belum berubah. Banyak pekerja memang perlu dilatih ulang, tetapi belum ada jawaban pasti mengenai pekerjaan apa yang seharusnya mereka tuju.
Connecticut, misalnya, tengah mengeksplorasi kemungkinan mengalihkan pekerja administrasi ke sektor kesehatan. Namun perpindahan tersebut tidak selalu mudah dilakukan hanya melalui pelatihan singkat.
"Tidak realistis meminta seseorang yang telah 20 tahun bekerja di kantor lalu bertanya, 'Apakah Anda ingin menjadi tukang las?'" kata Lee Lilley, Secretary of Commerce North Carolina, kepada The Economist.
Menurutnya, pekerjaan baru idealnya tetap memanfaatkan keterampilan yang telah dimiliki pekerja sekaligus menjaga identitas profesional mereka. Tantangannya bukan sekadar mengajarkan kemampuan baru, tetapi menemukan jalur karier yang benar-benar masuk akal.
Uang untuk AI Jauh Lebih Besar daripada Uang untuk Pekerja
Pemerintahan Donald Trump melalui One Big Beautiful Bill Act memperluas akses Pell Grant untuk program pelatihan karier berdurasi delapan hingga 15 minggu.
Congressional Budget Office memperkirakan kebijakan tersebut hanya akan menjangkau sekitar 100 ribu penerima tambahan setiap tahun hingga 2034, dengan nilai bantuan rata-rata sekitar US$2.200 per orang.
Sebagai perbandingan, program Pell Grant untuk pendidikan sarjana menyalurkan hampir US$40 miliar setiap tahun.
Dukungan dari perusahaan AI juga mulai muncul. Anthropic mengalokasikan US$200 juta untuk riset, hibah, dan berbagai eksperimen yang bertujuan membantu pekerja menghadapi disrupsi AI. OpenAI Foundation mengumumkan komitmen serupa senilai US$250 juta.
Namun skalanya masih sangat kecil dibanding investasi untuk mengembangkan AI itu sendiri. OpenAI diperkirakan akan menghabiskan dana sekitar 3.000 kali lebih besar untuk komputasi hingga 2030 dibanding dana yang dialokasikan guna membantu pekerja beradaptasi dengan perubahan tersebut.
Di sinilah kontrasnya, perkembangan teknologi bergerak sangat cepat, sementara investasi untuk menyiapkan manusianya masih berjalan jauh lebih lambat
(mae/mae)