Kontrak Lockheed Rp969 T, JPMorgan Soroti Ketergantungan AS ke China
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang dapat berlangsung dalam hitungan hari, tetapi dampaknya terhadap industri pertahanan bisa berjalan selama bertahun-tahun. Sesudah amunisi digunakan di medan perang, muncul kebutuhan untuk mengisi kembali persediaan, memperbesar kapasitas pabrik, dan mengamankan bahan baku.
Sinyal terbaru datang dari Amerika Serikat. Lockheed Martin memperoleh modifikasi kontrak senilai US$53,86 miliar atau sekitar Rp969,5 triliun untuk meningkatkan produksi rudal pencegat Patriot Advanced Capability-3 Missile Segment Enhancement atau PAC-3 MSE.
Modifikasi tersebut mengubah kontrak satu tahun menjadi pengadaan multiyear selama tujuh tahun. Setelah penambahan itu, total nilai kumulatif kontrak PAC-3 Lockheed Martin mencapai US$58,62 miliar atau sekitar Rp1.055,2 triliun. Perhitungan menggunakan asumsi kurs Rp18.000/US$.
Kontrak mencakup perangkat keras, peralatan, dan seluruh aktivitas manufaktur yang dibutuhkan untuk meningkatkan produksi. Pekerjaan diperkirakan berlangsung hingga Maret 2035 di berbagai fasilitas Lockheed Martin dan jaringan pemasoknya di Amerika Serikat.
Namun, angka tersebut bukan pembayaran tunai yang langsung diterima Lockheed Martin. Otoritas pertahanan AS menyatakan belum ada dana yang diwajibkan ketika modifikasi diumumkan. Nominalnya lebih tepat dibaca sebagai plafon dan visibilitas pengadaan jangka panjang.
Nilai modifikasi terbaru mencapai sekitar 92% dari total kontrak. Bagi Lockheed Martin, pengadaan multiyear memberi kepastian untuk memperluas fasilitas, menambah mesin, mempertahankan pekerja terampil, serta mengamankan kontrak dengan pemasok komponen dan material.
Dari 96 Jam Menjadi Pesanan Bertahun-tahun
Besarnya kontrak Lockheed menjadi semakin relevan ketika disandingkan dengan laporan J.P. Morgan bertajuk Pandora's Bog: The Global Energy Shock of 2026.
J.P. Morgan menggunakan perang Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026 untuk menggambarkan cepatnya konsumsi amunisi dalam konflik berintensitas tinggi. Laporan itu mengestimasi mineral kritis yang tertanam dalam berbagai amunisi yang digunakan AS selama 96 jam pertama perang.
Amonium perklorat mencatat volume terbesar, mencapai 124.040 kilogram. Material tersebut merupakan bahan penting dalam propelan roket berbahan bakar padat. Untuk kelompok logam, tungsten menjadi yang terbesar dengan penggunaan 11.444 kilogram, disusul kobalt sebanyak 2.197 kilogram.
Secara persentase, angka tersebut memang relatif kecil dibandingkan konsumsi tahunan AS. Namun, risiko industri pertahanan tidak hanya ditentukan oleh tonase. Konsentrasi pemasok, kapasitas pemurnian, kemurnian produk, dan sulitnya substitusi juga menentukan keamanan pasokan.
China Jadi Titik Rawan
J.P. Morgan mencatat AS masih bergantung pada impor untuk sejumlah mineral strategis. Posisi China paling menonjol pada kelompok logam tanah jarang yang digunakan dalam magnet, motor, aktuator, sensor, dan perangkat elektronik berkinerja tinggi.
China memasok neodimium, samarium, dan disprosium dalam jumlah yang masing-masing setara sekitar 48% konsumsi tahunan AS. China juga menyumbang tantalum setara 22% konsumsi AS, galium 18%, tungsten 13%, dan germanium 12%.
Ketergantungan tersebut menjadi titik rawan ketika Washington ingin memperbesar produksi persenjataan. Lockheed mungkin mempunyai kontrak sampai 2035, tetapi produksi tidak dapat meningkat hanya dengan menambah mesin dan pekerja. Perusahaan juga membutuhkan material khusus dalam jumlah, kualitas, dan waktu yang tepat.
Kontrak Besar Belum Tentu Langsung Jadi Laba
Data J.P. Morgan bukan daftar material khusus PAC-3, melainkan estimasi agregat berbagai persenjataan yang digunakan AS. Hubungannya dengan kontrak Lockheed bersifat kualitatif: penggunaan amunisi mengurangi persediaan, pengisian kembali mendorong kontrak produksi, kemudian kontrak mengalirkan permintaan kepada pemasok material dan komponen.
Bagi Lockheed Martin, kontrak multiyear memberikan visibilitas bisnis, tetapi juga membawa risiko eksekusi. Perusahaan harus meningkatkan produksi sambil menjaga kualitas, jadwal pengiriman, dan margin.
Risikonya semakin penting karena kontrak menggunakan struktur firm-fixed-price. Kenaikan biaya tenaga kerja, energi, material, atau komponen yang melampaui perhitungan awal belum tentu dapat langsung diteruskan kepada pemerintah.
Investor karena itu perlu memantau dana yang benar-benar diwajibkan pemerintah, pertumbuhan backlog, kapasitas produksi, volume pengiriman, dan perkembangan margin Lockheed Martin.
Dari Perang Menuju Siklus Industri
Kontrak PAC-3 memperlihatkan bahwa dampak ekonomi perang dapat bertahan jauh lebih lama dibandingkan pertempurannya. Dalam 96 jam, militer menggunakan material yang tertanam dalam amunisi. Setelah itu, industri membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengganti persediaan dan memperbesar kapasitas.
Pesan J.P. Morgan bukan bahwa seluruh harga logam otomatis melonjak akibat perang. Pesannya lebih tajam: material dalam jumlah kecil dapat menjadi sangat strategis ketika sulit diproduksi, sulit digantikan, dan hanya tersedia dari sedikit pemasok.
Dengan demikian, kontrak Lockheed Martin bukan hanya kontrak pembelian rudal. Kontrak tersebut sekaligus menjadi ujian terhadap kemampuan AS memperbesar industri pertahanannya tanpa tersandera rantai pasok mineral global.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)