MARKET DATA

Mata Uang Asia Berpesta Pekan Ini, Tapi Rupiah Justru Terpuruk

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
01 August 2026 10:53
U.S. dollar, Euro, Yen, Pound, Turkish Lira, Yuan banknotes are seen in this illustration taken March 24, 2026. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration
Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir Juli. Namun, penguatan tersebut belum mampu menutup pelemahan yang terjadi sepanjang pekan dan bulan lalu.

Dilansir dari Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,47% ke posisi Rp17.990/US$ pada perdagangan Jumat (31/7/2026).

Kendati menguat cukup tajam pada perdagangan terakhir, rupiah masih melemah 0,31% dalam sepekan. Kinerja tersebut menjadi yang terburuk dibandingkan mata uang Asia lainnya. Tekanan yang dialami rupiah semakin mencolok karena indeks dolar AS justru jatuh 1,53% sepanjang pekan ke posisi 99,914.

Jika ditarik lebih panjang, rupiah terdepresiasi 0,64% sepanjang Juli. Mata uang Garuda sempat kembali berada diatas level Rp18.000/US$ ditengah pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memunculkan kekhawatiran mengenai transisi kepemimpinan dan independensi bank sentral.

Perry diumumkan mundur dari kursi jabatannya pada Senin (27/7/2026) dengan alasan pribadi. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti kemudian ditunjuk sebagai pejabat sementara Gubernur BI sampai pengganti definitif ditetapkan.

Selain itu, pelemahan rupiah juga terjadi ditengah lonjakan harga minyak dunia. Sepanjang Juli, harga Brent melonjak 23,59%, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) terbang 21,83%. Indonesia sebagai negara pengimpor minyak menghadapi kebutuhan dolar lebih besar ketika harga energi meningkat.

Pergerakan rupiah sayangnya harus bergerak terbalik dibandingkan performa mata uang Asia lainnya pada pekan terakhir Juli ini. Dari 10 mata uang, sembilan berhasil menguat dan hanya rupiah yang berakhir di zona merah.

Yen menjadi mata uang dengan penguatan terbesar setelah melesat 3,83% dalam sepekan. Yen berakhir di posisi JPY157,57 per dolar AS setelah pada pekan sebelumnya sempat mendekati level JPY164, posisi terlemah dalam sekitar empat dekade.

Lonjakan yen terutama dipicu oleh intervensi pemerintah Jepang dengan membeli yen dan menjual dolar pada Kamis (30/7/2026). Data Bank of Japan menunjukkan nilai intervensi tersebut berpotensi mencapai US$58,97 miliar atau sekitar 8,2 triliun yen.

Aksi itu membuat dolar sempat jatuh sekitar 3% terhadap yen dalam sehari. Volume perdagangan yen juga melonjak karena pelaku pasar menutup posisi yang sebelumnya dibangun untuk mengambil keuntungan dari pelemahan mata uang Jepang.

Penguatan yen berlanjut setelah Amerika Serikat ikut memberikan dukungan dengan pembelian yen oleh Federal Reserve Bank of New York atas nama Departemen Keuangan AS pada Jumat kemarin.

Langkah tersebut menjadi intervensi pertama AS untuk mendukung yen sejak 2011. Sebelumnya, Departemen Keuangan AS telah meminta sejumlah bank bersiap menghadapi kemungkinan tindakan di pasar valuta asing.

Won Korea menyusul dengan penguatan 1,17%. Otoritas Korea Selatan juga dilaporkan menjual dolar bersamaan dengan intervensi Jepang pada Kamis. Won sempat melesat 2% dan menyentuh posisi tertinggi dalam sembilan bulan sebelum memangkas kenaikannya.

Penguatan juga dicatat baht Thailand sebesar 0,80%, peso Filipina 0,74%, dan dolar Singapura 0,64%. Yuan China naik 0,31%, disusul dong Vietnam 0,13%, ringgit Malaysia 0,12%, serta dolar Taiwan 0,08%.

Menguatnya hampir seluruh mata uang Asia setelah mendapat angin segar dari melemahnya dolar AS. Indeks dolar jatuh setelah The Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada rentang 3,50%-3,75% dalam rapat 28-29 Juli 2026.

Keputusan tersebut sebenarnya masih disertai sinyal kebijakan yang lebih ketat. Tiga dari 12 anggota Federal Open Market Committee memilih menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Ketua The Fed Kevin Warsh juga menegaskan komitmennya membawa inflasi menuju target 2%. Namun, ia tidak memberikan petunjuk jelas mengenai waktu kenaikan suku bunga berikutnya sehingga pasar mengurangi taruhan terhadap kenaikan bunga pada September.

Dolar semakin tertekan setelah indeks harga Personal Consumption Expenditures AS turun 0,1% secara bulanan pada Juni. Inflasi yang lebih rendah mengurangi kebutuhan The Fed untuk segera menaikkan suku bunga dan memberi ruang bagi mata uang Asia untuk menguat.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular