MARKET DATA
POLLING CNBC INDONESIA

Besok Ada Pengumuman Penting, Semoga Membawa Kabar Baik

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
02 August 2026 16:00
Pantauan harga pangan di Pasar Rumput, Jakarta Selatan, Selasa (21/7/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Foto: Pantauan harga pangan di Pasar Rumput, Jakarta Selatan, Selasa (21/7/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Inflasi Indonesia diperkirakan melandai pada Juli 2026 seiring meredanya tekanan harga pangan dan energi. 

Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan akan mengumumkan data inflasi Juli 2026 besok Senin (3/8/2026).

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 institusi memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi sebesar 0,11% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Juli 2026.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi diperkirakan mencapai 3,2%. Sementara itu, inflasi inti diproyeksikan berada di level 2,77% (yoy).

Sebelumnya, pada rilis BPS terakhir, Indonesia mencatat inflasi sebesar 0,44% (mtm) dan 3,34% (yoy). Inflasi inti tercatat sebesar 2,76% (yoy), sedangkan kelompok harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi 1,41% (mtm).

Hasil polling tersebut menunjukkan inflasi umum diperkirakan melandai secara bulanan maupun tahunan pada Juli. Berbeda dengan inflasi umum, inflasi inti diproyeksikan naik tipis dari bulan sebelumnya.

Meredanya tekanan inflasi terutama ditopang oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan. Tim Office of Chief Economist Bank Mandiri memperkirakan kelompok volatile food mengalami deflasi 1,12% (mtm), berbalik dari inflasi 0,14% pada Juni.

"Kami memperkirakan harga volatile food turun 1,12% secara bulanan, terutama didorong oleh penurunan harga cabai merah dan bawang merah setelah memasuki puncak musim panen," tulis Tim Office of Chief Economist Bank Mandiri.

Pergerakan tersebut terlihat dalam data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN). Rata-rata harga cabai rawit merah selama Juli turun 21,12% menjadi Rp58.089 per kilogram dari Rp73.643 per kilogram pada Juni, serta rata-rata harga bawang merah turun 17,28%, dari Rp53.189 per kilogram menjadi Rp44.000 per kilogram pada Juli.

Rata-rata harga cabai merah besar juga merosot 17,43%, dari Rp59.400 menjadi Rp49.048 per kilogram. Penurunan kedua komoditas tersebut ikut menahan tekanan inflasi pangan.

Meski demikian, perbaikan harga pangan belum terjadi secara merata. Musim kemarau juga masih menjadi risiko terhadap pasokan dan harga pangan dalam beberapa waktu ke depan.

Data PIHPSN menunjukkan rata-rata harga bawang putih selama Juli naik 3,64% menjadi Rp43.411 per kilogram. Harga daging ayam meningkat 2,03% menjadi Rp38.207 per kilogram, sedangkan beras naik 0,68% menjadi Rp16.183 per kilogram.

Selain pangan, meredanya tekanan harga energi turut membuka ruang bagi inflasi untuk melandai. Setelah kenaikan tajam Pertamax dan Pertamax Green pada Juni, Pertamina menurunkan harga sejumlah BBM non-subsidi mulai 1 Juli 2026.

Di DKI Jakarta, harga Pertamax Turbo RON 98 turun dari Rp20.750 menjadi Rp19.300 per liter. Harga Dexlite juga turun dari Rp23.000 menjadi Rp19.700 per liter, sedangkan Pertamina Dex turun dari Rp24.800 menjadi Rp21.150 per liter.

Sementara itu, harga Pertamax RON 92 tetap sebesar Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 bertahan di Rp17.000 per liter.

Harga BBM subsidi juga tidak berubah. Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter, sedangkan Solar subsidi bertahan di Rp6.800 per liter. Penurunan sejumlah BBM non-subsidi tersebut membantu mengurangi tekanan harga pada kelompok transportasi selama Juli.

Di sisi lain, tekanan inflasi inti masih bertahan. Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang menilai dampak penyesuaian harga energi dan tarif transportasi pada bulan sebelumnya masih berlanjut. Pelemahan rupiah serta kenaikan biaya produksi juga mulai merambat ke harga barang dan jasa.

"Inflasi inti diperkirakan meningkat bertahap seiring masih berlangsungnya pass-through pelemahan rupiah dan kenaikan biaya input ke harga barang dan jasa," ujar Hosianna kepada CNBC Indonesia.

Tekanan serupa disampaikan Ekonom Bank Maybank Indonesia Juniman. Dia memperkirakan inflasi Juli mencapai 0,20% (mtm) dan 3,23% (yoy), terutama dipengaruhi harga pangan dan kenaikan biaya pendidikan pada awal tahun ajaran baru.

"Inflasi Juli terutama didorong oleh kenaikan harga pangan seperti beras, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, telur, dan kedelai. Selain itu, biaya pendidikan meningkat sejalan dengan dimulainya tahun ajaran baru," ujar Juniman.

Pelemahan rupiah juga dinilai meningkatkan imported inflation yang terlihat pada kenaikan harga barang elektronik, mobil, dan sepeda motor. Sebaliknya, penurunan harga emas dunia diperkirakan membantu menekan harga emas perhiasan.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular