MARKET DATA

Bukan Emas atau Minyak, Trump Kini Berburu Sampah Demi Kalahkan China

mae,  CNBC Indonesia
31 July 2026 13:40
Presiden AS Donald Trump berpartisipasi dalam acara-acara di Balai Agung Rakyat dan melakukan salam dengan Presiden Republik Rakyat China Xi Jinping pada 14 Mei 2026, di Beijing, China, selama kunjungan yang berfokus pada perdagangan, keamanan region
Foto: Presiden AS Donald Trump berpartisipasi dalam acara-acara di Balai Agung Rakyat dan melakukan salam dengan Presiden Republik Rakyat China Xi Jinping pada 14 Mei 2026, di Beijing, China, selama kunjungan yang berfokus pada perdagangan, keamanan regional, dan penguatan hubungan bilateral antara dua ekonomi terbesar di dunia. (via REUTERS/Kenny Holston)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang memungkinkan pembatasan ekspor limbah industri tertentu.

Langkah ini adalah upaya mempertahankan pasokan mineral kritis dan logam tanah jarang (LTJ) di dalam negeri.

Kebijakan baru ini juga menjadi bagian dari upaya Washington untuk mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok mineral yang didominasi China serta memperkuat keamanan pasokan bahan baku strategis bagi industri dan pertahanan AS.

Melalui perintah tersebut, pemerintah AS dapat membatasi pengiriman limbah industri dan limbah elektronik yang masih mengandung mineral bernilai tinggi ke luar negeri.

Material yang ditargetkan antara lain baterai bekas, black mass hasil daur ulang baterai, tungsten, serta berbagai komponen elektronik yang mengandung mineral kritis dan unsur tanah jarang.

Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan pasokan bahan baku bagi industri daur ulang domestik, sekaligus membantu AS memperoleh kembali mineral strategis tanpa harus membuka banyak tambang baru.

Kebijakan tersebut juga merupakan bagian dari rangkaian langkah pemerintahan Trump untuk memperkuat ketahanan rantai pasok mineral nasional di tengah persaingan ekonomi dan teknologi yang semakin ketat dengan China.

Pemerintah AS berharap material tersebut, terutama tungsten dan serpihan baterai yang dikenal sebagai black mass, dapat dialihkan ke fasilitas daur ulang dalam negeri.

Berdasarkan data organisasi lingkungan Basel Action Network, AS mengekspor hampir 33.000 ton metrik limbah elektronik setiap bulan. Sebagian besar limbah itu mengandung lithium dan mineral kritis lain yang sebenarnya masih dapat didaur ulang.

 

Ekspor limbah elektronik selama ini menjadi keluhan industri daur ulang AS.

Mereka berpendapat bahwa mempertahankan material tersebut di dalam negeri dapat membantu Washington mencapai target produksi mineral kritis sekaligus mengurangi kebutuhan pembukaan tambang baru yang sering mendapat penolakan masyarakat.

Pemerintahan Trump juga menerima banyak keluhan dari perusahaan daur ulang yang menilai mereka sulit bersaing dengan pembeli global yang berani membayar harga di atas pasar untuk limbah bernilai tinggi tersebut.

Dalam 18 bulan terakhir, sejumlah perusahaan daur ulang Amerika Utara menghadapi tekanan keuangan.

 

Li-Cycle dan Ascend Elements bahkan telah mengajukan kebangkrutan. Namun beberapa proyek baru masih berjalan, termasuk pembangunan fasilitas daur ulang baterai oleh Blue Whale Materials dan dua perusahaan lainnya di Oklahoma.

China saat ini menguasai sebagian besar produksi mineral kritis dunia. Menurut Survei Geologi AS (USGS), Amerika masih bergantung pada China untuk lebih dari selusin mineral strategis yang dianggap vital.

Meski memiliki cadangan mineral kritis dalam berbagai produk jadi seperti baterai lithium-ion dan magnet, AS tetap sangat bergantung pada impor bahan baku mineral.

Daur Ulang Jadi Jalan Pintas AS

China selama ini menggunakan dominasinya di pasar mineral sebagai alat tekanan ekonomi, termasuk dengan membatasi ekspor logam tanah jarang dan mineral lainnya saat hubungan dagang dengan Washington memanas.

Karena pembangunan tambang dan fasilitas pengolahan membutuhkan waktu bertahun-tahun, pemerintahan Trump kini memilih solusi yang lebih cepat, yakni mengamankan mineral yang sudah berada di dalam negeri sebelum diekspor ke luar negeri.

Survei yang dirilis bulan ini oleh perusahaan daur ulang Cirba Solutions menunjukkan sekitar 84% warga Amerika akan lebih terdorong mendaur ulang perangkat elektronik lama mereka jika mengetahui langkah tersebut dapat mengurangi ketergantungan AS terhadap pasokan mineral asing.

Tekanan juga datang dari sektor pertahanan dan manufaktur. Berdasarkan regulasi federal, mulai 1 Januari 2027 perusahaan-perusahaan AS harus menghentikan pembelian mineral dari China.

Tungsten Jadi Sorotan

Kekhawatiran terbesar muncul pada tungsten. AS tidak lagi memiliki produksi komersial tungsten sejak 2015, sementara pasokan global logam tersebut masih didominasi China.

Sebagai catatan, tungsten merupakan logam strategis yang menjadi tulang punggung industri pertahanan dan teknologi tinggi dunia.

Dengan titik leleh tertinggi di antara seluruh logam, tungsten digunakan dalam berbagai produk mulai dari amunisi, mesin industri, hingga semikonduktor. Dominasi China dalam rantai pasok tungsten global juga membuat komoditas ini semakin sering disebut sebagai "nikel versi industri pertahanan" karena perannya yang sangat vital bagi keamanan dan manufaktur modern.

Tungsten is illuminated with mineral light in a mine in Gangwon Province, South Korea, March 31, 2022. Picture taken March 31, 2022. REUTERS/ Heo RanTungsten is illuminated with mineral light in a mine in Gangwon Province, South Korea, March 31, 2022. Picture taken March 31, 2022. REUTERS/ Heo Ran Foto: REUTERS/HEO RAN

 

Akibatnya, limbah dan barang bekas menjadi salah satu sumber domestik utama tungsten di AS. Logam ini sangat penting karena digunakan dalam amunisi dan berbagai sistem persenjataan.

Perusahaan daur ulang Amermin dalam surat kepada Menteri Perdagangan Howard Lutnick pada Maret lalu menyebut ekspor tungsten sebagai "risiko yang tidak dapat diterima bagi kesiapan industri dan militer Amerika."

Perintah terbaru Trump ini melanjutkan serangkaian kebijakan sepanjang tahun yang bertujuan mengurangi ketergantungan AS terhadap rantai pasok mineral yang dikuasai China.

Pada Januari lalu, Trump juga mengeluarkan deklarasi setelah penyelidikan perdagangan menemukan bahwa impor mineral kritis olahan dan produk turunannya berpotensi mengancam keamanan nasional AS.

Menurut Rho Motion, perusahaan riset yang fokus pada pasar kendaraan listrik dan baterai, China menguasai lebih dari 80% pasar daur ulang baterai bekas dunia pada tahun lalu. Bahkan, pasar pemurnian black mass dikuasai perusahaan China hingga lebih dari 89%.

Blackmass merupakan material hasil penghancuran baterai bekas yang mengandung lithium, nikel, kobalt, dan mineral penting lainnya.

Setelah menguasai lebih dari 80% pasar produksi baterai global, China kini juga hampir memonopoli sektor daur ulang baterai.

Pada tahun lalu, China menghasilkan sekitar 3,6 juta ton baterai bekas, jauh melampaui gabungan wilayah Asia lainnya seperti Korea Selatan dan Jepang (360.000 ton), Eropa (410.000 ton), serta Amerika Utara (190.000 ton).

Pemerintah China juga memperketat regulasi daur ulang baterai bekas pada tahun ini. Menurut media bisnis China Caixin, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China mulai April lalu mewajibkan standarisasi dan daur ulang baterai kendaraan listrik oleh para produsen baterai.

Selain itu, pemerintah China memberikan subsidi besar kepada perusahaan daur ulang untuk memperkuat pasokan mineral kritis melalui pemanfaatan baterai bekas.

Pasar Daur Ulang Baterai Diproyeksi Meledak

Fokus China pada daur ulang baterai didorong oleh prospek pertumbuhan pasar yang sangat besar seiring meningkatnya penggunaan baterai pada kendaraan listrik dan robot canggih.

Berdasarkan data perusahaan riset energi SNE Research, nilai pasar daur ulang baterai bekas global mencapai sekitar US$20,7 miliar pada tahun lalu dan tumbuh rata-rata lebih dari 17% per tahun. Nilai pasar tersebut diperkirakan melonjak menjadi sekitar US$208,9 miliar pada 2040.

Dengan pertumbuhan tersebut, baterai bekas kini dipandang bukan lagi sebagai limbah, melainkan sebagai sumber strategis mineral kritis yang semakin penting dalam persaingan industri dan teknologi global.

Mirip RI
Larangan ekspor tak hanya dilakukan Indonesia. 

Dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Perubahan Keempat atas Permendag Nomor 22 Tahun 2023 tentang Barang yang Dilarang untuk Diekspor, pemerintah memasukkan logam tanah jarang (LTJ) ke dalam daftar barang yang dilarang diekspor.

Ketentuan tersebut tercantum dalam Lampiran Bidang Pertambangan pada butir 257, yang menyebutkan Logam tanah jarang dengan total 17 unsur yang terkandung dalam tanah dengan tingkat kemurnian di bawah 99%. Dalam lampiran tersebut, pemerintah merinci 17 unsur logam tanah jarang yang dimaksud, yakni:

1. Skandium dengan kadar di bawah 99%

2. Itrium dengan kadar di bawah 99%

3. Lantanum dengan kadar di bawah 99%

4. Serium dengan kadar di bawah 99%

5. Praseodimium dengan kadar di bawah 99%

6. Neodimium dengan kadar di bawah 99%

7. Prometium dengan kadar di bawah 99%

8. Samarium dengan kadar di bawah 99%

9. Europium dengan kadar di bawah 99%

10. Gadolinium dengan kadar di bawah 99%

11. Terbium dengan kadar di bawah 99%

12. Disprosium dengan kadar di bawah 99%

13. Holmium dengan kadar di bawah 99%

14. Erbium dengan kadar di bawah 99%

15. Tulium dengan kadar di bawah 99%

16. Iterbium dengan kadar di bawah 99%

17. Lutesium dengan kadar di bawah 99%

Selain itu, pemerintah juga memasukkan telurium dioksida (TeO2) dengan kadar di bawah 98% TeO2 ke dalam daftar barang yang dilarang diekspor. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah mendorong hilirisasi mineral.

(mae/mae)



Most Popular