Harga Batu Bara Rontok, Biang Keroknya Ternyata Rumit
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melemah di tengah banyaknya sentiment negatif.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Senin (27/7/2026) ditutup di US$ 132,5 per ton, Harganya ambruk 2,14%.
Harga ini adalah yang terendah dalam enam hari terakhir.
Pelemahan harga batu bara disebabkan banyak sentimen, terutama harga minyak. Minyak dan batu bara adalah komoditas substitusi sehingga harganya saling memengaruhi.
Pada Senin, kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman September turun 8,7% menjadi US$88,36 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 7,5% dan ditutup di US$82,61 per barel.
Batu Bara Kokas (Metalurgi) Kembali Tertekan
Pasar batu bara metalurgi kembali tertekan. Pelemahan dipicu oleh lesunya permintaan baja global, ambruknya harga minyak, melimpahnya pasokan batu bara kokas Australia, serta berbaliknya tren kenaikan harga kokas di China. Kondisi ini membuat posisi tawar beralih dari penjual ke pembeli.
Dikutip dari Bigmint, harga premium hard coking coal (PHCC) memang sudah turun ke level yang mulai menarik minat pembeli dari India dan China.
Namun, transaksi yang terjadi lebih bersifat pembelian oportunistis untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek, bukan awal dari siklus restocking besar-besaran.
Â
Di sisi lain, produsen baja masih menghadapi tekanan akibat harga baja yang melemah, persediaan baja yang tinggi, serta margin keuntungan yang semakin tipis. Para trader juga masih berupaya melepas muatan batu bara yang belum terjual.
Harga Batu bara Australia Terus Turun
Harga premium low-vol hard coking coal Australia turun ke sekitar US$222 per ton FOB pada Jumat lalu (24/7/2026) sementara harga di China berada di kisaran US$240 per ton.
Koreksi berlangsung cepat karena pasokan pengiriman Agustus-September jauh lebih besar dibandingkan permintaan. Dalam waktu lebih dari sepekan, harga turun dari sekitar US$229 menjadi US$223-224 per ton FOB.
Bahkan, pada akhir pekan sejumlah merek premium sudah ditawarkan di kisaran US$219-220 per ton FOB. Apabila pembelian dari China tidak meningkat atau pasokan Australia tetap melimpah, harga berpotensi turun hingga US$218 per ton FOB.
China Mulai Membeli, Tapi Belum Pulihkan Permintaan
China tetap menjadi pembeli utama yang menentukan arah pasar.
Impor batu bara metalurgi China pada Juni naik 9% dibandingkan Mei menjadi 12,17 juta ton. Mongolia masih menjadi pemasok terbesar dengan 7,18 juta ton, disusul Rusia 3,17 juta ton, sementara impor dari Australia hampir dua kali lipat menjadi 1,3 juta ton.
Sepanjang semester I 2026, impor mencapai 66,87 juta ton, melonjak 26,6% dibandingkan tahun lalu.
Â
Meski demikian, pembelian dari China masih sangat selektif. Penurunan harga kokas domestik, produksi baja yang dikurangi, serta stok batu bara impor yang masih tinggi di pelabuhan membuat pabrik baja enggan membeli kontrak baru.
India Juga Mengurangi Impor
India juga belum mampu menjadi penopang pasar. Impor batu bara kokas India pada Juni 2026 turun 25% menjadi 5,6 juta ton dari 7,5 juta ton pada Mei 2026.
Penurunan terjadi karena permintaan baja domestik melemah, harga baja turun, serta kondisi likuiditas yang lebih ketat. Sebagian besar pabrik baja hanya membeli sesuai kebutuhan jangka pendek.
Meski ada transaksi pembelian sekitar 40.000 ton batu bara Goonyella/Moranbah North di harga US$224 per ton FOB, pasar menilai sebagian besar pabrik masih menunggu harga turun lebih jauh.
Setelah sembilan kali kenaikan berturut-turut, produsen baja China akhirnya memangkas harga kokas sebesar CNY50-55 per ton pada Rabu pekan lalu (22/7/2026).
Pasar memperkirakan masih akan ada satu hingga dua kali penurunan harga lagi karena pabrik baja berupaya menekan biaya produksi.
Â
Produksi besi cair (hot metal) di China juga turun untuk pekan ketiga berturut-turut menjadi sekitar 2,38 juta ton per hari, sementara stok baja terus meningkat. Kondisi ini membuat permintaan bahan baku semakin lemah.
Bagaimana ke Depan?
Pelaku pasar memperkirakan harga premium hard coking coal Australia masih berpotensi turun di bawah US$220 per ton FOB.
Permintaan dari China dan India diperkirakan hanya mampu memperlambat penurunan, bukan membalikkan tren, selama permintaan baja global belum pulih.
Sementara itu, harga kokas juga masih menghadapi tekanan akibat upaya pabrik baja China memangkas biaya produksi.
Secara keseluruhan, pasar batu bara metalurgi saat ini masih dibayangi tingginya persediaan, lemahnya margin industri baja, dan minimnya pertumbuhan permintaan, sehingga risiko pelemahan harga masih cukup besar dalam jangka pendek.
Bagaimana dengan Batu Bara Termal?
Harga batu bara termal di mulut tambang di China bergerak berbeda-beda karena persediaan batu bara yang tinggi memengaruhi perilaku pembeli dan produsen.
Harga batu bara di mulut tambang bergerak beragam. Sebagian tambang masih menaikkan harga karena pasokan spot terbatas, tetapi tambang lain justru menurunkan harga akibat stok yang menumpuk dan penjualan melambat.
Persediaan di pembangkit listrik, pelabuhan, dan area tambang masih melimpah sehingga pembeli tidak terburu-buru melakukan pembelian baru. Akibatnya, permintaan di pasar spot tetap lemah.
Permintaan listrik juga belum cukup kuat. Meskipun beberapa wilayah mulai memasuki musim panas, konsumsi batu bara pembangkit masih berada di bawah tahun lalu sehingga kebutuhan pembelian batu bara tidak meningkat signifikan.
(mae/mae) Addsource on Google