Harga Batu Bara Turun Usai Pesta 5 Hari, India Krisis Pasokan
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melemah meski ditopang banyak sentiment positif.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$ 134,5 per ton pada perdagangan Kamis (23/7/2026). Harganya turun 0,77%
Pelemahan ini memutus tren positifnya di mana harga batu bara menguat 3,9% dalam lima hari sebelumnya.
Harga batu bara melemah meski harga minyak terbang dan menembus U$100 per barel.
Harganya juga jatuh meski banyak kabar yang bisa menopang harga, termasuk krisis pasokan di India
India Hadapi Krisis Listrik?
India menghadapi tekanan pasokan batu bara di tengah lonjakan permintaan listrik. Hingga pertengahan Juli 2026, stok batu bara di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) hanya cukup untuk sekitar 13 hari operasi, jauh di bawah norma ideal sekitar 26 hari.
Sejumlah faktor menyebabkan cadangan batu bara menyusut. Di antaranya permintaan listrik melonjak akibat cuaca yang lebih panas karena fenomena El Niño, sehingga penggunaan pendingin ruangan meningkat.
Faktor lain adalah produksi listrik dari PLTA dan pembangkit angin terganggu karena curah hujan yang lebih rendah dari biasanya.
Akibatnya, pembangkit berbahan bakar batu bara harus beroperasi lebih intensif untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional.
Persediaan batu bara di PLTU mencapai sekitar 41 juta ton, cukup untuk sekitar 13 hari operasi. Level ini di bawah normal.
Untuk mempertahankan tingkat pembangkitan saat ini, pembangkit di India membutuhkan sekitar 3,1 juta ton batu bara setiap hari.
Di sisi lain, tambang milik Coal India Ltd. masih memiliki sekitar 152 juta ton persediaan batu bara yang dapat disalurkan ke pembangkit.
Permintaan listrik India melonjak hingga sekitar 270 gigawatt (GW) pada pertengahan Juli, mendekati rekor tertinggi sepanjang masa sebesar 270,2 GW yang tercatat pada Mei. Pemerintah memperkirakan beban puncak listrik dapat mencapai 280 GW tahun ini apabila musim hujan tetap lemah.
Pemerintah India menegaskan pasokan batu bara masih terkendali meski stok di pembangkit menurun. Kementerian Batu Bara, Kementerian Energi, dan Kementerian Perkeretaapian meningkatkan koordinasi untuk memastikan distribusi batu bara ke PLTU tetap lancar dan mencegah gangguan pasokan listrik.
Meski India terus mengembangkan energi terbarukan, batu bara masih menjadi sumber utama listrik nasional.
Pada periode April-Juni 2026, pembangkit berbahan bakar batu bara dan lignit menyumbang sekitar 69,5% pasokan listrik, dan saat beban puncak malam hari kontribusinya mencapai sekitar 75%. Untuk menjaga keandalan sistem, India juga menambah 9,47 GW kapasitas PLTU pada 2025-2026 serta 2,26 GW lagi antara April-Juli 2026.
Trump Hidupkan Batu Bara
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menggelontorkan US$700 juta untuk menghidupkan kembali industri batu bara di tengah lonjakan harga energi pascaperang Iran. Pendanaan tersebut menggunakan Defense Production Act, undang-undang era Perang Dingin yang memberi presiden kewenangan mendukung industri strategis.
"Hari ini kami mengambil langkah bersejarah untuk menurunkan harga energi dan biaya hidup rakyat Amerika melalui kekuatan batu bara," kata Trump, dikutip dari BBC.
Dari total investasi, US$500 juta dialokasikan untuk mempertahankan operasional 14 PLTU, 42 tambang batu bara, serta membangun terminal ekspor baru di California.
Sementara itu, US$200 juta lainnya digunakan untuk membangun dua PLTU baru di Alaska dan West Virginia, yang menjadi proyek PLTU pertama di AS sejak 2013.
Trump mengklaim investasi ini akan menciptakan sekitar 14.000 lapangan kerja dan menghemat biaya pembangkitan listrik hingga US$50 miliar bagi konsumen AS.
Langkah tersebut diambil setelah perang Iran dan penutupan Selat Hormuz mendorong lonjakan harga energi.
Harga bensin di AS kini mencapai US$4,24 per galon, naik dari US$2,98 saat konflik dimulai. Sementara itu, harga energi yang dibayar konsumen AS melonjak 17,9% secara tahunan hingga April.
Harga China Lesu
Sentimen di pasar batu bara termal pelabuhan utara China kembali melemah karena permintaan masih lesu dan persediaan di pelabuhan tetap tinggi.
Meski demikian, pelaku pasar masih optimistis harga belum akan turun tajam karena pasokan dari wilayah tambang tetap relatif ketat dan biaya pengiriman masih tinggi.
Permintaan di China masih lemah karena pembeli, terutama pembangkit listrik, masih enggan melakukan pembelian spot dalam jumlah besar.
Banyak utilitas memilih menunggu karena stok yang dimiliki masih mencukupi.
Inventori batu bara di pelabuhan utara China tetap tinggi sehingga menjadi tekanan terhadap harga. Kondisi ini membuat sentimen pasar melemah dibanding beberapa hari sebelumnya.
Meski sentimen melemah, pedagang tidak agresif memangkas harga. Analis menilai pasokan dari daerah tambang masih terbatas sehingga harga tetap memiliki penopang.
Pelaku pasar memperkirakan permintaan listrik akan meningkat seiring cuaca panas dan konsumsi pendingin udara pada musim panas.
Kenaikan konsumsi listrik diperkirakan akan mendorong pembelian batu bara dalam beberapa pekan mendatang sehingga harga berpotensi kembali menguat
(mae/mae) Addsource on Google