10 Provinsi dengan Produksi Jagung Terbesar, Jawa vs Indonesia Timur
Jakarta, CNBC Indonesia - Produksi jagung Indonesia mulai menguat memasuki kuartal II-2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi jagung pipilan kering kadar air 14% (JPK-KA14) pada Mei 2026 mencapai 1,18 juta ton, naik 19,79% dibandingkan Mei tahun lalu. Luas panen pada bulan yang sama ikut bertambah menjadi 0,21 juta hektare, atau meningkat 22,04% secara tahunan.
Kenaikan pada Mei menjadi titik balik setelah panen sempat lebih rendah pada Maret dan April.
Namun jika dilihat secara kumulatif, pemulihan tersebut belum mengubah gambaran sepanjang tahun. Hingga Agustus 2026, luas panen nasional diperkirakan mencapai 1,97 juta hektare, turun tipis 0,49% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebaliknya, produksi diperkirakan tetap bertahan di 11,43 juta ton, atau naik sekitar 2.358 ton dibandingkan Januari-Agustus 2025.
Hasil panen nasional relatif terjaga meski luas areal panen sedikit menyusut. Dengan kata lain, tambahan produksi pada beberapa daerah mampu menutup penurunan di wilayah lain.
Â
BPS juga memperkirakan musim panen masih berlanjut. Pada periode Juni-Agustus 2026, potensi luas panen diperkirakan mencapai 0,72 juta hektare, dengan potensi produksi 4,23 juta ton JPK-KA14.
Angka ini memang sedikit lebih rendah dibandingkan potensi pada periode yang sama tahun sebelumnya, sehingga realisasi panen beberapa bulan ke depan akan menjadi penentu arah produksi jagung sepanjang 2026.
Jawa Timur Jadi Pusat Jagung Nasional
Peta produksi jagung Indonesia masih didominasi Pulau Jawa. Jawa Timur mempertahankan posisi sebagai produsen terbesar dengan estimasi produksi 2,81 juta ton JPK-KA14 sepanjang Januari-Agustus 2026. Angka tersebut hampir seperempat produksi nasional.
Posisi berikutnya ditempati Jawa Tengah sebesar 1,60 juta ton, Lampung 1,14 juta ton, Sulawesi Selatan 1,04 juta ton, dan Sumatera Utara 1,03 juta ton. Kelima provinsi ini menjadi tulang punggung pasokan jagung nasional.
Meski tetap memimpin, Jawa Timur dan Jawa Tengah sedang mengalami koreksi dibandingkan tahun lalu. Produksi Jawa Timur berkurang sekitar 211,8 ribu ton, sedangkan Jawa Tengah turun 251,6 ribu ton.
Lampung bergerak ke arah berbeda. Produksi provinsi ini bertambah 247,5 ribu ton, menjadi kenaikan terbesar secara absolut di Indonesia. Sumatera Utara juga mencatat tambahan hampir 80 ribu ton, sedangkan Sulawesi Selatan naik sekitar 16,5 ribu ton.
Luas panen terbesar masih terkonsentrasi
Gambaran yang sama terlihat pada sisi luas panen. Jawa Timur memiliki areal panen terbesar dengan 490.549 hektare, diikuti Jawa Tengah 278.074 hektare, Lampung 174.762 hektare, Sulawesi Selatan 170.733 hektare, dan Sumatera Utara 159.994 hektare.
Â
Namun ada pergeseran yang menarik. Luas panen Jawa Timur turun hampir 39,6 ribu hektare dibandingkan tahun lalu. Jawa Tengah berkurang 38,8 ribu hektare. Di sisi lain, Lampung justru menambah areal panen 36,7 ribu hektare, terbesar di antara seluruh provinsi. Sumatera Selatan dan Jawa Barat juga mencatat penambahan luas panen, meski skalanya lebih kecil.
Perubahan ini mengindikasikan pertumbuhan produksi mulai bergeser ke luar sentra tradisional. Lampung menjadi contoh paling jelas karena kenaikan luas panen berjalan seiring dengan lonjakan produksi.
Selama Januari-Mei 2026, 86,51% luas panen jagung berasal dari panen pipilan. Porsi tersebut meningkat dari 84,24% pada periode yang sama tahun lalu. Sementara luas panen untuk jagung hijauan dan panen muda turun.
Komposisi ini mengarah pada semakin besarnya bagian tanaman yang dipanen hingga fase pipilan, yaitu bentuk yang menjadi bahan baku utama industri pakan ternak.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/emb) Addsource on Google