MARKET DATA

10 Negara yang Jadi Surga Baru Buat Komoditas RI, Ada Suriah

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
22 July 2026 18:30
10 Pelabuhan Paling Sibuk di Dunia,: Asia Gak Ada Lawan
Foto: Infografis/ 10 Pelabuhan Paling Sibuk di Dunia,: Asia Gak Ada Lawan/ Ilham

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai ekspor Indonesia mencapai US$115,36 miliar sepanjang Januari-Mei 2026, naik 3,02% dibanding periode yang sama tahun lalu. Kenaikannya relatif moderat. Namun, komposisi pertumbuhan cukup menarik.

Sejumlah negara tujuan ekspor yang selama ini jarang terdengar justru mencatat lonjakan transaksi sangat tinggi.

Satu Data Kementerian Perdagangan melaporkan Republik Afrika Tengah (Central African Republic) menjadi negara dengan pertumbuhan impor produk Indonesia paling tinggi secara tahunan. Nilai ekspor Indonesia ke negara tersebut mencapai US$0,85 juta, melonjak 376.604,81% dibanding Januari-Mei 2025.

Andorra menempati posisi kedua dengan pertumbuhan 54.392,15%, disusul Chad, Bhutan, dan Jersey.



Hampir seluruh negara di daftar tersebut memiliki basis ekspor yang sangat kecil pada tahun sebelumnya. Ketika transaksi meningkat beberapa ratus ribu hingga beberapa juta dolar AS, persentase pertumbuhannya langsung melonjak tajam.

Romania menjadi pengecualian yang layak mendapat perhatian. Nilai ekspor Indonesia ke negara tersebut sudah mencapai US$499 juta, jauh lebih besar dibanding negara lain dalam daftar. Dengan pertumbuhan hampir 410%, kenaikan ini memiliki dampak yang lebih berarti terhadap total ekspor nasional.

Di sisi lain, daftar komoditas dengan pertumbuhan tercepat juga memperlihatkan pola yang menarik. Sebagian besar berasal dari produk dengan nilai ekspor relatif kecil sehingga pertumbuhan persentasenya sangat tinggi. Misalnya kelompok kulit berbulu dan bulu artifisial (HS 43) yang naik 2.101,71%, serta gabus dan barang dari gabus (HS 45) yang meningkat 2.027,37%.

Meski demikian, kontribusi kedua kelompok tersebut terhadap total ekspor nasional masih sangat terbatas. Nilai ekspornya masing-masing hanya US$0,45 juta dan US$0,25 juta selama lima bulan pertama tahun ini.

Yang lebih penting justru berasal dari kelompok komoditas bernilai besar yang mampu mempertahankan pertumbuhan tinggi. Salah satunya adalah nikel dan barang daripadanya (HS 75).

 

Ekspor kelompok nikel mencapai US$5,41 miliar, naik 60,88% dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka ini memperlihatkan permintaan terhadap produk hilirisasi mineral Indonesia masih kuat, terutama dari industri baterai kendaraan listrik dan logam tahan karat.

Kelompok aluminium dan barang daripadanya (HS 76) juga mencatat perkembangan positif.

Nilai ekspornya mencapai US$1,30 miliar, tumbuh 64,33% secara tahunan. Permintaan aluminium masih ditopang sektor konstruksi, otomotif, kemasan hingga industri manufaktur global.

Produk olahan sayuran, buah, kacang dan bagian tanaman lainnya (HS 20) ikut mencatat pertumbuhan tinggi sebesar 81,27% dengan nilai ekspor hampir US$296 juta. Pertumbuhan tersebut memperlihatkan produk pangan olahan Indonesia mulai memperoleh ruang lebih besar di pasar internasional.

Sementara itu, kelompok logam lainnya (HS 81) meningkat 75,60% menjadi US$172,29 juta.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular