Yen Ambles ke Level Terendah Sejak 1986, Kenapa Jepang Berdarah-darah?
Jakarta, CNBC Indonesia - Yen Jepang kembali terpuruk terhadap dolar Amerika Serikat (AS), bahkan kembali menyentuh posisi terlemah dalam hampir empat dekade.
Berdasarkan data Refinitiv, yen ditutup melemah tajam 0,41% ke posisi JPY163,16/US$ pada Selasa (21/6/2026). Level tersebut menjadi yang terlemah sejak Desember 1986.
Mata uang negeri Matahari Terbit itu masih bergerak di sekitar JPY163,21/US$ pada pagi ini, Rabu (22/7/2026).
Tekanan terhadap yen terjadi ketika dolar AS kembali menguat di pasar global. Kenaikan harga minyak dunia dan imbal hasil obligasi pemerintah AS membuat greenback semakin menarik bagi investor.
Konflik di Timur Tengah yang terus berlanjut juga ikut menopang dolar. Pasukan AS telah memasuki malam ke-11 serangan beruntun terhadap Iran, mendorong investor kembali mencari aset yang dianggap lebih aman.
Dolar biasanya mendapat keuntungan ketika ketidakpastian geopolitik meningkat. Pada saat yang sama, kenaikan harga minyak juga cenderung ikut mengangkat mata uang AS karena transaksi energi global masih banyak menggunakan dolar.
Pergerakan yen yang terus melemah membuat pelaku pasar kembali mencermati kemungkinan intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing.
Kenaikan Suku Bunga Jepang Belum Ampuh
Bank of Japan (BOJ) sebenarnya sudah berusaha menopang yen dengan meninggalkan era bunga negatif dan menaikkan suku bunga acuannya hingga 1%. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak 1995.
Namun, langkah itu belum cukup untuk membalikkan pelemahan yen. Suku bunga Jepang masih jauh lebih rendah dibandingkan bunga acuan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) yang berada di kisaran 3,50%-3,75%.
Selisih bunga yang masih lebar membuat investor tetap tertarik meminjam yen dengan biaya murah, kemudian menempatkan dananya pada aset berbasis dolar yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Strategi ini dikenal sebagai carry trade.
Selama keuntungan memegang aset dolar masih lebih besar, permintaan terhadap dolar akan tetap kuat dan yen sulit bangkit. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS belakangan ini juga semakin memperbesar daya tarik aset dolar.
Di sisi lain, BOJ juga tidak bisa menaikkan bunga secara agresif. Inflasi Jepang mulai melambat, dengan inflasi utama sebesar 1,5% secara tahunan pada Mei 2026. Inflasi inti tanpa makanan segar tercatat 1,4%, sedangkan inflasi tanpa makanan segar dan energi berada di 1,8%.
Seluruh angka tersebut berada di bawah target inflasi BOJ sebesar 2%. Kenaikan bunga yang terlalu cepat dikhawatirkan justru menekan konsumsi, investasi, dan kegiatan usaha di Jepang.
Pertumbuhan uang beredar juga masih lemah. Data BOJ menunjukkan M2 hanya tumbuh 2,2% secara tahunan pada Juni 2026, melambat dari 2,4% pada Mei. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meski suku bunga sudah naik, aliran uang ke rumah tangga dan dunia usaha belum cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan inflasi secara berkelanjutan.
BOJ akhirnya berada dalam posisi serba sulit. Jika bunga kembali dinaikkan, ekonomi domestik berisiko semakin tertekan. Namun, jika kenaikan bunga dihentikan, selisih bunga dengan AS tetap lebar dan yen berpotensi terus melemah.
Defisit Dagang Menambah Tekanan Pada Yen
Neraca perdagangan Jepang kembali mencatat defisit pada Juni 2026. Defisit perdagangan mencapai 406,9 miliar yen.
Posisi tersebut berbalik dari surplus 122,3 miliar yen pada Juni 2025. Defisitnya juga jauh lebih besar dibandingkan perkiraan pasar yang hanya sebesar 120 miliar yen dan menjadi defisit perdagangan bulanan kedua secara beruntun.
Tekanan terutama datang dari impor yang tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan ekspor.
Impor Jepang melonjak 25,4% secara tahunan menjadi 11,34 triliun yen, sekaligus mencetak rekor tertinggi. Pertumbuhannya melaju dari 12,5% pada Mei dan melampaui perkiraan pasar sebesar 21%.
Kenaikan tersebut menjadi yang paling tinggi sejak November 2022. Permintaan domestik yang tetap kuat, setelah pemerintah meluncurkan stimulus pada akhir 2025, ikut mendorong masuknya barang dari luar negeri.
Impor minyak mentah bahkan melonjak 59,3%. Jepang meningkatkan pembelian dari pemasok alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada jalur Selat Hormuz yang masih terganggu konflik.
Di sisi lain, ekspor meningkat 19,3% menjadi 10,93 triliun yen, posisi tertinggi dalam tiga bulan. Pertumbuhannya juga menjadi yang paling kuat sejak November 2022 dan sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar sebesar 18,6%.
Ekspor Jepang tercatat tumbuh selama 10 bulan berturut-turut. Pelemahan yen dan tingginya permintaan terhadap cip terkait kecerdasan buatan ikut menopang ekspor, meski konflik Iran masih mengganggu rantai pasok.
Namun, lonjakan ekspor belum mampu mengimbangi kenaikan impor yang lebih besar. Kondisi tersebut membuat neraca perdagangan Jepang kembali berada di zona defisit.
Secara keseluruhan, Jepang membukukan defisit perdagangan sebesar 1,01 triliun yen atau sekitar US$6,2 miliar sepanjang semester I-2026.
Krisis di Timur Tengah dan gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz ikut memengaruhi arus impor Jepang, terutama pasokan energi.
Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, impor minyak mentah Jepang dari kawasan Timur Tengah turun 26,4% menjadi 47,31 juta kiloliter. Pemerintah Jepang bergerak mencari sumber pasokan lain setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari.
Meski volume impor minyak dari Timur Tengah menurun, total nilai impor Jepang tetap meningkat 10,7% secara tahunan menjadi 61,67 triliun yen. Kenaikan terutama berasal dari impor logam nonferrous dan telepon pintar.
Sementara itu, ekspor semester I tumbuh 13,7% menjadi 60,66 triliun yen. Kenaikannya ditopang pengiriman semikonduktor dan perangkat elektronik ke China, serta ekspor mobil ke sejumlah negara, termasuk Uni Eropa.
Nilai impor yang masih lebih besar dibandingkan ekspor ikut menambah tekanan terhadap yen. Perusahaan Jepang membutuhkan lebih banyak mata uang asing, terutama dolar AS, untuk membayar barang dan energi dari luar negeri.
Kebutuhan dolar yang tetap tinggi membuat yen semakin sulit bangkit, terlebih ketika harga energi naik dan selisih suku bunga Jepang dengan AS masih lebar.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google