MARKET DATA

Harga Emas Makin Berat karena Kebanyakan Beban

mae,  CNBC Indonesia
21 July 2026 06:50
Aktifitas jual beli emas perhiasan di Kawasan pasar Minggu, Jakarta, Rabu (7/1/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Aktifitas jual beli emas perhiasan di Kawasan pasar Minggu, Jakarta, Rabu (7/1/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas melemah seiring perkembangan konflik yang semakin memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kabar ini mendorong kenaikan harga energi serta memperburuk prospek suku bunga AS.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Senin (20/7/2026) ditutup di posisi US$ 4006,99 per troy ons. Harganya melemah 0,24%.

Pelemahan ini berbanding terbalik dengan lonjakan 1,18% pada Jumat pekan lalu.

Pada hari ini, Selasa (21/7/2026) pukul 06.37 WIB, harga emas stagnan dan hanya menguat 0,001%ke US$ 4007,04 per troy ons.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 0,4%, sedangkan indeks dolar AS menguat 0,2%, membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Garda Revolusi Iran menyatakan telah menyerang aset-aset militer AS di Timur Tengah setelah serangan udara terbaru AS ke sejumlah kota di Iran. Di saat yang sama, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.

Harga minyak mentah Brent turut menguat hingga sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari satu bulan.

Minyak mentah AS (WTI) ditutup naik 0,9% ke US$83,23 per barel, sementara minyak acuan global Brent menguat sekitar 1,3% menjadi US$89,22 per barel.

Kenaikan harga energi ini memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi lebih lama.

Meski emas dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang tinggi cenderung mengurangi daya tarik aset yang tidak memberikan imbal hasil tersebut.

"Perhatian pasar masih tertuju pada kenaikan harga energi karena memanasnya kembali konflik di Timur Tengah menimbulkan kekhawatiran bahwa data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan pekan lalu belum cukup untuk mencegah The Fed menaikkan suku bunga lagi tahun ini," kata Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger.

Presiden Federal Reserve Cleveland Beth Hammack juga menegaskan bahwa suku bunga kemungkinan masih perlu dinaikkan untuk menekan inflasi yang tetap tinggi. Pernyataan itu memperkuat perdebatan menjelang rapat The Fed berikutnya.

 

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang 83% The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember, naik dari 73% sepekan sebelumnya.

Meski demikian, Meger memperkirakan The Fed lebih memilih melakukan penyesuaian neraca dibandingkan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Menurutnya, jika pandangan tersebut mulai diyakini pasar dalam satu hingga dua bulan ke depan, harga emas berpotensi mendapat dukungan sementara dolar AS justru tertekan.

Add logo_svg as a preferred
source on Google

Harga perak terus menanjak.

Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Senin (20/7/2026) ditutup di posisi US$ 56,42 per troy ons. Harganya menguat 0,92%

Penguatan ini memperpanjang tren positfnya dengan menguat 1,6% dalam dua hari terakhir.

Pada hari ini, Selasa (21/7/2026) pukul 06.44 WIB, harga perak stagnan dan melemah 0,4% ke US$ 56,19 per troy ons.



Most Popular
Features