MARKET DATA

Rupiah Paling Buruk se-Asia: Won, Yen hingga Ringgit Malah Perkasa

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
20 July 2026 09:50
Mata uang Rupiah, Yuan, dan Won. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Mata uang Rupiah, Yuan, dan Won. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang negara-negara Asia pagi ini mayoritas menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Namun sayang, rupiah masuk menjadi mata uang dengan pelemahan paling besar. 

Merujuk data Refinitiv, pada perdagangan Senin (20/7/2026), per pukul 09.15 WIB, dari 10 mata uang Asia, sebanyak enam mata uang menguat terhadap dolar AS, sementara empat lainnya melemah.

Rupiah menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam di Asia pada pagi ini. Mata uang Garuda melemah 0,59% ke posisi Rp17.990/US$. Posisi tersebut membuat rupiah kembali sangat dekat dengan level psikologis Rp18.000/US$.

Selain rupiah, peso Filipina juga masuk zona merah setelah melemah 0,24% ke posisi PHP 61,694/US$. Baht Thailand terkoreksi 0,12% ke THB 33,62/US$, sementara dolar Taiwan turun tipis 0,03% ke TWD 32,382/US$.

Di sisi lain, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia. Won menguat 0,38% ke posisi KRW 1.481,9/US$.

Penguatan juga terlihat pada dong Vietnam dan ringgit Malaysia yang sama-sama naik 0,12%. Ringgit berada di posisi MYR 4,085/US$.

Yuan China menguat 0,06% ke posisi CNY 6,771/US$, sementara yen Jepang dan dolar Singapura sama-sama naik 0,04%, masing-masing ke posisi JPY 162,33/US$ dan SGD 1,2907/US$.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) terpantau stabil di posisi 100,765 pada waktu yang sama. Meski tidak banyak bergerak pagi ini, dolar AS masih mendapat dukungan dari sentimen global yang belum sepenuhnya tenang.

Dolar AS bergerak sedikit menguat terhadap mayoritas mata uang global pada awal perdagangan Asia. Hal ini terjadi setelah konflik di Timur Tengah kembali meningkat, harga minyak naik, dan kepercayaan investor masih rapuh setelah pasar mengalami tekanan pada pekan lalu.

Analis Westpac menilai pasar valuta asing masih relatif tenang, tetapi dolar AS tetap stabil di tengah memburuknya sentimen risiko.

"Pasar FX relatif tenang, dengan dolar AS secara luas stabil, sementara dolar Australia melemah terhadap greenback dan sebagian besar mata uang utama," tulis analis Westpac dalam risetnya, dikutip dari Reuters.

Westpac juga menyoroti tekanan dari saham teknologi, terutama terkait valuasi semikonduktor, yang ikut membebani minat investor terhadap aset berisiko.

"Sentimen pasar terus memburuk karena kekhawatiran terhadap valuasi semikonduktor menekan minat risiko, sementara ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Iran menangguhkan komitmennya dalam kesepakatan damai sementara," tulis Westpac.

Kenaikan harga minyak turut menjadi perhatian pasar. Harga minyak Brent melonjak 3,3% ke US$90,97 per barel pada awal perdagangan Asia. Kenaikan ini terjadi setelah AS pada Minggu menyatakan telah memulai serangan malam kesembilan berturut-turut terhadap Iran, setelah sebelumnya mengumumkan sedikitnya dua personel militer AS tewas di Yordania.

Harga minyak yang kembali naik membuat kekhawatiran inflasi kembali muncul. Jika tekanan energi bertahan, pasar akan kembali mencermati peluang bank sentral global, termasuk bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), untuk mempertahankan kebijakan ketat lebih lama.

Meski begitu, pasar saat ini masih memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan berikutnya pada 29 Juli. Berdasarkan CME FedWatch, fed funds futures memperhitungkan peluang 85,6% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga, naik dari 61,5% pada sebulan sebelumnya.

Namun, perdebatan di internal The Fed belum sepenuhnya reda. Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack pada Jumat ikut menyuarakan pandangan bahwa suku bunga mungkin perlu naik untuk menekan inflasi yang masih persisten. Pandangan tersebut berpotensi membuat rapat The Fed berikutnya lebih panas, terutama pada pertemuan kedua Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular