Diincar 3 Musuh Besar, Bagaimana Prospek Harga Emas Pekan Ini?
Jakarta, CNBC Indonesia - Prospek harga emas pada pekan ini masih dibayangi tekanan kuat.
Dolar Amerika Serikat (AS) yang masih perkasa dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang tetap tinggi menjadi dua faktor utama yang menekan emas.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan pekan lalu, Jumat (17/7/2026) ditutup di posisi US$ 4016,69 per troy ons atau melonjak 1,18%.
Pada pekan lalu, harga emas ambruk 2,51%. Artinya, harga emas sudah ambruk dua pekan beruntun.
Pada hari ini, Senin (20/7/2026)Â pukul 06. 48 WIB, harga emas ambruk 0,59% ke US$ 3993,11 per troy ons.
Analis menilai pelaku pasar spekulatif masih enggan membuka posisi jual dalam jumlah besar. Namun, jika harga emas terus melemah hingga menembus level penting, aksi jual diperkirakan bisa meningkat tajam.
"Tekanan pada emas terjadi seiring dolar AS mulai bangkit setelah sebelumnya terpukul oleh dua kejutan data inflasi. Dari sudut pandang analisis teknikal, prospek harga emas masih bearish. Dalam beberapa hari terakhir, emas kesulitan menembus kembali level US$4.100 per troy ons dan terus bergerak di bawah garis tren bearish," tutur analis Fawad Razaqzada kepada Forex.com.
Â
Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya ekspektasi bahwa bank sentral AS (The Fed) akan kembali mempertahankan kebijakan moneter ketat setelah konflik di Timur Tengah kembali memanas.
Tiga Musuh Emas
Kenaikan harga emas masih menghadapi sejumlah ancaman;
1. Kenaikan dolar AS dan imbal hasil
Indeks dolar pada pekan lalu ditutup menguat ke 100,763 dari 100,763 sementara imbal hasil US Treasury 10 tahun masih brtengegr di 5,5%.
Dolar yang menguat membuat konversi pembelian emas pemegang mata uang lain lebih mahal sehingga mengurangi minat beli.
Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan imbal hasil US Treasury menekan permintaan.
2. Harga minyak
Tekanan terhadap emas juga datang dari lonjakan harga minyak. Harga minyak brent dan WTI melesat 8% lebih pada pekan lalu. Harga minyak brent bahkan kembali menembus US$ 90 per barel.
Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran sejumlah bank sentral di negara pengimpor minyak terpaksa menjual cadangan emas untuk menopang nilai tukar mata uangnya.
Â
Kenaikan tajam harga minyak membuat fokus investor bergeser dari fungsi emas sebagai aset safe haven ke risiko inflasi. Lonjakan harga energi mendorong kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS dan memperkuat dolar AS, sehingga menekan harga emas.
Data inflasi konsumen (CPI) dan produsen (PPI) AS yang lebih rendah dari perkiraan sempat menjadi angin segar bagi emas.
Data tersebut membuat peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Juli turun menjadi sekitar 10%, setelah sebelumnya sempat mendekati 50%. Harga emas pun sempat menguat usai rilis data tersebut.
Namun, penguatan itu tidak berlangsung lama. Emas kembali gagal menjauh dari level psikologis US$4.000 per ons troi, menandakan sentimen negatif masih mendominasi pasar.
Pelaku pasar masih mempertanyakan apakah perlambatan inflasi pada Juni hanya bersifat sementara atau menjadi awal tren penurunan inflasi yang lebih berkelanjutan.
Selama inflasi belum kembali mendekati target 2% The Fed, bank sentral AS diperkirakan tetap mempertahankan kebijakan moneter ketat. Suku bunga tinggi menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak menawarkan imbal hasil.
3. Aksi jual saham
Tekanan terhadap emas berpotensi bertambah apabila aksi jual di saham-saham teknologi Wall Street semakin meluas akibat kekhawatiran The Fed akan semakin agresif.
Dalam kondisi pasar bergejolak, investor sering menjual emas untuk memenuhi kebutuhan likuiditas atau margin call atas posisi di pasar saham. Karena itu, pelemahan indeks S&P 500 kerap diikuti penurunan tajam harga emas.
Â
Apa yang Bisa Menyelamatkan Emas?
Menurut analisis tersebut, hanya ada dua faktor yang berpotensi mengembalikan momentum kenaikan emas yakni konflik di Timur Tengah mereda dalam waktu dekat serta potensi turunnya harga minyak.
Pembelian emas besar-besaran oleh bank sentral juga menjadi penyelamat emas. Meski investor jangka pendek mulai mengurangi kepemilikan emas, bank-bank sentral tetap aktif membeli.
China memperpanjang tren pembelian emas menjadi 20 bulan berturut-turut dengan tambahan hampir 15 ton sepanjang Juni 2026. Sementara itu, data World Gold Council menunjukkan bank sentral dunia secara bersih membeli 41 ton emas pada Mei.
Bank sentral membeli emas sebagai bagian dari diversifikasi cadangan devisa sehingga menjadi penopang harga dalam jangka panjang.
Proyeksi Harga Emas Pekan ini
Secara teknikal, analis menilai tren emas masih cenderung melemah.
- Jika harga turun di bawah US$3.950 per ons troi, tekanan jual diperkirakan akan semakin besar dan membuka ruang penurunan lanjutan.
- Posisi beli (buy) baru dinilai menarik apabila emas mampu kembali menembus US$4.065 per ons troi.
Dengan dolar AS yang tetap kuat, yield obligasi tinggi, serta risiko inflasi akibat kenaikan harga minyak, prospek jangka pendek emas masih berada di bawah tekanan. Level US$4.000 kini menjadi benteng psikologis yang terus diuji pasar.
Secara teknikal, emas mulai menunjukkan tanda-tanda stabil setelah memantul dari US$3.958 dan kini menguji area resistance di kisaran US$4.023-US$4.025.
Jika mampu menembus US$4.025, harga berpotensi melanjutkan kenaikan menuju US$4.081, kemudian US$4.138, hingga US$4.200.
Jika mampu menembus US$4.100, level resistensi berikutnya berada di US$4.136, disusul US$4.200 hingga US$4.275.
Sebaliknya, jika gagal menembus level tersebut, perhatian pasar akan kembali tertuju pada support US$4.000. Apabila level itu ditembus, harga emas berpotensi turun ke US$3.958 bahkan US$3.898.
Â
Memasuki pekan baru, harga emas berada di persimpangan dua sentimen besar. Di satu sisi, pembelian bank sentral, inflasi AS yang melandai, dan ketidakpastian geopolitik masih menjadi penopang jangka panjang. Di sisi lain, lonjakan harga minyak, kenaikan yield obligasi AS, serta meningkatnya peluang kenaikan suku bunga The Fed terus menjadi tekanan utama.
Untuk saat ini, US$4.000 per ons troi masih menjadi garis pertahanan terpenting. Arah pergerakan emas selanjutnya akan lebih banyak ditentukan oleh pengaruh harga minyak terhadap ekspektasi inflasi dan kebijakan The Fed, dibandingkan semata-mata oleh perkembangan konflik geopolitik.
Berikut beberapa data yang perlu dicermati investor emas pekan ini:
- Perkembangan konflik Amerika Serikat-Iran.
- Pergerakan harga minyak dan situasi di Selat Hormuz.
- Imbal hasil obligasi pemerintah AS.
- Data klaim awal pengangguran AS (Kamis).
- Data awal PMI AS (Jumat).
- Keputusan kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis.
source on Google