MARKET DATA
PIALA DUNIA 2026

Inggris Vs Prancis, Gelut Perang Ratusan Tahun Sampai ke Piala Dunia

chd,  CNBC Indonesia
18 July 2026 19:15
Kolase bendera Inggris dan Prancis. (REUTERS/Manon Cruz)
Foto: (REUTERS/Manon Cruz)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pertandingan Piala Dunia 2026 untuk memperebutkan juara ketiga akan digelar pada Minggu (19/7/2026) pukul 04:00 WIB, di mana Inggris akan melawan Prancis pada laga ini.

Keduanya gagal untuk memperebutkan posisi di final. Inggris dihajar oleh Argentina dengan skor 1-2 di semifinal. Sedangkan Prancis gagal ke final setelah kalah dari Spanyol 0-2.

Laga memperebutkan juara ketiga Piala Dunia 2026 antara Inggris vs Prancis membuat banyak netizen pun membandingkan keduanya dalam sejarah perang yang pernah terjadi. Padahal, pertandingan sepak bola sejatinya tidak ada kaitannya dengan perang di masa lampau.

Banyak netizen yang menganggap keduanya menjadi 'rival abadi', baik dalam konteks geopolitik historis yang berlangsung selama berabad-abad maupun di arena sepak bola modern.

Namun, bagaimana sejarah dua negara bisa menyebabkan perang?

Perang Inggris vs Prancis

Prancis dan Inggris berperang secara berkala dari 1689 hingga 1815. Persaingan dimulai pada akhir abad ke-17, ketika Inggris dan negara-negara Eropa lainnya berusaha untuk membendung kekuasaan dan ambisi Louis XIV, dan berakhir dengan kekalahan Napoleon Bonaparte dalam Pertempuran Waterloo.

Baik Prancis maupun Inggris memiliki wilayah kekuasaan di luar negeri di Amerika Utara, Karibia, Afrika, dan India. Dengan demikian, perebutan kekuasaan di Eropa berkembang menjadi serangkaian perang dunia karena masing-masing pihak berusaha memperluas kekaisarannya dengan mengorbankan pihak lain.

Yang dipertaruhkan adalah perdagangan yang sangat berharga, seperti gula Hindia Barat, budak Afrika, sutra dan rempah-rempah India, serta bulu dan ikan Amerika. Ini adalah perang maritim, di mana penggunaan kekuatan laut memainkan peran yang semakin penting dalam menentukan hasil akhirnya.

Dikutip dari beberapa sumber, berikut daftar perang antara Inggris vs Prancis di masa lampau

1. Perang Seratus Tahun (1337-1453)

Perang Seratus Tahun merupakan serangkaian peperangan besar antara Kerajaan Inggris dengan Kerajaan Prancis. Berlangsung sejak 1337 hingga 1453 atau kurang lebih selama 116 tahun, namun perang ini tidak terjadi secara terus-menerus, melainkan juga diselingi dengan beberapa perjanjian dan gencatan senjata.

Perang Seratus Tahun terjadi di banyak tempat, tetapi sebagian besar medan perang berada di Perancis. Pada periode perang pertama yakni 1337-1360, Edward III, yang ingin mengklaim takhta Perancis, mulai melakukan serangan militer kepada Perancis dari utara.

Pada Juni 1340, angkatan laut Inggris pun berhasil mengalahkan angkatan laut Perancis di perairan Belanda dan menguasai Selat Channel. Perang periode pertama diakhiri denagn perjanjian damai yang ditandatangani oleh pihak Inggris dan Perancis pada 8 Mei 1360 di Bretigny, Perancis.

Lewat perjanjian tersebut, Edward III menguasai Limousin, Gascogne, Calais, dan beberapa wilayah Perancis lainnya. Sebagai imbalannya, Edward III tidak lagi berusaha mengklaim takhta Prancis.

Kemudian pada 1369, perjanjian damai Inggris dan Prancis tidak lagi berlaku setelah Charles V dari Prancis mulai mengejar ambisinya untuk menyingkirkan Inggris. Charles V memilih menghindari pertempuran terbuka, dan lebih fokus mengandalkan keamanan istananya.

Pada 1389, periode ketiga Perang Seratus Tahun mulai berlangsung, ketika pemerintahan Inggris tidak lagi dipegang oleh Edward III, melainkan Henry V.

Henry V berniat untuk menaklukkan Prancis dan membangun kekaisarannya. Harapannya pun terpenuhi, ketika Inggris kembali memenangkan pertempuran dan menguasai Agincourt.

Dengan kemenangan ini, maka Inggris secara teknis telah berkuasa atas wilayah Prancis bagian barat dan utara.

Setelah Henry V turun takhta, putranya, Henry VI, memerintah Kerajaan Inggris. Sedangkan di pihak Prancis, yang sebelumnya dipimpin oleh Charles VI, juga digantikan oleh Charles VII.

Namun, banyak panglima perang Prancis yang merasa kecewa dengan kepemimpinan Charles VII, yang dianggap terlalu lemah dan tidak berambisi untuk merebut kembali wilayah Prancis dari Kerajaan Inggris.

Semangat Prancis baru kembali saat muncul tokoh bernama Joan of Arc, yang mampu membawa negaranya memenangkan pertempuran di Orleans dan memaksa pasukan Inggris untuk mundur.

Selanjutnya, Prancis merebut Reims setelah pertempuran panjang. Sejak itu, satu per satu wilayah yang tadinya dikuasai oleh Inggris berhasil direbut kembali oleh Prancis.

Pertempuran terakhir dalam rangkaian Perang Seratus Tahun terjadi di Castillon pada 1453, di mana Prancis berhasil merebut Guyenne dari Inggris.

Berakhirnya Perang Seratus Tahun tidak pernah ditandai dengan perjanjian damai, tetapi padam dengan sendirinya karena Inggris mengakui bahwa pasukan Prancis terlalu kuat untuk mereka hadapi.

Dengan begitu, Prancis resmi menjadi pemenang dan menandai berakhirnya rangkaian Perang Seratus Tahun.

2. Perang Aliansi Besar (1689-1697)

Perang besar pada masa Raja Louis XIV dari Prancis, yang rencana ekspansinya dihalangi oleh aliansi yang dipimpin oleh Inggris, Belanda, dan Austria. Isu yang lebih dalam yang mendasari perang tersebut adalah keseimbangan kekuasaan antara dinasti Bourbon dan Habsburg yang bersaing.

Terdapat ketidakpastian umum di Eropa mengenai suksesinya takhta Spanyol karena penguasa Habsburg, raja Charles II yang menderita epilepsi dan sebagian gila, tidak mampu menghasilkan ahli waris.

Setelah kematian Charles, warisan harus melalui garis keturunan perempuan, dan melalui aliansi pernikahan, Bourbon Prancis dapat dengan adil bersaing untuk suksesi dengan Habsburg Austria, yang dipimpin oleh Kaisar Romawi Suci, yakni Leopold I. Kebijakan luar negeri agresif yang ditunjukkan Louis dalam Perang Aliansi Besar merupakan bentuk perebutan posisi sebagai antisipasi kematian pewaris laki-laki terakhir dari garis keturunan Habsburg Spanyol.

Perang berakhir dengan Perjanjian Ryswick yang mengembalikan perbatasan ke keadaan sebelum perang, tetapi Inggris berhasil menghentikan ekspansi Prancis dan mengamankan tahta Protestan-nya.

3. Perang Suksesi Spanyol (1702-1713)

Raja Spanyol meninggal tanpa pewaris. dan tahta jatuh ke tangan cucu Raja Louis XIV dari Prancis. Inggris dan sekutunya berperang untuk mencegah penvatuan kekaisaran Prancis dan Spanyol, yang akan menghancurkan keseimbangan kekuatan di Eropa.

Penyatuan dua mahkota berhasil dicegah. Inggris mendapatkan keuntungan besar berupa penguasaan wilayah kolonial (termasuk Gibraltar) dan hak monopoli perdagangan budak.

4. Perang Suksesi Austria (1744-1748)

Berawal dari perselisihan tentang pewaris tahta Habsburg di Eropa Tengah, perang ini menyebar menjadi persaingan awal antara Inggris dan Prancis untuk memperebutkan pengaruh komersial dan kolonial, terutama di Amerika Utara dan India.

Perang diakhiri dengan Perjanjian Aix-la-Chapelle. Tidak ada pihak yang mendapatkan keuntungan berarti. Perang ini hanya menjadi "jeda istirahat" sebelum konflik yang lebih besar.

5. Perang Tujuh Tahun (1756-1763)

Persaingan sengit untuk memperebutkan supremasi kolonial dan perdagangan global. Di Amerika Utara, bentrokan batas wilayah terus terjadi, sementara di India, perusahaan dagang kedua negara berebut kekuasaan.

Prancis terpaksa menyerahkan hampir seluruh wilayah jajahannya di Amerika Utara (Kanada) dan melepaskan pengaruh besarnya di India. Inggris muncul sebagai hegemon global yang sesungguhnya.

6. Revolusi dan Kemerdekaan Amerika Serikat (1778-1783)

Prancis ingin membalas dendam atas kekalahannya di Perang Tujuh Tahun. Mereka melihat peluang melemahkan Kekaisaran Inggris dengan mendukung, mendanai, dan mengirim tentara untuk membantu Tiga Belas Koloni Amerika yang memberontak.

Perang ini diakhiri oleh kemerdekaan Amerika Serikat (AS) dan Inggris kehilangan koloninya yang paling berharga. Namun, kemenangan ini harus dibayar sangat mahal yakni kebangkrutan yang dialami Prancis. Akibat perang ini, menjadi salah satu pemicu utama Revolusi Prancis.

7. Revolusi Prancis (1793-1803)

Jatuhnya monarki Prancis mengancam raja-raja di seluruh Eropa. Saat Prancis mulai mengeksplor revolusinya dan merebut wilayah di sekitarnya, Inggris merespons dengan mendanai koalisi negara-negara Eropa untuk menghancurkan Republik Prancis dan melindungi rute perdagangannya.

Republik Prancis secara mengejutkan mampu menahan serangan gabungan dari Eropa, bahkan meluaskan batas-batas negaranya. Melalui Perjanjian Amiens (1802), ada kesepakatan damai antara Prancis dengan Inggris. Namun, kesepakatan damai ini belum berakhir.

8. Perang Napoleon (1803-1815)

Ambisi Napoleon Bonaparte untuk menyatukan dan mendominasi seluruh Eropa memunculkan perang kembali. Inggris sebagai negara kekuatan maritim memblokade Prancis secara ekonomi dan terus menerus mendanai aliansi militer demi mengalahkan Napoleon.

Berakhirnya perang ini ditandai dengan kekalahan Napoleon di Pertempuran Waterloo, di mana kekuatan Napoleon mulai berkurang setelah selama 12 tahun berperang.

Pada Pertempuran Waterloo yang dimenangkan Inggris, mengantarkan Negeri Big Ben tersebut ke era "Pax Britannica", sebuah abad di mana Inggris menjadi negara adidaya tanpa pesaing yang setara di dunia saat itu.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(chd/chd) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular