MARKET DATA

Terusan Panama Jadi 'Tambang Uang' Baru Dunia, AS-China Saling Sikut

Aisha Mayra,  CNBC Indonesia
18 July 2026 20:45
Kapal Gas Tanker Terbesar Dunia Milik RI Lewati Terusan Panama. (Pertamina International Shipping)
Foto: Kapal Gas Tanker Terbesar Dunia Milik RI Lewati Terusan Panama. (Pertamina International Shipping)

Jakarta, CNBC Indonesia - Terusan Panama kini menjadi jalur yang semakin strategis di tengah perang Timur Tengah dan perubahan arus perdagangan global.

Meski hanya dilalui sekitar 5-6% perdagangan maritim dunia, kanal ini menjadi jalur penting ekspor energi AS ke Asia. Lonjakan permintaan membuat biaya melintas melonjak hingga hampir tiga kali lipat, mendongkrak pemasukan Panama.

Perang di Timur Tengah ternyata memicu efek berantai hingga ribuan kilometer jauhnya. Salah satu yang ikut merasakan dampaknya adalah Terusan Panama, jalur pelayaran yang menghubungkan Samudra Atlantik dan Pasifik.

Ketika konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran sempat menutup Selat Hormuz tahun ini, permintaan melintasi Terusan Panama langsung melonjak hingga mendekati kapasitas maksimumnya, yakni sekitar 36-40 kapal per hari.

Arus pengiriman energi dari Amerika Serikat ke Asia ikut meningkat, terutama untuk liquefied natural gas (LNG) dan liquefied petroleum gas (LPG).

Kapal menunggu untuk menyeberangi Terusan Panama dari sisi Samudra Pasifik. Kotak merah menunjukkan Terusan Panama. (Dok: Planet Labs PBC)Kapal menunggu untuk menyeberangi Terusan Panama dari sisi Samudra Pasifik. Kotak merah menunjukkan Terusan Panama. (Dok: Planet Labs PBC) Foto: (Dok: Planet Labs PBC)

Di balik lonjakan aktivitas tersebut, Panama menikmati peluang ekonomi yang lebih besar. Namun, kanal yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan dunia itu kini juga menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari ancaman perubahan iklim hingga rivalitas Amerika Serikat dan China.

Perang Timur Tengah Mengubah Arus Kapal

Gangguan di Selat Hormuz membuat banyak negara mencari jalur dan sumber pasokan energi alternatif. Salah satu dampaknya terlihat di Terusan Panama.

Jumlah kapal pengangkut LNG yang melintasi kanal tersebut pada April hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pengiriman bahan bakar juga meningkat tajam seiring bertambahnya permintaan terhadap energi asal Amerika Serikat.

Negara penggguna Terusan PanamaNegara penggguna Terusan Panama Foto: Economist

Kondisi ini membuat permintaan melintasi Terusan Panama naik hingga mendekati kapasitas operasional hariannya.

Jalur yang sebelumnya hanya menjadi salah satu opsi kini kembali menjadi rute penting dalam perdagangan energi global.

Peran Panama Berubah

Secara volume, Terusan Panama memang hanya menangani sekitar 5-6% perdagangan maritim dunia. Angka itu masih berada di bawah sejumlah chokepoint lain, seperti Selat Malaka.

Namun, perannya terus meningkat karena perubahan pola perdagangan energi global.

Kenaikan ekspor LNG dan LPG dari Amerika Serikat membuat kanal ini semakin strategis sebagai penghubung kawasan Gulf Coast menuju pasar Asia.

Terusan PanamaTerusan Panama Foto: Economist

Panama sebenarnya sudah mengantisipasi perubahan tersebut. Sejak 2016, kanal ini memperluas infrastruktur agar dapat melayani kapal-kapal pengangkut LNG dalam jumlah lebih besar.

Saat ini, sekitar 1 juta barel LPG melintasi Terusan Panama setiap hari, sebagian besar dikirim dari pesisir Teluk Meksiko menuju kompleks petrokimia di Asia.

Panama Tak Mau Hanya Jadi Jalur Lewat

Administrator Terusan Panama, Ricaurte Vásquez Morales, mengatakan Panama ingin memainkan peran yang lebih besar dalam rantai perdagangan global.

"Kami tidak ingin hanya menjadi jalur penghubung antarsamudra, tetapi juga menjadi pusat perdagangan," ujarnya.

Untuk mencapai target tersebut, otoritas kanal telah meluncurkan proyek senilai sekitar US$8,5 miliar.

Beberapa proyek utama yang tengah disiapkan meliputi:

  • pembangunan pipa LPG yang melintasi Tanah Genting Panama dengan tambahan kapasitas hingga 2,5 juta barel per hari;

  • pembangunan dua terminal pelabuhan baru untuk meningkatkan kapasitas peti kemas;

  • perluasan infrastruktur logistik guna memperkuat posisi Panama sebagai pusat perdagangan, bukan sekadar titik transit kapal.

Menurut Vásquez, seluruh proyek tersebut dirancang agar Panama memperoleh nilai tambah yang lebih besar dari aktivitas perdagangan internasional, bukan hanya mengandalkan biaya lintasan kapal.

Perang Mendatangkan Rezeki

Lonjakan lalu lintas kapal ikut mendongkrak pendapatan Terusan Panama.

Tarif lelang untuk slot pelayaran yang paling diminati melonjak hampir tiga kali lipat. Sebelum gangguan di Selat Hormuz, harga lelang umumnya berada di kisaran US$135.000-140.000. Pada April dan Mei, angkanya naik menjadi sekitar US$385.000-425.000.

Bahkan, satu perusahaan tercatat rela membayar US$4 juta hanya untuk mendapatkan satu slot pelayaran.

Kenaikan tersebut ikut mengerek penerimaan negara. Pada tahun fiskal yang berakhir September 2025, Terusan Panama menyetor hampir US$3 miliar ke kas pemerintah, rekor tertinggi yang setara lebih dari seperlima pendapatan negara.

Lonjakan Belum Tentu Bertahan

Administrator Terusan Panama, Ricaurte Vásquez Morales, mengingatkan kondisi tersebut bisa saja hanya bersifat sementara.

Ia menyebut lonjakan permintaan saat ini dipicu oleh gangguan di Selat Hormuz. Jika situasi kembali normal, sebagian lalu lintas perdagangan berpotensi berubah lagi.

Namun, analis Goldman Sachs menilai pola perdagangan energi kemungkinan tidak akan sepenuhnya kembali seperti sebelum konflik, bahkan jika Selat Hormuz kembali beroperasi penuh. Perubahan rantai pasok yang sudah terbentuk diperkirakan akan bertahan lebih lama.

Ancaman Pertama: Air

Di balik peningkatan pendapatan, tantangan terbesar Terusan Panama justru berasal dari faktor yang paling mendasar, yakni ketersediaan air.

Sistem pintu air (locks) kanal bergantung pada air dari danau-danau yang diisi oleh curah hujan. Ketika hujan berkurang, kapasitas pelayaran ikut turun.

Hal itu sempat terjadi pada kekeringan 2023-2024. Otoritas kanal terpaksa memangkas jumlah kapal yang melintas dari sekitar 36 kapal per hari menjadi hanya 18 kapal.

Dampaknya langsung terasa. Banyak kapal LNG memilih memutar melalui Tanjung Harapan (Cape of Good Hope) di Afrika Selatan meski rutenya lebih panjang. Menurut Francis Zeimetz dari Panama Maritime Chamber, sebagian kapal tersebut hingga kini belum kembali menggunakan Terusan Panama.

Otoritas kanal juga mewaspadai potensi gangguan baru akibat fenomena El Niño tahun ini.

Terusan Panama Mengering, Awas 'Kiamat' Barang MunculTerusan Panama Mengering, Awas 'Kiamat' Barang Muncul Foto: Infografis/Terusan Panama Mengering, Awas 'Kiamat' Barang Muncul/Aristya Rahadian

Bendungan Baru Disiapkan

Untuk mengurangi ketergantungan pada curah hujan, Panama akhirnya menjalankan proyek yang sudah tertunda selama puluhan tahun, yakni pembangunan bendungan di Sungai Indio.

Proyek yang disetujui pada 2025 itu diperkirakan mulai dibangun tahun depan dan ditargetkan selesai pada 2032.

Bendungan tersebut diproyeksikan mampu menyediakan tambahan air yang cukup untuk sekitar 11,5 pelayaran per hari pada musim kering sekaligus menjaga operasional Terusan Panama hingga sekitar 50 tahun ke depan.

Di sisi lain, proyek itu juga memunculkan konsekuensi sosial karena sekitar 2.000 penduduk harus direlokasi.

Ancaman Kedua: Rivalitas AS-China

Jika perubahan iklim menjadi tantangan jangka panjang, geopolitik menjadi tekanan yang paling mendesak saat ini.

Sejak kembali menjabat Presiden Amerika Serikat pada Januari 2025, Donald Trump berulang kali menyatakan ingin "mengambil kembali" Terusan Panama. Kanal tersebut memang dibangun dan dikelola Amerika Serikat sejak 1914 sebelum diserahkan kepada Panama pada 1999.

Meski pernyataan itu kerap dianggap sebagai retorika politik, Trump terus mengulangnya. Bulan ini saja, ia kembali menyinggung isu tersebut dalam dua pidato berbeda.

Perhatian Washington terhadap Panama juga meningkat karena lebih dari 70% lalu lintas di Terusan Panama berasal atau menuju Amerika Serikat. Pada 2025, pemerintah AS bahkan membuka investigasi terhadap sejumlah chokepoint perdagangan global.

Sikap Trump juga dipengaruhi kebangkitan kembali Doktrin Monroe, kebijakan yang memandang kawasan Amerika sebagai wilayah pengaruh Amerika Serikat dan membatasi campur tangan kekuatan eksternal. Dalam berbagai kesempatan, Trump menuduh China "mengendalikan" Terusan Panama.

Jejak China di Sekitar Kanal

Vásquez membantah anggapan bahwa perusahaan asing mengoperasikan Terusan Panama.

Namun, ia mengakui sejumlah perusahaan asing memang memiliki konsesi di kawasan sekitar kanal.

Salah satu yang paling disorot adalah Panama Ports Company, anak usaha konglomerasi Hong Kong CK Hutchison, yang sejak 1996 mengelola Pelabuhan Balboa di sisi Pasifik dan Pelabuhan Cristóbal di sisi Atlantik.

Pengacara Panama Alonso Illueca menilai kehadiran perusahaan-perusahaan China di sekitar kanal meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, Panama terlalu sering memperlakukan aset strategis layaknya aset komersial biasa yang dapat diperjualbelikan.

Ia juga menyinggung kekhawatiran bahwa perusahaan-perusahaan China lebih mudah memperoleh proyek dibanding pesaingnya di negara yang selama ini memiliki persoalan korupsi.

Panama Mulai Mengubah Sikap

Tekanan dari Washington mulai memengaruhi kebijakan Panama.

Pada Januari, Mahkamah Agung Panama memutuskan kontrak Panama Ports Company bertentangan dengan konstitusi.

Presiden José Raúl Mulino kemudian menyerahkan pengelolaan kedua pelabuhan tersebut kepada dua perusahaan Eropa sambil menunggu proses tender baru.

Panama juga menarik diri dari Belt and Road Initiative, proyek infrastruktur global China, tidak lama setelah Trump kembali ke Gedung Putih.

China Mulai Membalas

Langkah Panama tidak berlalu tanpa respons dari Beijing.

Menurut pejabat Amerika Serikat, kapal berbendera Panama semakin sering mengalami penahanan di pelabuhan China.

Pada Maret, sebanyak 91 dari 123 kapal yang ditahan di pelabuhan China menggunakan bendera Panama. Jumlah itu meningkat menjadi 136 kapal pada April dan hingga kini disebut belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

"China sedang berusaha membuat Panama merasakan tekanannya," kata Illueca.

Di Tengah Dua Kekuatan

Meski tekanan geopolitik meningkat, Terusan Panama tetap beroperasi tanpa henti. Kanal tersebut tetap dibuka selama pandemi, saat kekeringan, maupun ketika ketegangan geopolitik meningkat.

Louis Sola, mantan Ketua Federal Maritime Commission Amerika Serikat, menyebut Panama telah melakukan "pekerjaan luar biasa" dalam mengelola kanal tersebut.

Namun, tantangan ke depan diperkirakan semakin berat. Di satu sisi ada Amerika Serikat yang menginginkan pengaruh lebih besar. Di sisi lain ada China yang mulai menunjukkan respons terhadap setiap langkah Panama yang dianggap merugikan kepentingannya.

Ketika diminta merangkum tujuh tahun kepemimpinannya, Vásquez hanya menjawab dengan satu kata, "volatility."

Jawaban singkat itu sekaligus menggambarkan tantangan yang akan dihadapi penerusnya dalam mengelola salah satu jalur perdagangan paling strategis di dunia.

 

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular