Messi Dikepung Delapan "Adik" La Masia di Final Piala Dunia 2026
Jakarta, CNBC Indonesia — Sebuah foto yang diambil hampir 20 tahun lalu kembali viral menjelang final Piala Dunia 2026. Dalam foto tersebut, Lionel Messi yang masih berusia 20 tahun terlihat menggendong dan memandikan seorang bayi bernama Lamine Yamal.
Kini, bayi tersebut telah menjadi bintang tim nasional Spanyol dan akan berdiri sebagai lawan Messi dalam pertandingan terbesar sepak bola dunia.
Argentina dan Spanyol akan memperebutkan gelar juara di New York New Jersey Stadium pada Minggu (19/7/2026) waktu setempat atau Senin (20/7/2026) dini hari WIB.
Argentina melaju ke final setelah menundukkan Inggris 2-1. Messi kembali menjadi penentu dengan memberikan dua assist dalam kebangkitan Argentina pada pengujung pertandingan. Sementara itu, Spanyol memastikan tempat di final setelah mengalahkan Prancis. La Furia Roja akhirnya kembali ke final Piala Dunia setelah terakhir kali mencapainya sekaligus menjadi juara pada 2010.
Pertemuan Messi dan Yamal menjadi salah satu cerita menarik di balik laga tersebut. Keduanya bukan hanya memiliki hubungan dengan Barcelona, tetapi juga tumbuh melalui sistem pembinaan yang sama, yakni La Masia.
Dari Bayi di Gendongan Messi Menjadi Lawan di Final
Foto Messi bersama Yamal diambil pada 2007 untuk kalender amal hasil kerja sama Barcelona, UNICEF, dan surat kabar Sport.
Saat itu, Messi belum menjadi megabintang seperti sekarang. Ia baru berusia 20 tahun dan baru mulai mendapat tempat di tim utama Barcelona. Sementara Yamal baru berusia beberapa bulan.
Dalam salah satu sesi pemotretan, Messi terlihat menggendong dan memandikan Yamal di sebuah bak kecil. Foto tersebut diabadikan oleh fotografer Joan Monfort di ruang ganti Camp Nou. Lalu, hampir dua dekade kemudian, keduanya akan bertemu sebagai lawan. Messi memimpin Argentina, sedangkan Yamal menjadi salah satu tumpuan serangan Spanyol.
Lionel Messi bersama Lamine Yamal dari Spanyol saat masih bayi. (AP Photo/Joan Monfort) Foto: Lionel Messi bersama Lamine Yamal dari Spanyol saat masih bayi. (AP Photo/Joan Monfort) |
Kisah keduanya terhubung oleh La Masia, pusat pembinaan pemain muda Barcelona. Nama akademi tersebut berasal dari sebuah rumah pertanian yang dibangun pada 1702 di dekat Camp Nou.
Barcelona mulai menggunakan bangunan itu sebagai tempat tinggal pemain muda pada 1979. Para pemain dari berbagai daerah dan negara tinggal, bersekolah, dan berlatih sepak bola di sana.
Pada 2011, pusat pendidikan dan tempat tinggal pemain muda dipindahkan ke bangunan baru bernama La Masia-Centre de Formació Oriol Tort di kompleks latihan Ciutat Esportiva Joan Gamper, Sant Joan Despi.
Bangunan baru tersebut dibuka pada 20 Oktober 2011. Fasilitasnya mencakup tempat tinggal, ruang belajar, ruang latihan, hingga fasilitas kesehatan untuk mendukung perkembangan pemain di dalam dan di luar lapangan.
Akademi tersebut telah melahirkan banyak pemain besar, mulai dari Pep Guardiola, Carles Puyol, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Victor Valdes, Gerard Pique, Cesc Fabregas, Sergio Busquets, Pedro Rodriguez, hingga Jordi Alba.
Banyak dari mereka kemudian menjadi bagian penting dari kejayaan Barcelona dan tim nasional Spanyol.
Puncaknya terlihat ketika Spanyol menjuarai Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, dan Piala Eropa 2012. Kekuatan La Masia juga terlihat dalam perebutan Ballon d'Or 2010. Tiga posisi teratas ditempati Messi, Iniesta, dan Xavi, tiga pemain yang tumbuh melalui sistem akademi Barcelona.
Namun, dari seluruh bintang yang pernah dilahirkan La Masia, Messi tetap menjadi nama paling besar.
Messi, Anak La Masia yang Menjadi Raja
Messi meninggalkan Rosario, Argentina, dan bergabung dengan akademi Barcelona pada usia 13 tahun. Sebelumnya, ia bermain untuk tim junior Newell's Old Boys sejak berusia delapan tahun.
Soccer Football - FIFA World Cup 2026 - Round of 16 - Argentina v Egypt - Atlanta Stadium, Atlanta, Georgia, U.S. - July 7, 2026 Argentina's Lionel Messi is thrown in the air in celebration by teammates after the match as Argentina qualify for the quarter finals of the World Cup IMAGN IMAGES via Reuters/Brett Davis TPX IMAGES OF THE DAY Foto: IMAGN IMAGES via Reuters/BRETT DAVIS |
Meski harus menjalani pengobatan karena masalah pertumbuhan, Messi berkembang sangat cepat. Ia berhasil mencatatkan 89 gol dalam 97 pertandingan bersama tim junior Barcelona, lalu melewati tim U-19, Barcelona C, dan Barcelona B.
Messi kemudian menjalani debut resmi bersama tim utama Barcelona pada Oktober 2004. Gol pertamanya pun tercipta pada Mei 2005 ke gawang Albacete setelah menerima umpan cantik dari Ronaldinho.
Kariernya kemudian melesat. Selama 17 musim bersama Barcelona, Messi berhasil mencatatkan rekor 778 penampilan dengan 672 gol dan 305 assist. Ia juga mempersembahkan 35 trofi, termasuk 10 gelar Liga Spanyol dan empat Liga Champions.
Sampai saaat ini, Messi masih menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Liga Spanyol dengan 474 gol. Ia juga telah mengoleksi delapan Ballon d'Or, terbanyak dalam sejarah sepak bola.
Setelah meninggalkan Barcelona, Messi melanjutkan kesuksesannya bersama Argentina. Ia menjuarai Copa America dan membawa negaranya mengangkat trofi Piala Dunia 2022.
Kini, pada usia 39 tahun, Messi kembali membawa Argentina ke final. Piala Dunia 2026 menjadi final ketiganya setelah 2014 dan 2022.
Messi juga menjadi pemain pertama yang tampil dalam enam edisi Piala Dunia. Hingga semifinal melawan Inggris, ia telah memainkan 33 pertandingan dan mencetak 21 gol, dua-duanya merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah turnamen.
Ia juga telah membukukan 12 assist, 22 kemenangan, dan 2.724 menit bermain di Piala Dunia.
Delapan "Adik" Messi di Skuad Spanyol
Dua dekade setelah Messi menembus tim utama Barcelona, produksi pemain La Masia belum berhenti.
Tim Nasional Spanyol Foto: Dokumentasi Asosiasi Sepak Bola Spanyol |
Dalam final Piala Dunia 2026, Messi akan berhadapan dengan delapan pemain Spanyol yang pernah menjalani pendidikan di akademi tersebut.
Di lini belakang terdapat Pau Cubarsi. Bek muda Barcelona itu bergabung dengan La Masia dari Girona pada 2018 sebagai pemain U-12, kemudian melewati berbagai kelompok usia sebelum menembus tim utama.
Eric Garcia juga merupakan lulusan La Masia. Ia menjalani pembinaan di Barcelona sebelum pindah ke Manchester City, lalu kembali membela Blaugrana pada 2021.
Dua bek kiri Spanyol, Marc Cucurella dan Alejandro Grimaldo, juga berasal dari akademi yang sama. Cucurella melewati sejumlah kelompok usia Barcelona sebelum melanjutkan kariernya ke Getafe, Brighton, dan Chelsea.
Grimaldo pernah menjadi kapten Barcelona B sebelum pindah ke Benfica pada akhir 2015. Kariernya kemudian berlanjut bersama Bayer Leverkusen.
Di lini tengah terdapat Gavi. Ia bergabung dengan akademi Barcelona pada usia 11 tahun dan berkembang menjadi salah satu pemain utama klub serta tim nasional Spanyol.
Dani Olmo juga pernah menghabiskan masa mudanya di La Masia. Ia masuk tim U-12B Barcelona pada 2008, kemudian melewati berbagai kelompok usia sebelum pindah ke Dinamo Zagreb pada 2014.
Nama paling menonjol tentu saja Lamine Yamal. Ia masuk akademi Barcelona pada usia tujuh tahun dan menembus tim utama ketika masih berusia 15 tahun.
Pertemuan Yamal dan Messi di final membuat foto lama keduanya kembali mendapat perhatian. Sosok yang dahulu berada dalam gendongan Messi kini akan mencoba menggagalkan sang legenda meraih gelar Piala Dunia kedua secara beruntun.
Satu nama lainnya adalah Victor Muñoz. Penyerang Osasuna tersebut pernah bermain bersama tim usia muda Barcelona sebelum melanjutkan pembinaannya di klub lain.
Dari 26 pemain Argentina, Messi menjadi satu-satunya lulusan La Masia. Sementara itu, Spanyol membawa delapan pemain yang pernah dibina akademi Barcelona.
Final nanti pun akan mempertemukan sembilan alumni La Masia. Messi berdiri sendirian di kubu Argentina, sedangkan delapan "adik-adiknya" berada di barisan Spanyol.
Akademi yang dahulu membentuk Messi kini ikut melahirkan generasi yang akan mencoba menghentikannya dalam perebutan gelar juara dunia.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google


