Harga Batu Bara Tiba-Tiba Terbang, Indonesia Jadi Sorotan Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara tiba-tiba membara.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$ 132 per ton pada perdagangan Kamis (16/7/2026). Harganya melonjak 1,15%.
Pelemahan ini memutus tren negatifnya yang turun dua hari beruntun,
Harga penutupan kemarin juga menjadi yang tertinggi sejak 17 Juni 2026 atau sebulan terakhir.
Harga batu bara kembali melonjak ditopang kembali tingginya harga minyak serta besarnya permintaan.
Bloomberg meaprkan harga batu bara termal Asia melonjak ke level tertinggi dalam 22 bulan setelah aturan ekspor baru Indonesia memicu kekhawatiran terhadap pasokan global.
Sebagai eksportir batu bara termal terbesar di dunia, perubahan mekanisme ekspor Indonesia dinilai menyebabkan keterlambatan pengiriman dan memperketat pasokan. Kondisi ini mendorong negara-negara pengimpor utama seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan mencari sumber pasokan alternatif.
Lonjakan harga juga diperkuat oleh tingginya permintaan listrik selama musim panas di Asia, sementara pasokan dari negara lain belum mampu menggantikan peran Indonesia.
Pelaku pasar memperkirakan harga batu bara akan tetap tinggi apabila gangguan ekspor dari Indonesia berlanjut, mengingat Indonesia memegang peran penting dalam perdagangan batu bara termal dunia
Impor Batu Bara Korea Melonjak
Impor batu bara Korea Selatan melonjak pada Juni 2026, mencapai 10,13 juta ton. Jumlah ini adalah yang tertinggi dalam lima bulan sekaligus level tertinggi untuk bulan Juni dalam empat tahun terakhir.
Data Korea Customs Service menunjukkan volume impor tersebut naik 31,97% dibandingkan Juni tahun lalu dan meningkat 22% dibandingkan Mei. Lonjakan didorong oleh penumpukan stok menjelang musim panas untuk mengantisipasi lonjakan permintaan listrik.
Â
Sepanjang semester I-2026, impor batu bara Korea Selatan mencapai 57,04 juta ton, naik 21,55% secara tahunan. Batu bara tetap menjadi pilihan energi paling ekonomis setelah harga LNG melonjak akibat konflik AS-Iran. Selain itu, terbatasnya pasokan listrik dari pembangkit nuklir turut meningkatkan penggunaan batu bara.
Dari sisi pemasok, Australia masih menjadi eksportir terbesar ke Korea Selatan dengan pengiriman 4,13 juta ton, disusul Rusia sebesar 2,21 juta ton. Sementara itu, impor dari Indonesia mencapai 1,72 juta ton, turun 11,36% dibandingkan tahun lalu, meski naik 22,49% dibandingkan Mei.
Nilai impor batu bara Korea Selatan pada Juni juga melonjak menjadi US$1,39 miliar, naik 62,39% secara tahunan. Rata-rata harga impor mencapai US$136,76 per ton, mencerminkan masih tingginya harga batu bara di pasar global.
Impor Batu Bara Termal India Turun
Berbeda dengan Korea, impor batu bara termal India turun 12,5% menjadi 77,61 juta ton pada semester I-2026.
Menurut data BigMint, pelemahan terjadi seiring meningkatnya penggunaan energi terbarukan, stok batu bara domestik yang melimpah, serta tingginya harga batu bara impor.
Pengiriman dari dua pemasok utama, Indonesia dan Afrika Selatan, masing-masing turun 17,5% dan 9,4%. Penurunan impor semakin dalam pada Mei-Juni akibat konflik di Timur Tengah yang mengganggu jalur pelayaran dan mendorong kenaikan biaya angkut.
Meski konsumsi listrik India naik 5,5% pada semester I-2026, pertumbuhan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan melonjak 21,9%. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan pembangkit listrik tenaga batu bara yang hanya tumbuh 4%. Kondisi ini menekan kebutuhan impor batu bara.
BigMint memperkirakan impor batu bara India akan terus menurun hingga akhir 2026. Selain pasokan domestik yang kuat, tingginya harga batu bara global, kenaikan biaya pengiriman, dan meningkatnya porsi energi terbarukan diperkirakan tetap membatasi permintaan impor.
Meski demikian, impor batu bara dari Rusia berpotensi meningkat karena harganya lebih kompetitif dibandingkan batu bara dari Indonesia, Afrika Selatan, maupun Amerika Serikat.
(mae/mae) Addsource on Google