Di Tengah Perang, Negara Arab Diam-Diam Borong Surat Utang Amerika
Jakarta, CNBC Indonesia - Kepemilikan asing atas surat utang pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali meningkat pada Mei 2026. Data terbaru Departemen Keuangan AS menunjukkan total kepemilikan asing atas US Treasury mencapai US$9,371 triliun.
Jumlah tersebut bertambah US$18,5 miliar dibandingkan April 2026 yang sebesar US$9,353 triliun. Secara persentase, kenaikannya sekitar 0,2%.
Jika dibandingkan dengan posisi Mei 2025 sebesar US$9,022 triliun, kepemilikan asing meningkat US$349,4 miliar atau sekitar 3,9% dalam setahun.
Kenaikan tersebut memperlihatkan bahwa US Treasury masih menjadi salah satu tempat utama bagi pemerintah, bank sentral, dan investor global untuk menyimpan dananya.
Surat utang AS memiliki pasar yang sangat besar dan mudah diperdagangkan sehingga kerap dipilih sebagai aset cadangan maupun tempat berlindung ketika ketidakpastian global meningkat.
Laporan Treasury International Capital (TIC) juga mencatat arus modal asing bersih ke AS mencapai US$132,2 miliar sepanjang Mei 2026.
Investor asing membukukan pembelian bersih surat berharga jangka panjang AS sebesar US$262,8 miliar. Setelah memperhitungkan sejumlah penyesuaian, pembelian bersih surat berharga jangka panjang diperkirakan mencapai US$232,7 miliar.
Namun, investor asing mengurangi kepemilikan surat utang pemerintah AS berjangka pendek atau Treasury bills sebesar US$43,5 miliar. Sementara itu, kewajiban bersih perbankan AS kepada pihak asing berkurang US$70 miliar.
Negara-Negara Timur Tengah Borong Surat Utang ASÂ
Salah satu perkembangan menarik datang dari Timur Tengah. Di tengah perang dan ketegangan geopolitik yang bergejolak di kawasan tersebut, sejumlah negara terpantau melakuakan aksi beli atas surat utang pemerintah AS.
Arab Saudi menaikkan kepemilikan US Treasury menjadi US$140,3 miliar pada Mei 2026, dari US$140,1 miliar sebulan sebelumnya.
Kenaikannya memang hanya US$200 juta atau sekitar 0,1%. Namun, dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$127,7 miliar, kepemilikan Arab Saudi sudah bertambah US$12,6 miliar atau sekitar 9,9%.
Arab Saudi berada di peringkat ke-17 dalam daftar pemegang US Treasury terbesar. Posisinya berada di bawah Brasil yang memiliki US$168,9 miliar dan di atas Korea Selatan sebesar US$132,3 miliar.
Kenaikan lebih besar terjadi pada Uni Emirat Arab (UEA). Kepemilikan negara tersebut melonjak dari US$112,5 miliar pada April menjadi US$118,6 miliar pada Mei 2026.
Dalam sebulan, UEA menambah US Treasury sebesar US$6,1 miliar atau sekitar 5,4%. Dibandingkan dengan posisi Mei 2025 sebesar US$103,6 miliar, kepemilikannya meningkat US$15 miliar atau 14,5%.
Israel juga memperbesar kepemilikannya. Nilai US Treasury yang dimiliki Israel naik dari US$113,4 miliar menjadi US$117,6 miliar.
Kenaikannya mencapai US$4,2 miliar atau 3,7% dalam sebulan. Secara tahunan, kepemilikan Israel bertambah US$16,8 miliar atau 16,7% dari US$100,8 miliar pada Mei 2025.
Jika digabungkan, Arab Saudi, UEA, dan Israel memegang US Treasury senilai sekitar US$376,5 miliar pada Mei 2026. Jumlah tersebut meningkat US$10,5 miliar hanya dalam satu bulan.
Langkah ketiga negara itu dapat berkaitan dengan pengelolaan cadangan devisa, kebutuhan menjaga likuiditas dalam dolar AS, dan upaya menempatkan dana pada aset yang relatif aman di tengah meningkatnya risiko geopolitik.
CNCB INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google