Bursa RI Buka 'Topeng', IHSG Tak Lagi "Disetir" Saham Segelintir
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Efek Indonesia (BEI) memperluas daftar saham dengan High Shareholding Concentration (HSC) atau kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi.
Sebanyak 37 emiten baru ditetapkan sebagai saham HSC. Dengan penambahan tersebut, jumlah saham berstatus HSC menjadi 51 emiten per Rabu (15/7/2026), terdiri dari 37 saham baru dan 14 saham eksisting.
Daftar ini disusun berdasarkan struktur kepemilikan saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat per 30 Juni 2026.
Sebelumnya, status HSC PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) telah dicabut setelah struktur kepemilikannya per 29 Juni 2026 dinilai tidak lagi memenuhi kategori tersebut.
PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) mencatat konsentrasi tertinggi sebesar 99,99%. Posisi berikutnya ditempati PT DCI Indonesia Tbk (DCII) sebesar 99,96%, PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) masing-masing 99,95%, serta PT Golden Flower Tbk (POLU) sebesar 99,94%.
Persentase HSC tidak dapat langsung disamakan dengan 100% dikurangi free float resmi. Keduanya dapat menggunakan klasifikasi pemegang saham yang berbeda.
HSC Mengindikasikan Apa?
Status HSC mengindikasikan sebagian besar saham perusahaan berada di tangan satu pihak, kelompok terafiliasi, atau sejumlah kecil pemegang saham.
Akibatnya, saham yang benar-benar aktif diperdagangkan bisa terbatas. Harga pun lebih mudah bergerak tajam meskipun volume transaksinya kecil.
Kondisi ini dapat menciptakan scarcity premium, yaitu valuasi tinggi karena sahamnya langka, bukan sepenuhnya karena pertumbuhan laba atau fundamental.
Namun, status HSC bukan bukti manipulasi ataupun pelanggaran. Daftar tersebut lebih tepat digunakan sebagai peringatan risiko likuiditas dan pembentukan harga.
BEI Tambah Price Impact Ratio
BEI juga menambahkan price impact ratio sebagai indikator untuk menyaring saham berkapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun.
Indikator tersebut membandingkan perubahan harga dengan velocity. Adapun velocity dihitung dari rata-rata volume transaksi dibandingkan jumlah saham free float.
Saham dengan volume rendah akan memiliki velocity rendah. Jika kondisi tersebut disertai perubahan harga besar, price impact ratio akan menjadi tinggi dan saham kemudian menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Namun, BEI belum membuka persamaan, periode pengukuran, dan batas rasio yang dianggap tinggi. Karena itu, perhitungan HSC belum dapat direplikasi sepenuhnya menggunakan data publik.
Bagi investor, hal terpenting adalah memeriksa nilai transaksi harian, bid-ask spread, kedalaman antrean, dan struktur pemegang saham.
Kenaikan harga juga perlu dibandingkan dengan pertumbuhan laba dan arus kas. Jika harga meningkat tajam tanpa perubahan fundamental, pergerakan tersebut bisa lebih banyak ditopang kelangkaan saham.
Status HSC juga dapat memengaruhi indeks. MSCI menyatakan saham yang diidentifikasi otoritas Indonesia sebagai HSC dapat dikeluarkan dari MSCI Global Investable Market Indexes.
Sementara bagi pengendali, peningkatan saham publik dapat memperbaiki likuiditas dan menarik investor institusi. Namun, pelepasan saham dalam jumlah besar juga dapat menciptakan tekanan jual sementara.
Kasus LUCY menunjukkan kondisi tersebut. Status HSC perseroan dicabut setelah kepemilikan pengendali turun dari 59,42% menjadi 34,42%, sedangkan porsi masyarakat dilaporkan meningkat menjadi 39,68%.
Negara Lain Punya Sistem Serupa
Hong Kong menjadi pasar yang paling mendekati Indonesia. Securities and Futures Commission (SFC) rutin menerbitkan high shareholding concentration announcements ketika saham perusahaan dikuasai sejumlah kecil pemegang. Investor diperingatkan bahwa harga dapat bergerak besar meskipun hanya sedikit saham yang ditransaksikan.
India menggunakan pendekatan berbeda dengan mewajibkan perusahaan tercatat swasta mempertahankan saham publik minimal 25%. Sementara FTSE Russell memakai Amihud Ratio untuk melihat besarnya perubahan harga dibandingkan nilai transaksi.
Tujuannya sama, yaitu menjaga likuiditas, transparansi, dan pembentukan harga yang wajar. Bedanya, Indonesia menggunakan pendekatan lebih luas dengan menggabungkan struktur kepemilikan dan sensitivitas harga terhadap aktivitas perdagangan.
Dari sisi peringatan konsentrasi, Indonesia paling mirip Hong Kong, tetapi tambahan price impact ratio menjadi ciri tersendiri.
Positif atau Negatif?
Dalam jangka pendek, perluasan daftar HSC dapat memicu volatilitas. Investor bisa mengurangi posisi karena khawatir terhadap likuiditas, potensi penghapusan dari indeks tertentu seperti MSCI, atau rencana penjualan saham oleh pengendali. Saham yang sebelumnya memperoleh valuasi tinggi akibat pasokan terbatas juga berpotensi mengalami penyesuaian harga.
Dampaknya tidak otomatis membuat IHSG lebih sulit naik. Namun, karena IHSG menggunakan pembobotan kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan free float dan batas bobot tertentu, penurunan harga atau perubahan free float saham HSC berkapitalisasi besar dapat menahan indeks dalam jangka pendek.
Di sisi lain, kebijakan ini dapat membuat kenaikan IHSG tidak terlalu bergantung pada segelintir saham dengan pasokan terbatas. Pergerakan indeks mungkin menjadi kurang mudah terdorong oleh lonjakan beberapa saham, tetapi lebih mencerminkan partisipasi saham likuid secara luas.
Bagi pemegang saham pengendali, peningkatan free float dapat menambah pasokan dan menekan harga untuk sementara. Namun, langkah tersebut juga berpotensi meningkatkan likuiditas, memperluas basis investor, dan membuka akses kepada investor institusi.
Dalam jangka panjang, kebijakan HSC cenderung positif bagi pasar Indonesia. Transparansi yang lebih baik membantu investor membedakan saham yang benar-benar likuid dengan saham yang hanya terlihat besar karena pasokannya terbatas.
Manfaatnya tetap bergantung pada tindak lanjut emiten. Label HSC saja tidak otomatis memperbaiki likuiditas. Perbaikan baru terjadi apabila distribusi kepemilikan meluas, keterbukaan meningkat, dan saham publik benar-benar aktif diperdagangkan.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls) Addsource on Google