MARKET DATA

Harga Batu Bara Membara Kembali, Eropa Lagi Pusing Tujuh Keliling

mae,  CNBC Indonesia
14 July 2026 07:20
Pekerja membersihkan sisa-sisa batu bara yang berada di luar kapal tongkang pada saat bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (22/11/2021). Pemerintah Indonesia berambisi untuk mengurangi besar-besaran konsumsi batu bara di dalam nege
Foto: Aktivitas Bongkar Muat Batu Bara di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (22/11/2021). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara kembali membara ditopang kenaikan harga minyak dan lonjakan suhu di Eropa.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$ 131 per ton pada perdagangan Senin (13/7/2026). Harganya melonjak 174%.

Harga penutupan kemarin menjadi kabar baik setelah harganya ambruk 2,2% pada Jumat akhir pekan lalu.

Lonjakan harga batu bara ditopang harga minyak dan gangguan pasokan.

Harga minyak melonjak pada Senin. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 9,4% hingga menembus US$78 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, menguat 9,6% hingga melampaui US$83 per barel.

Batu bara dan minyak adalah komoditas saling substitusi yang harganya saling memengaruhi.

Gelombang panas yang melanda Eropa juga mulai mengganggu rantai pasok batu bara. Permukaan air Sungai Rhein, jalur logistik utama di Jerman, turun drastis sehingga operator tongkang terpaksa memangkas muatan hingga dua pertiga dari kapasitas normal.

Di sejumlah titik, kedalaman air bahkan dilaporkan kurang dari 0,5 meter, membuat kapal tidak dapat berlayar dengan muatan penuh.

Penurunan debit air dipicu cuaca panas berkepanjangan dan minimnya curah hujan, terutama di kawasan Duisburg, Cologne, hingga Kaub, yang menjadi titik sempit pelayaran di Sungai Rhein.

Akibatnya, perusahaan pelayaran harus membagi satu pengiriman ke beberapa tongkang agar tetap dapat melintasi sungai. Kondisi ini mendorong kenaikan biaya angkut dan memperbesar ongkos distribusi batu bara ke berbagai wilayah di Eropa.

Meski demikian, pelaku pasar menilai pasokan batu bara dalam jangka pendek masih relatif aman.

Hal ini ditopang oleh stok batu bara di pembangkit listrik dan terminal penyimpanan yang masih cukup tinggi sehingga belum memicu kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan.

 

Namun, apabila cuaca kering terus berlanjut dan permukaan air Sungai Rhein tidak kunjung pulih, biaya distribusi diperkirakan akan terus meningkat. Dampaknya dapat dirasakan oleh pembangkit listrik, industri baja, serta sektor manufaktur lain yang mengandalkan jalur sungai tersebut sebagai urat nadi logistik.

Pelaku pasar kini berharap hujan yang diperkirakan turun pada akhir pekan dapat membantu mengangkat kembali permukaan air Sungai Rhein, meski perbaikannya diperkirakan tidak akan terjadi secara cepat.

Sementara itu, harga batu bara termal di pelabuhan China utara menguat tipis karena pasokan batu bara yang masuk ke pelabuhan berkurang, sehingga mengurangi tekanan pasokan.

Di sisi lain, permintaan dari pembangkit listrik dan pembeli akhir masih berhati-hati. Persediaan di pembangkit listrik masih cukup tinggi sehingga pembelian baru belum agresif.

Para pedagang mulai menahan penjualan karena harga sudah mendekati biaya produksi (cost floor), sehingga enggan memberikan diskon lebih dalam.

Pelaku pasar berharap permintaan listrik musim panas dapat meningkatkan konsumsi batu bara, tetapi belum cukup kuat untuk memicu reli harga yang signifikan.

Sentimen pasar masih dipengaruhi oleh pasokan domestik yang melimpah dan persediaan di pelabuhan maupun pembangkit yang relatif tinggi, sehingga kenaikan harga dinilai masih terbatas.

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular