MARKET DATA

10 Lembaga Dunia Ramal Harga Perak, Benarkah Masa Depannya Suram?

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
14 July 2026 14:25
silver perak
Foto: silver perak

Jakarta, CNBC Indonesia- Harga perak dunia kembali tertekan tahun ini.

Harga perak sudah jatuh 19% sepanjang tahun ini sementara harganya ambruk 38,5% sejak perang Iran-vs Israel meletus pada akhir Februari 2026. Harga perang menembus rekorĀ 

Tekanan di pasar perak muncul setelah konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran memanas sejak akhir Februari 2026. Konflik ini memicu kenaikan harga minyak yang berpotensi mengerek inflasi.Ā 

Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran inflasi akan kembali membandel. Pelaku pasar pun mulai memperkirakan bank sentral AS masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga satu kali lagi sebelum akhir tahun.

Bagi perak, prospek suku bunga yang lebih tinggi merupakan sentimen negatif. Logam mulia seperti perak tidak memberikan imbal hasil berupa bunga atau kupon.

Ketika biaya pinjaman meningkat dan imbal hasil obligasi naik, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang menawarkan return lebih menarik.

Indeks dolar AS juga menguat sehingga harga komoditas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar, termasuk perak, menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar AS. Kondisi ini mengurangi minat beli dan memperbesar tekanan harga.

Ā 

Ā Harga perak sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di US$121,64 per troy ounce pada 30 Januari 2026.

Sejak puncak tersebut, harga telah terpangkas lebih dari separuhnya. Aksi ambil untung, penguatan dolar AS, dan perubahan ekspektasi suku bunga menjadi tiga faktor yang mengubah arah pasar logam mulia dalam beberapa bulan terakhir.

Jika inflasi kembali memanas dan peluang kenaikan suku bunga semakin besar, ruang pemulihan perak dalam jangka pendek masih terlihat terbatas.

Prospek Perak Masih Suram dalam Jangka Pendek

Perak diperkirakan masih menghadapi tekanan hingga akhir 2026, bahkan bisa berlanjut ke 2027. Konflik Iran, penutupan Selat Hormuz, tingginya suku bunga, dan kekhawatiran perlambatan ekonomi membuat prospek jangka pendek logam mulia ini memburuk.

Para analis menilai investor sebaiknya tidak berharap harga perak kembali ke level tertinggi Januari kecuali muncul katalis baru yang kuat.

Berbeda dengan emas yang lebih banyak dipandang sebagai aset lindung nilai, lebih dari 50% konsumsi perak berasal dari sektor industri. Karena itu, perlambatan ekonomi global dan melemahnya aktivitas manufaktur langsung menekan permintaan perak.

Konflik Timur Tengah juga meningkatkan ketidakpastian sehingga perusahaan mengurangi investasi dan produksi.

Prospek Jangka Panjang Tetap Cerah

Meski prospek jangka pendek lemah, sebagian besar analis tetap optimistis terhadap perak dalam jangka panjang.

Alasannya antara lain:

  • pasokan perak dunia masih mengalami defisit selama beberapa tahun terakhir,
  • produksi tambang tidak mampu mengejar pertumbuhan permintaan,
  • kebutuhan industri energi hijau, terutama panel surya, masih tinggi,
  • investasi dapat kembali meningkat ketika kondisi ekonomi membaik.

Nicky Shiels, Kepala Riset dan Strategi di MKS PAMP, mengatakan bahwa meskipun prospek jangka panjang perak masih tetap positif, prospek jangka pendeknya masih cenderung bearish.

"Perak, sebagai logam mulia dengan karakteristik high-beta (lebih sensitif terhadap pergerakan pasar), berada di antara dua peran, yaitu sebagai aset moneter/investasi dan sebagai komoditas industri." Ujar Shiels, dikutip dari devere-group.com.

Harga Emas Menjadi Penentu

Jika emas mampu mencetak rekor harga baru, perak diperkirakan akan mengikuti reli tersebut.

Menurut mereka, harga perak bahkan berpotensi kembali ke level tertinggi Januari tetapi syarat utamanya adalah emas lebih dulu menguat.

Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank, mengatakan bahwa kondisi pasar saat ini sudah tidak lagi terlalu mendukung pergerakan harga perak.

Karena itu, perak membutuhkan katalis baru agar mampu kembali ke level tertinggi yang dicapai pada Januari.

"Secara historis, harga perak saat ini sudah relatif mahal dibandingkan emas. Namun, hal itu tidak berarti harga perak tidak bisa naik lebih tinggi lagi" ujarnya.

Dia menambahkan perak membutuhkan katalis baru, seperti meningkatnya permintaan industri, semakin ketatnya pasokan fisik, atau kembali menguatnya minat spekulatif investor, agar dapat mengungguli kinerja emas secara signifikan.

Harga emas sendiri turun tajam sejak Januari akibat penguatan dolar AS, ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama, dan perpindahan dana investor ke obligasi, saham teknologi, dan kecerdasan buatan (AI).

CEO deVere Group Nigel Green memperkirakan setelah konflik Iran mereda, emas berpotensi kembali menguat hingga US$5.500 per troy ons dalam 12 bulan ke depan. Reli emas tersebut dapat menjadi katalis utama bagi kenaikan harga perak.

Analis BlackRock menilai karakteristik perak yang lebih volatil dibandingkan emas membuat porsinya dalam portofolio investasi biasanya lebih kecil. Namun, perak tetap berperan penting dalam meningkatkan diversifikasi investasi.

"Perak memiliki volatilitas yang lebih tinggi dan pergerakan harganya lebih bersifat siklikal dibandingkan emas. Meski tidak selalu memberikan manfaat yang sama seperti emas, perak dapat meningkatkan diversifikasi portofolio sepanjang siklus pasar dengan menawarkan potensi kenaikan yang lebih besar saat ekonomi tumbuh, reflasi terjadi, dan aktivitas industri meningkat," ujar analis BlackRock.

Karena volatilitasnya yang lebih tinggi, porsi investasi perak dalam sebuah portofolio umumnya lebih kecil dibandingkan porsi emas."

Proyeksi Bank-Bank Besar

Pandangan lembaga keuangan terhadap harga perak relatif berhati-hati.

  • UBS memangkas target harga perak akhir 2026 menjadi US$80 per troy ons dari sebelumnya US$85 karena permintaan industri melemah.
  • HSBC memperkirakan rata-rata harga perak tahun ini US$75 dan turun menjadi US$68 pada 2027.
  • Commerzbank juga memproyeksikan harga perak di sekitar US$80 pada akhir tahun.
  • Bank of America menilai perak masih bisa kembali ke US$100 jika emas reli, tetapi kenaikan tersebut diperkirakan tidak berlangsung lama karena fundamental permintaan masih lemah.

Analis memperkirakan harga perak akan bergerak di kisaran US$70-90 per troy ons dalam beberapa bulan mendatang.

Arah pergerakan harga akan sangat dipengaruhi oleh keputusan suku bunga Federal Reserve, perkembangan konflik Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz, pertumbuhan ekonomi global, serta permintaan industri, terutama dari sektor energi hijau dan elektronik.

CNBCĀ Indonesia Research

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular