MARKET DATA

Di Tengah Badai IHSG, Ini Deretan Emiten yang Masih Layak Diburu

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
13 July 2026 14:00
Saham "Tanpa Tuan", Ini 10 Emiten RI dengan Free Float Tertinggi
Foto: Infografis/ Saham

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar saham Indonesia memasuki semester II-2026 dengan tantangan yang tidak ringan. Harapan pemangkasan suku bunga mulai bergeser menuju kemungkinan suku bunga yang higher for longer, menyusul tekanan inflasi global, ketidakpastian geopolitik dan kebutuhan menjaga stabilitas rupiah.

Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate dari 4,75% pada April menjadi 5,75% pada Juni 2026. Kebijakan tersebut ditempuh untuk memperkuat stabilisasi rupiah sekaligus menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5% plus minus 1%.

Selain itu juga lembaga penyedia indeks MSCI menyatakan kegelisahannya di dalam pasar Indonesia yang diindikasikan memiliki kecenderungan coordinated trading behavior yang menyebabkan IHSG terperosok ke area oversold ekstrim di level 5.300-an walaupun sudah sempat rebound namun tetap bertengger di bawah 6.000.

Dengan ini IHSG akan sangat sulit kembali ke bull market apabila IHSG masih belum bisa close weekly candlenya di atas level 6.450 secara solid. Harapan masih ada namun perbaikan dari sisi sentimen publik masih menjadi peran penting untuk mengundang investor kembali ke bursa.

Tekanan juga datang dari luar negeri. Federal Reserve mempertahankan suku bunga Amerika Serikat pada kisaran 3,50%-3,75%. Risalah rapat Juni menunjukkan ekspektasi pasar mengarah pada tidak adanya perubahan suku bunga hingga awal 2027, dengan peluang pemangkasan baru muncul pada kuartal II-2027.

Dalam kondisi tersebut, investor perlu mengutamakan perusahaan yang memiliki visibilitas laba, neraca sehat dan valuasi yang masih rasional. Tidak seluruh sektor akan terkena dampak yang sama.

Perbankan sangat sensitif terhadap suku bunga dan nilai tukar, pertambangan bergantung pada siklus komoditas, sementara telekomunikasi dan healthcare memiliki karakter permintaan yang relatif lebih defensif.

Peta Sektoral Semester II-2026

Status overweight tidak berarti seluruh saham dalam satu sektor otomatis menarik. Pemilihan tetap mempertimbangkan kualitas laba, kondisi neraca dan harga yang telah dibayar investor.

Target Harga hingga Akhir 2026

Harga berikut menggunakan harga perdagangan intraday Senin (13/7/2026). Seluruh proyeksi laba, valuasi dan target hingga Desember 2026 merupakan hasil perhitungan internal berdasarkan laporan keuangan publik sampai kuartal I-2026 dan perkembangan operasional terbaru.


Target tersebut merupakan skenario dasar. Pencapaiannya tetap bergantung pada arah BI Rate, stabilitas rupiah, perkembangan konflik geopolitik dan realisasi laba perusahaan.

Perbankan: Overweight Selektif

Sektor perbankan memiliki keterkaitan paling kuat dengan kebijakan ekonomi domestik maupun internasional. BI Rate, kondisi likuiditas, permintaan kredit, kebijakan fiskal dan kualitas aset secara langsung memengaruhi pendapatan dan biaya bank.

Faktor global juga memiliki peran besar. Kebijakan The Fed, pergerakan dolar, imbal hasil US Treasury dan harga energi menentukan arus modal serta ruang Bank Indonesia dalam menurunkan suku bunga. Ketika dolar dan imbal hasil obligasi AS meningkat, penurunan BI Rate berisiko menambah tekanan terhadap rupiah.

Higher for longer dapat memberikan dua dampak berbeda. Bunga kredit dan imbal hasil aset produktif dapat meningkat, tetapi biaya deposito dan wholesale funding juga ikut naik. Bank dengan proporsi dana murah besar berada dalam posisi lebih baik.

PT Bank Central Asia (BBCA( menjadi pilihan kualitas karena memiliki basis CASA, profitabilitas dan kualitas aset yang kuat. PT Bank Mandiri (BMRI) menawarkan kombinasi paling seimbang antara kualitas dan valuasi. PT Bank Negara Indonesia (BBNI) menjadi pilihan deep value dengan PBV di bawah satu kali, sedangkan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menawarkan potensi pemulihan meski risiko kredit mikro perlu diperhatikan.

Secara industri, kredit perbankan pada April 2026 tumbuh 9,98% secara tahunan dan kredit bank BUMN tumbuh 14,35%. Dana pihak ketiga meningkat 11,39%, sehingga likuiditas masih relatif terjaga.

Dengan valuasi PE 2027 antara 5,1-11,1 kali, koreksi harga pada bank-bank besar telah memberikan margin of safety lebih baik dibandingkan posisi valuasi historisnya. Namun, rerating kemungkinan berlangsung bertahap selama kepastian arah bunga dan rupiah belum terbentuk.

4 Bank Terbaik Penopang Ekonomi RI 20234 Bank Terbaik Penopang Ekonomi RI 2023 Foto: Infografis/4 Bank Terbaik Penopang Ekonomi RI 2023/ Aristya Rahadian

Mineral: Overweight Selektif

Prospek sektor mineral ditopang oleh kebutuhan tembaga untuk elektrifikasi, penggunaan emas sebagai aset lindung nilai dan kelanjutan agenda hilirisasi. Emiten dengan pendapatan berbasis dolar juga memperoleh perlindungan alami ketika rupiah melemah.

Meski demikian, sektor ini sangat siklikal. Harga nikel, tembaga dan emas dapat berubah cepat mengikuti permintaan global, kondisi ekonomi China, kebijakan produksi dan perkembangan geopolitik. Karena itu, laba perlu dinormalisasi agar valuasi tidak terlihat murah hanya karena harga komoditas sedang tinggi.

PT Aneka Tambang (ANTM )menawarkan diversifikasi melalui emas, nikel dan bauksit. Bisnis emas dapat menjadi penyeimbang ketika harga nikel melemah. Target Rp3.300 tidak mengasumsikan lonjakan laba 2026 akan berlanjut tanpa normalisasi.

PT Amman Mineral Internasional (AMMN) menawarkan pertumbuhan lebih tinggi dari ramp-up tambang, smelter tembaga dan fasilitas pemurnian emas. Ekspektasi tersebut membuat PE turun dari 14,9 kali pada 2026 menjadi sekitar 9,5 kali pada 2027. Namun, risiko keterlambatan produksi dan kenaikan biaya tetap perlu diperhitungkan.

PT Trimegah Bangun Persada (NCKL) menjadi saham dengan valuasi terendah dalam kelompok ini. Sahamnya diperdagangkan sekitar 4,5 kali estimasi laba 2027. Potensi rerating besar diimbangi sensitivitas terhadap harga nikel, royalti, energi dan kontribusi perusahaan patungan.

Karyawati menunjukkan emas PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) di salah satu gallery penjualan emas di Jakarta, Selasa (16/7/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Karyawati menunjukkan emas PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) di salah satu gallery penjualan emas di Jakarta, Selasa (16/7/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Telekomunikasi: Overweight

Telekomunikasi memiliki karakter pendapatan berulang dan permintaan data yang terus meningkat. Kebutuhan konektivitas tidak hanya berasal dari konsumen ritel, tetapi juga korporasi, cloud, artificial intelligence dan data center.

PT Telkom Indonesia (TLKM) menawarkan eksposur paling lengkap melalui jaringan seluler, fiber, menara, cloud dan data center. Pada PE 2027 sekitar 9,6 kali, valuasinya masih cukup rendah untuk perusahaan dengan skala infrastruktur nasional.

Katalis TLKM berasal dari pertumbuhan ARPU, monetisasi aset digital dan penataan portofolio. Namun, kebutuhan belanja modal dan percepatan depresiasi selama transformasi tetap dapat menahan pertumbuhan laba jangka pendek.

PT Indosat (ISAT) menawarkan profil pertumbuhan lebih tinggi dengan PE 2027 sekitar 8,3 kali. Laba kuartal I-2026 tumbuh dua digit, sementara peningkatan monetisasi trafik data dan integrasi layanan berbasis AI dapat memperkuat pendapatan per pelanggan.

PT DCI Indonesia (DCII) tidak masuk dalam shortlist meskipun prospek data center kuat. Pada harga sekitar Rp198.750, saham tersebut diperdagangkan sekitar 495 kali laba historis. Bahkan dalam skenario pertumbuhan laba agresif, forward PE masih berada di atas 100 kali. Bisnisnya prospektif, tetapi harga belum memberikan margin of safety yang memadai.

Dok TelkomDok Telkom Foto: Dok Telkom

Healthcare: Overweight Selektif

Sejak awal 2026, sektor kesehatan telah ditempatkan sebagai salah satu sektor paling prospektif. Pertimbangannya tidak hanya berasal dari valuasi, tetapi juga kebutuhan layanan kesehatan yang relatif sulit ditunda.

Pandangan terhadap sektor ini tetap perlu dibuat berimbang. Pertumbuhan pasien belum tentu langsung menghasilkan pertumbuhan margin karena rumah sakit juga menghadapi biaya tenaga medis, obat, alat kesehatan dan ekspansi fasilitas. Kebijakan BPJS, perubahan tarif serta pelemahan rupiah dapat memengaruhi profitabilitas.

Dari sisi konsumen, penggunaan layanan kesehatan bergerak menuju pemeriksaan rutin, diagnostik, tindakan spesialis dan penanganan penyakit yang lebih kompleks.

Pertumbuhan kelas menengah dan meningkatnya kesadaran kesehatan membuat sebagian masyarakat bersedia membayar lebih untuk akses cepat dan layanan dengan teknologi lebih tinggi.

PT Mitra Keluarga Karyasehat (MIKA) berada dalam posisi menarik karena memiliki basis pasien swasta yang kuat dan eksposur JKN relatif rendah. Kondisi tersebut membuat pendapatan dan arus kasnya lebih terlindungi dari risiko keterlambatan pembayaran BPJS.

Berdasarkan laporan kuartal I-2026 dan estimasi internal, laba bersih MIKA sepanjang 2026 diproyeksikan mendekati Rp1,54 triliun. Dua rumah sakit baru ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV-2026, meskipun kontribusi laba yang lebih besar kemungkinan baru terlihat pada 2027.

PT Jayamas Medica Industri (OMED) memberikan eksposur terhadap pertumbuhan kebutuhan alat diagnostik, perlengkapan medis sekali pakai, produk laboratorium dan peralatan rumah sakit. Pendapatan kuartal I-2026 tumbuh sekitar 31% menjadi Rp572 miliar, sedangkan laba bersih meningkat sekitar 33% menjadi Rp97 miliar.

Pertumbuhan rumah sakit, pemeriksaan kesehatan, belanja pemerintah dan substitusi impor alat medis memberikan fondasi bagi OMED. Berdasarkan tren kuartal pertama dan kapasitas produksinya, laba bersih 2026 diperkirakan mendekati Rp430 miliar.

Sektor ini tetap memperoleh label overweight selektif karena tidak seluruh operator memiliki komposisi pasien, neraca dan valuasi yang sama. MIKA memberikan eksposur langsung terhadap layanan rumah sakit, sedangkan OMED mendapat manfaat dari peningkatan kebutuhan alat kesehatan di berbagai operator.

RS Mitra Keluarga Depok, Tempat Pasien Positif Corona Pernah Periksakan Diri. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)RS Mitra Keluarga Depok, Tempat Pasien Positif Corona Pernah Periksakan Diri. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Ruang Kenaikan Bergantung pada Arah Bunga

Target akhir 2026 menggunakan asumsi BI Rate bertahan di sekitar 5,75%, The Fed belum memangkas bunga secara agresif dan rupiah masih menghadapi volatilitas.

Untuk perbankan, target dihitung menggunakan estimasi nilai buku dan sustainable return on equity, kemudian dibandingkan dengan PE. Untuk emiten nonbank, estimasi laba 2027 dikalikan dengan target PE konservatif. Pada perusahaan komoditas, proyeksi laba telah dinormalisasi agar tidak bergantung pada harga komoditas di titik tertinggi.

Apabila rupiah stabil dan inflasi global mereda, peluang pemangkasan bunga dapat kembali terbuka dan mendorong rerating saham. Sebaliknya, kenaikan BI Rate lanjutan, memburuknya konflik geopolitik atau penurunan proyeksi laba dapat membuat harga bergerak di bawah target dasar tersebut.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular