MARKET DATA

Dolar Mengamuk: Rupiah, Yen, Ringgit Hingga Won Ambruk Berjamaah

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
13 July 2026 09:37
Mata uang asia. (Dok. Pexels)
Foto: Mata uang asia. (Dok. Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia kompak tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan, Senin (13/7/2026). Tekanan terjadi setelah dolar AS kembali menguat di pasar global, dipicu memanasnya konflik di Timur Tengah.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, sebanyak sembilan mata uang melemah terhadap dolar AS, sementara satu mata uang stagnan.

Rupiah kembali menjadi salah satu mata uang yang terbakar pada pagi ini. Mata uang Garuda melemah 0,39% ke posisi Rp18.115/US$. Posisi ini membuat rupiah semakin jauh di atas level psikologis Rp18.000/US$.

Tekanan terdalam pagi ini dialami won Korea Selatan yang melemah 0,38% ke posisi KRW 1.504,5/US$. Rupiah menyusul sebagai mata uang dengan koreksi terdalam kedua di Asia.

Baht Thailand juga tertekan cukup dalam setelah melemah 0,30% ke posisi THB 33,35/US$. Yen Jepang terkoreksi 0,21% ke JPY 162,02/US$, sementara ringgit Malaysia turun 0,20% ke MYR 4,075/US$.

Dolar Singapura turut melemah 0,15% ke posisi SGD 1,293/US$, disusul peso Filipina yang turun 0,09% ke PHP 61,574/US$.

Tekanan lebih tipis terlihat pada yuan China yang melemah 0,05% ke CNY 6,78/US$, serta dolar Taiwan yang terkoreksi 0,02% ke TWD 32,094/US$.

Adapun dong Vietnam menjadi satu-satunya mata uang yang tidak bergerak pada pagi ini, bertahan di posisi VND 26.261/US$.

Melemahnya mata uang negara-negara Asia pagi ini terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS (DXY). DXY terpantau menguat 0,19% ke posisi 101,141 pada waktu yang sama. Penguatan DXY ini menunjukkan dolar AS kembali diburu pelaku pasar.

Dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama dunia setelah konflik di Timur Tengah kembali memanas. Pada akhir pekan, pasukan AS dan Iran saling melancarkan serangan rudal dan drone dalam skala besar.

Teheran menargetkan fasilitas AS di sejumlah negara Teluk pada Minggu. Iran juga menyatakan kembali menutup Selat Hormuz, jalur penting perdagangan energi global.

Kondisi tersebut langsung mengerek harga minyak pada awal perdagangan Asia. Harga minyak Brent naik 3,3% ke US$78,49 per barel.

Tony Sycamore, market analyst IG di Sydney, mengatakan penguatan dolar AS kali ini sangat terkait dengan kenaikan harga minyak.

"Setelah eskalasi pada akhir pekan lalu yang berlanjut sepanjang akhir pekan, dolar merespons, dan harga minyak mentah menjadi pendorongnya," ujar Sycamore, dikutip dari Reuters.

Menurutnya, kenaikan harga energi kembali menyalakan kekhawatiran bahwa inflasi bisa meningkat lagi. Jika harga energi terus naik, pasar dapat mulai mempercepat ekspektasi kenaikan suku bunga.

"Ini kembali menyalakan kekhawatiran bahwa jika harga energi naik dari sini, kita bisa mulai melihat kenaikan suku bunga dimajukan," ujar Sycamore.

Pelaku pasar kini mulai condong memperkirakan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) dapat menaikkan suku bunga dua kali hingga akhir tahun. Berdasarkan CME FedWatch, fed funds futures memperhitungkan peluang 52,1% untuk dua kali atau lebih kenaikan suku bunga hingga rapat Desember. Angka ini naik dari 47,6% pada Jumat pekan lalu.

Westpac dalam risetnya menilai risiko inflasi masih akan menjadi fokus pasar pekan ini. Perhatian investor tertuju pada rilis data inflasi konsumen AS atau CPI pada Selasa, disusul data produsen atau PPI pada hari berikutnya, serta testimoni Ketua The Fed Kevin Warsh di hadapan DPR dan Senat AS.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular