MARKET DATA

Harga Minyak Turun, Bandar & Investor Tak Lagi Takut Perang AS-Iran

mae,  CNBC Indonesia
11 July 2026 08:30
The sun sets behind an idle pump jack near Karnes City, Texas, Wednesday, April 8, 2020. Demand for oil continues to fall due to the new coronavirus outbreak. (AP Photo/Eric Gay)
Foto: Ilustrasi Kilang Minyak (AP/Eric Gay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia ditutup melemah tipis pada perdagangan Jumat (10/7/2026). Namun, harganya tetap melonjak dalam sepekan ini.

Merujuk Refinitiv, pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (10/7/2026), harga minyak brent pengiriman September turun 0,38% menjadi US$76,01 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,93% ke US$71,41 per barel.

Pelemahan ini memperpanjang tren negatif harga minyak di mana harga minyak brent melemah 2,6% dalam dua hari terakhir sementara WTI jatuh 2,9%.

Kendati demikian, sepanjang pekan ini harga minyak brent menguat sekitar 5,4%, sedangkan WTI naik sekitar 4%.

Kenaikan harga minyak mulai terpangkas setelah muncul kabar bahwa mediator Qatar berada di Iran untuk bertemu pejabat setempat dalam upaya meredakan ketegangan.

Menurut kantor berita Iran, Tasnim, mediator Qatar optimistis kedua pihak akan kembali ke meja perundingan setelah bentrokan yang terjadi pada Selasa lalu.

Presiden Amerika Serkat (AS) Donald Trump pada Jumat menyatakan bersedia melanjutkan pembicaraan dengan Iran untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.

Namun, ia menegaskan bahwa gencatan senjata yang berlaku sejak April telah berakhir setelah kembali pecahnya konflik pekan ini.

Trump juga mengatakan telah memerintahkan Pentagon untuk melancarkan serangan terhadap Iran pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya apabila dirinya dibunuh akibat dugaan rencana yang melibatkan Republik Islam Iran.

Meski demikian, ia mengisyaratkan tidak ada indikasi adanya ancaman terbaru terhadap dirinya.

Analis Commerzbank, Barbara Lambrecht, mengatakan premi risiko yang tercermin pada harga minyak saat ini masih relatif rendah dibandingkan periode Maret hingga Mei.

"Hal ini menunjukkan sebagian besar pelaku pasar menganggap peristiwa terbaru hanya sebagai gangguan sementara," ujarnya, dikutip dari Reuters.



Pada Kamis, militer Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer AS di sejumlah negara Teluk Persia sebagai balasan atas serangan udara Washington ke wilayah pesisir selatan dan timur Iran.

Bentrok dalam dua hari terakhir dilaporkan menewaskan sedikitnya 14 orang di wilayah Iran.

Media Iran juga melaporkan sejumlah ledakan di selatan negara itu, termasuk di kawasan Bushehr yang menjadi lokasi salah satu pembangkit listrik tenaga nuklir Iran.

 

Selat Hormuz, yang sebelum perang pada 28 Februari dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia setiap hari, hingga kini belum kembali beroperasi secara normal.

Laporan Lloyd's List Intelligence yang dirilis Kamis menyebut kapal-kapal yang masih melintasi kawasan tersebut memilih menggunakan jalur di dekat pantai Iran yang diizinkan Teheran, alih-alih rute maritim Oman yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Analis PVM Energy, Tamas Varga, menilai investor minyak merespons penurunan lalu lintas kapal di Selat Hormuz dengan cukup tenang, bahkan cenderung acuh tak acuh.

Menurutnya, perubahan arah harga minyak dari tren penurunan setelah lonjakan pada Selasa dan Rabu juga dipengaruhi kekhawatiran trader terhadap lemahnya permintaan global.

Sementara itu, Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperingatkan bahwa eskalasi konflik terbaru antara Washington dan Teheran berpotensi mengganggu proyeksi surplus pasokan minyak dunia pada tahun depan.

 

Dalam proyeksi terbarunya, IEA memperkirakan konsumsi minyak global akan turun sekitar 1 juta barel per hari pada 2026.

Meskipun pasokan global mulai membaik seiring sebagian aktivitas di Selat Hormuz kembali berjalan, produksi minyak masih jauh di bawah level sebelum konflik.

IEA juga memangkas proyeksi produksi minyak Rusia akibat serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi negara tersebut.

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular