Jangan Keliru! Ini Bedanya LPG, CNG, dan LNG
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah tengah mengkaji pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) ukuran 3 kilogram sebagai salah satu alternatif pengganti LPG subsidi. Langkah ini ditempuh untuk menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang terus menguras devisa.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, Indonesia mengimpor sekitar 8,6 juta ton LPG setiap tahun. Nilai devisa yang dikeluarkan untuk membeli LPG mencapai sekitar Rp130 triliun hingga Rp140 triliun per tahun, sementara anggaran subsidi berada di kisaran Rp80 triliun-Rp87 triliun.
"CNG ini untuk 3 kilogram, masih kita melakukan exercise dan uji coba terhadap tabungnya. CNG ini diharapkan dalam rangka mencari salah satu alternatif terhadap substitusi impor kita yang besar," kata Bahlil usai cara pelantikan di Kementerian ESDM, dikutip Kamis (7/5/2026)
Di tengah pembahasan tersebut, istilah LPG, CNG, dan LNG semakin sering muncul. Padahal, ketiganya merupakan jenis gas dengan karakteristik yang berbeda.
Â
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan bahwa LNG dan CNG pada dasarnya memiliki kandungan yang hampir sama, yakni didominasi metana atau C1. Sementara LPG didominasi propana (C3) dan butana (C4).
"Jadi kalau LNG sama CNG itu kontennya sama, sama-sama mayoritas C1 dan sedikit C2. Tapi kalau LPG dia C3 dan C4. Nah lapangan kita itu sedikit yang menghasilkan LPG," kata Laode dalam acara Podcast dikutip Selasa (19/5/2026).
Perbedaan komposisi ini membuat bentuk fisiknya ikut berbeda. LPG secara alami lebih mudah berada dalam fase cair pada tekanan tertentu. Karena itu, LPG dapat disimpan dalam tabung bertekanan moderat seperti tabung melon 3 kilogram yang digunakan masyarakat.
Sementara itu, CNG merupakan gas alam yang dipadatkan melalui tekanan tinggi. Kandungannya didominasi metana dan tetap disimpan dalam fase gas. Penggunaannya cukup luas, mulai dari kendaraan berbahan bakar gas, transportasi umum, hingga sektor industri.
INFOGRAFIS, Indonesia Masuk 5 Negara Terbesar Eksportir Gas Foto: Infografis/Ekspor LNG Indonesia/Edward Ricardo |
Â
Dari sisi lingkungan, CNG menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih rendah dibandingkan bensin dan solar. Jika terjadi kebocoran, gas ini juga lebih cepat menguap ke udara karena massa jenisnya lebih ringan.
Berbeda lagi dengan LNG. LNG merupakan gas alam yang didinginkan hingga sekitar minus 162 derajat Celsius sehingga berubah menjadi cair. Proses pencairan membuat volumenya menyusut hingga sekitar 600 kali dibandingkan bentuk gasnya. Kondisi ini membuat LNG lebih efisien untuk penyimpanan dan pengiriman dalam jumlah besar.
Karena kepadatan energinya tinggi, LNG banyak digunakan untuk pembangkit listrik, industri besar, kapal, dan truk jarak jauh. Namun, distribusi LNG membutuhkan fasilitas khusus berupa tangki kriogenik yang mampu mempertahankan suhu sangat rendah.
Dari perspektif ketahanan energi, masing-masing gas memiliki fungsi yang berbeda. LPG selama ini menjadi tulang punggung kebutuhan memasak rumah tangga. CNG lebih cocok untuk substitusi energi di sektor transportasi dan sebagian kebutuhan rumah tangga di wilayah yang dekat dengan sumber gas. Sementara LNG berperan besar dalam menopang kebutuhan energi skala industri dan pembangkit listrik.
Perbedaan inilah yang membuat wacana pengembangan CNG sebagai pengganti LPG tidak sesederhana mengganti isi tabung. Infrastruktur distribusi, desain tabung, hingga pola konsumsi masyarakat menjadi faktor yang ikut menentukan keberhasilannya.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/emb) Addsource on Google
