MARKET DATA

Bukan Saham Viral! 8 Emiten Ini Justru Murah & Rajin Bagi Dividen

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
13 July 2026 11:16
Pengunjung mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (4/6/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Pengunjung mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (4/6/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham berfundamental positif tidak selalu datang dari kelompok blue chip atau nama-nama yang setiap hari ramai dibicarakan investor ritel di media sosial.

Hasil penyaringan terhadap saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) menemukan delapan emiten dengan kombinasi valuasi rendah, laba bersih positif, serta riwayat pembagian dividen yang relatif menarik.

Penyaringan dilakukan menggunakan empat indikator awal, yakni price to earnings ratio atau PER di bawah 9 kali, price to book value atau PBV di bawah 0,5 kali, laba bersih trailing 12 months (TTM) positif, serta rata-rata dividend yield lima tahun di atas 5%.

Hasilnya, muncul LTLS, WOMF, TUGU, BJBR, ABMM, CFIN, LPIN, dan TBLA. Sebagian nama tersebut mungkin tidak sepopuler bank-bank besar, emiten teknologi, atau saham konglomerasi yang aktif diperdagangkan.

Bukan Nama Populer, tetapi Bisnisnya Riil

Kedelapan emiten berasal dari sektor yang sangat beragam. Karena itu, rasio valuasi mereka tidak dapat dibandingkan mentah-mentah tanpa mempertimbangkan karakter masing-masing industri.

Berdasarkan catatan terakhir emiten yang didapat pada 10 Juli 2026, seluruh saham tersebut diperdagangkan pada PER kurang dari 9 kali dan PBV kurang dari 0,5 kali.

Secara matematis, PER 4,21-8,23 kali setara dengan earnings yield sekitar 12,2%-23,8%. Namun earnings yield bukan proyeksi keuntungan yang pasti diterima investor karena laba dapat naik maupun turun.

PBV sebesar 0,22-0,49 kali juga berarti harga pasar hanya menghargai perusahaan sebesar 22%-49% dari nilai buku. Diskon tersebut terlihat menarik, tetapi belum otomatis menandakan pasar salah memberi harga.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular