MARKET DATA

6 Emiten Baru "Lahir" di Bursa Pekan Ini, Siapa Bayi Paling Ajaib?

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
10 July 2026 14:05
IPO RANS dihadiri sejumlah tokoh penting, seperti Haji Isam, Boy Thohir, hingga Anindya Bakrie. (CNBC Indonesia/Mentari Puspadini)
Foto: IPO RANS dihadiri sejumlah tokoh penting, seperti Haji Isam, Boy Thohir, hingga Anindya Bakrie. (CNBC Indonesia/Mentari Puspadini)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali diramaikan enam emiten baru yang melantai secara beruntun sepanjang pekan ini (7-10 Juli 2026).

Seluruh saham tersebut masih bertahan di atas harga penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO), meski beberapa mulai mengalami koreksi tajam dari harga tertingginya.

Enam saham tersebut adalah PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), dan PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS).

Berdasarkan harga hingga penutupan sesi I perdagangan Jumat (10/7/2026), PRDL mencatatkan kenaikan terbesar, yakni 81,67% dari harga IPO. Sementara itu, EMMI menjadi emiten dengan kenaikan paling tipis sebesar 4,26%.

Dalam tabel tersebut, "sentuh ARA" berarti saham sempat diperdagangkan pada batas auto rejection atas, sedangkan "tutup ARA" berarti saham bertahan pada batas tersebut sampai penutupan perdagangan. Khusus perdagangan 10 Juli, perhitungannya masih menggunakan penutupan sesi I.

PRDL Paling Kencang, JELI Paling Dramatis

PRDL menjadi pemimpin parade saham IPO Juli. Saham produsen alat diagnostik tersebut langsung dibuka ARA 35% di Rp162 pada perdagangan perdananya. Sehari berikutnya, PRDL kembali ARA ke Rp218.

Dengan demikian, investor yang memperoleh PRDL di harga IPO Rp120 telah mengantongi keuntungan 81,67% dalam dua hari perdagangan.

JELI berada di posisi kedua. Saham produsen makanan dan minuman bermerek Inaco itu mencatatkan ARA selama empat hari berturut-turut secara intraday. JELI bergerak dari harga IPO Rp900 menjadi Rp1.125, Rp1.405, Rp1.755, kemudian sempat mencapai Rp2.190 pada Jumat pagi.

Namun, setelah menyentuh Rp2.190, JELI langsung berbalik ke Rp1.495 pada akhir sesi I. Artinya, saham tersebut terkoreksi 31,74% dari posisi tertinggi hariannya, meskipun masih memberikan keuntungan 66,11% dari harga IPO.

JECX dan BACH Mulai Kehilangan Momentum

Pola serupa terlihat pada JECX dan BACH. JECX sempat dua kali ditutup ARA hingga mencapai Rp1.950. Akan tetapi, saham pengelola jaringan rumah sakit mata tersebut kemudian turun ke Rp1.425.

Posisi itu masih 14% di atas harga IPO Rp1.250, tetapi sudah 26,92% di bawah harga tertingginya. Harga sekarang juga 8,65% lebih rendah dibandingkan harga pembukaan debut Rp1.560.

BACH juga sempat menyentuh Rp685 pada hari kedua perdagangan. Namun, saham perusahaan penyedia genset dan infrastruktur telekomunikasi itu turun menjadi Rp500 pada akhir sesi I Jumat. BACH masih memberikan keuntungan 13,12% dari harga IPO Rp442, tetapi telah kehilangan 27,01% dari puncaknya.

EMMI mencatatkan pergerakan yang relatif lebih terbatas. Sahamnya dibuka Rp480, sempat menyentuh ARA di Rp585, tetapi kemudian turun dan berada di Rp490. Dengan posisi tersebut, keuntungan investor IPO tersisa 4,26%.

Sementara RANS langsung menyentuh ARA pada debutnya. Saham perusahaan media dan hiburan milik Raffi Ahmad tersebut berada di Rp228 atau naik 34,12% dari harga IPO Rp170 hingga penutupan sesi pertama.

Satu Lot Masing-Masing Untung Hampir 30%

Jika investor memperoleh masing-masing satu lot dari keenam saham tersebut di harga IPO, total modal yang dibutuhkan mencapai Rp335.200.

Pada harga sesi I Jumat, nilai keranjang tersebut meningkat menjadi Rp435.600. Dengan demikian, keuntungan teoritisnya mencapai Rp100.400 atau 29,95%, belum termasuk biaya transaksi.

Sementara rata-rata sederhana kenaikan keenam saham mencapai 35,55%. Meski seluruhnya masih berada di zona hijau, koreksi JELI, JECX, dan BACH memperlihatkan bahwa rangkaian ARA tidak selalu menjamin harga akan bertahan di puncaknya.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular