China & Australia Beri Kabar Baik Buat Pengusaha Batu Bara RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara masih dalam tren menanjak.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Kamis (9/7/2026) ditutup di posisi US$ 131,65 per ton. Harganya menguat 0,61%.
Harga penutupan kemarin adalah yang tertinggi sejak 17 Juni 2026 atau tiga minggu lebih.
Penguatan ini memperpanjang tren positif batu bara dengan menguat 2,8% dalam dua hari terakhir.
Harga batu bara naik ditopang masih tingginya harga minyak serta sejumlah kabar baik.
Australia Optimis Ekspor Meningkat
Australia memperkirakan harga batu bara metalurgi stabil hingga 2031 dan ekspor meningkat
Menurut laporan prospek kuartalan Kementerian Industri, Sains, dan Sumber Daya Australia, Australia tetap menjadi eksportir batu bara metalurgi terbesar di dunia pada 2025-2026 dengan ekspor mencapai 147 juta metrik ton, di mana lebih dari 95% produksinya dikirim ke pasar luar negeri.
Harga batu bara metalurgi diperkirakan relatif stabil secara riil hingga 2031.
Sementara itu, volume ekspor diproyeksikan meningkat seiring bertambahnya produksi dari tambang-tambang utama. Namun, pendapatan ekspor diperkirakan menurun secara bertahap selama periode tersebut meski harga tetap relatif stabil.
Â
Laporan itu juga mencatat konflik di Timur Tengah hanya berdampak terbatas terhadap pasokan batu bara metalurgi. Namun, kenaikan biaya asuransi, pengiriman, dan solar telah meningkatkan biaya perdagangan.
Impor batu bara metalurgi global melalui jalur laut tetap berada di kisaran 25-30 juta metrik ton per bulan. Produksi baja dengan basic oxygen furnace (BOF) masih mendominasi, meski penggunaan electric arc furnace (EAF) terus meningkat sejak 2020.
Rute pelayaran yang lebih panjang, terutama antara kawasan Atlantik dan Asia, membuat biaya pengiriman meningkat sehingga meningkatkan daya saing relatif pemasok Australia.
Meski perlambatan ekonomi global akibat konflik Timur Tengah dapat memengaruhi permintaan, Australia memperkirakan perdagangan batu bara metalurgi global akan tetap stabil selama tidak terjadi gangguan tambahan.
India dan Asia Tenggara diperkirakan menjadi sumber utama pertumbuhan permintaan karena produksi baja secara bertahap bergeser dari China.
Di sisi lain, meningkatnya penggunaan teknologi EAF diperkirakan akan mengurangi porsi produksi baja berbasis BOF yang lebih intensif menggunakan batu bara, sehingga membatasi pertumbuhan permintaan batu bara metalurgi dalam jangka panjang.
China Naikkan Target EBT, Batu Bara Tetap Tinggi
China menargetkan 25% konsumsi energinya berasal dari sumber nonfosil pada 2030, naik dari 21,7% pada 2025.
Dalam rencana 2026-2030, pemerintah juga menargetkan penurunan intensitas emisi karbon sebesar 17% dan konsumsi energi per Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar 10% dibandingkan 2025.
Untuk mencapainya, China akan mempercepat pembangunan energi bersih agar seluruh pertumbuhan kebutuhan listrik dipenuhi oleh pembangkit baru berbasis energi terbarukan.
Â
Pemerintah juga menargetkan pembangunan 100 kawasan industri nol karbon, 500 pabrik nol karbon, serta meningkatkan porsi kendaraan energi baru menjadi 30% dari total kendaraan pada 2030.
Namun, China menegaskan pembangunan energi terbarukan tidak berarti mengurangi batu bara. Justru kapasitas PLTU masih akan bertambah sebagai pembangkit cadangan ketika produksi listrik dari angin dan matahari menurun akibat faktor cuaca. Salah satunya akan dikembangkan di wilayah Mongolia Dalam.
Mongolia Dalam juga menjadi pusat proyek West-to-East Power Transmission, yang mengirim sekitar 40% listrik yang dihasilkannya ke wilayah timur China, termasuk Beijing.
Selain membangun pembangkit energi bersih, pemerintah juga memperkuat jaringan transmisi, penyimpanan energi, serta menyesuaikan konsumsi listrik industri agar lebih selaras dengan produksi energi terbarukan.
Langkah ini dilakukan untuk memenuhi lonjakan kebutuhan listrik dari pusat data kecerdasan buatan (AI), kendaraan listrik (EV), dan sektor manufaktur.
Di sisi lain, Mongolia Dalam tetap memperluas industri hilirisasi batu bara, seperti coal-to-oil, coal-to-gas, dan bahan kimia berbasis batu bara.
Menurut pemerintah, pengembangan ini bertujuan mengurangi ketergantungan China terhadap impor minyak dan gas, terutama setelah konflik Timur Tengah dan gangguan di Selat Hormuz menyoroti risiko pasokan energi dari luar negeri.
(mae/mae) Addsource on Google