MARKET DATA

Wow! Ekspor Aluminium RI ke China Melonjak 1.000%, Singapura 14 Juta%

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
10 July 2026 15:05
Pabrik Aluminium PT Inalum. (CNBC Indonesia/ Pratama Guitarra)
Foto: Pabrik Aluminium PT Inalum. (CNBC Indonesia/ Pratama Guitarra)

Jakarta, CNBC Indonesia- Ada satu komoditas ekspor Indonesia ke China dan Singapura yang sedang melesat tahun ini, yakni aluminium oxide atau alumina (Al₂O₃), bahan baku utama untuk memproduksi aluminium. 

Badan Pusat Staistik (BPS) mencatat nilai ekspor alumina Indonesia ke China sepanjang Januari-Mei 2026 mencapai US$127,1 juta atau sekitar Rp 2.228 triliun (US$1= Rp 18.000). Angka ini melonjak 1.012,59% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$11,4 juta.

Lonjakan tersebut juga terlihat dari kinerja bulanan. Pada Mei 2026, nilai ekspor alumina Indonesia ke China mencapai US$65 juta, naik 507,72% dibandingkan Mei 2025 dan melonjak 120,93% dibandingkan April 2026.

Kenaikan ini sejalan dengan permintaan industri aluminium global, terutama dari China yang merupakan produsen dan konsumen aluminium terbesar di dunia.

Sementara menurut Satu Data Kemendag, secara keseluruhan, nilai ekspor alumina Indonesia HS 8 28182000, pada periode Januari-Mei 2026 mencapai US$850,9 juta atau sekitar Rp 15.316,2 triliun.

Meski masih besar, capaian tersebut turun 21,19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini menunjukkan permintaan global alumina belum merata di semua pasar tujuan ekspor Indonesia.

Meski ekspor ke China melonjak, Malaysia masih menjadi pasar terbesar alumina Indonesia dengan nilai ekspor mencapai US$167,4 juta sepanjang Januari-Mei 2026.

Namun, pengiriman ke negara tersebut anjlok 45,06% secara tahunan. Kondisi serupa juga terjadi di India, yang mencatat nilai ekspor US$129,2 juta tetapi turun lebih dalam hingga 48,86%.

Di tengah pelemahan dua pasar utama tersebut, China justru tampil sebagai titik terang.

Nilai ekspor alumina Indonesia ke Negeri Tirai Bambu mencapai US$127,1 juta pada Januari-Mei 2026, melonjak 1.012,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dengan capaian tersebut, China kini menjadi pasar terbesar ketiga bagi alumina Indonesia dan menjadi salah satu penopang utama kinerja ekspor komoditas ini.

Selain China, sejumlah negara juga mencatat kenaikan permintaan terhadap alumina Indonesia. Singapura mencatatkan fakta fantastis. Ekspor aluminium ke negara tersebut terbang 14,9 juta%.

Namun, perlu dicatat jika Singapura hampir tidak impor aluminium pada Januari-Mei 2025 sehingga lonjakan tahun ini belum menunjukkan nominal yang besar.

Ekspor ke Qatar tumbuh 33,47% menjadi US$81,3 juta, sedangkan ke Belanda naik 37,98% menjadi US$64,8 juta.

Lonjakan paling spektakuler sebenarnya terjadi di Singapura dengan nilai ekspor mencapai US$79 juta, meski basis ekspornya pada tahun sebelumnya sangat kecil sehingga menghasilkan tingkat pertumbuhan yang sangat tinggi.

 

Kepabeanan China melaporkan impor bijih dan konsentrat aluminium negara tersebut mencapai US$6,48 miliar pada Januari-Mei 2026. Nilai tersebut naik 31,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara volume, impor mencapai 10.069 unit dengan pertumbuhan tipis 0,2%.

Permintaan yang tetap tinggi dari China terjadi karena alumina menjadi mata rantai penting dalam industri pengolahan logam.

China saat ini memang sedang mengubah arah industri aluminiumnya. Melansir dari riset Asia Society Policy Institute, pemerintah China pada akhir 2024 menghapus insentif pengembalian pajak ekspor (ex

port tax rebate) sebesar 13% untuk produk aluminium.

Kebijakan tersebut sempat mengguncang pasar global dan mendorong harga aluminium di London Metal Exchange (LME) melonjak karena pelaku pasar memperkirakan pasokan ekspor dari China akan berkurang.

Langkah Beijing itu bukan berarti kebutuhan aluminium dan alumina di China sedang melemah. Arah kebijakannya justru bergeser. Pemerintah China ingin lebih banyak pasokan aluminium diserap di pasar domestik untuk menopang sektor-sektor strategis, terutama kendaraan listrik dan energi surya.

Permintaan dari industri kendaraan listrik diperkirakan menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan konsumsi aluminium di China.

Kendaraan listrik membutuhkan sekitar 85% lebih banyak aluminium dibandingkan mobil berbahan bakar konvensional.

Dengan pangsa penjualan kendaraan listrik yang sudah mendekati separuh pasar mobil di China pada 2024, kebutuhan aluminium untuk sektor ini diproyeksikan melonjak dari sekitar 2 juta ton pada 2023 menjadi hampir 10 juta ton pada 2030.
Industri energi surya juga menyerap aluminium dalam jumlah besar. Aluminium dipakai untuk bingkai panel, struktur penyangga, dan sistem pemasangan panel surya.

China menambah kapasitas pembangkit listrik tenaga surya hingga 277 gigawatt (GW) sepanjang 2024, lebih dari dua kali lipat penambahan kapasitas di Amerika Serikat. Setiap kilowatt kapasitas surya membutuhkan sekitar 21 kilogram aluminium, sehingga ekspansi energi bersih otomatis mendorong permintaan bahan baku aluminium dan alumina.

Perubahan strategi tersebut menjelaskan mengapa impor bijih dan konsentrat aluminium China masih tumbuh kuat pada tahun ini.

Posisi Indonesia

Meski ekspor alumina Indonesia melonjak tajam, posisi Indonesia di pasar impor China masih relatif kecil. Berdasarkan data Januari-Mei 2026, Indonesia menempati peringkat kesembilan pemasok bijih dan konsentrat aluminium ke China dengan nilai impor sebesar US$207,23 juta.

Pasar China masih didominasi Uni Eropa dengan nilai impor mencapai US$3,24 miliar sepanjang Januari-Mei 2026. Posisi berikutnya ditempati Thailand sebesar US$624,66 juta, Malaysia US$575,83 juta, Jepang US$543,49 juta, dan Republik Korea US$440,99 juta.

Masuknya Indonesia ke jajaran 10 besar pemasok menunjukkan rantai pasok alumina nasional mulai mendapat ruang di pasar global.

Beijing sedang berupaya menggeser industri aluminiumnya dari model lama yang bertumpu pada ekspor logam primer menuju model yang menghasilkan produk manufaktur bernilai tambah lebih tinggi, seperti kendaraan listrik, panel surya, elektronik, dan semikonduktor.

Dalam peta industri baru itu, kebutuhan alumina sebagai bahan baku utama aluminium masih akan tetap besar dan berpotensi membuka ruang pasar yang lebih luas bagi negara pemasok, termasuk Indonesia.

CNBC Indonesia Research 

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular