Bukan Iran Lagi, Negara Ini Jadi Penantang Baru Israel di Timur Tengah
Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan Turki dan Israel yang selama ini diwarnai ketegangan kini memasuki fase rivalitas strategis yang semakin dalam.
Kedua negara saling melontarkan ancaman dan tuduhan, mulai dari isu genosida hingga perebutan pengaruh di Suriah, Iran, Laut Mediterania, dan Palestina.
Israel semakin khawatir terhadap ekspansi militer dan diplomatik Turki di kawasan, sementara Ankara menilai Israel menjadi penghalang bagi kepentingannya di Timur Tengah.
Meski konflik terbuka masih dianggap kecil kemungkinannya, persaingan geopolitik keduanya kian nyata, diperparah oleh perlombaan aliansi militer, sengketa energi, hingga kekhawatiran Israel atas kemungkinan Turki kembali memperoleh jet tempur F-35 dari Amerika Serikat. Rivalitas ini dinilai berpotensi menjadi salah satu sumber ketidakstabilan baru di Timur Tengah setelah konflik Gaza dan Iran.
Pada 23 Juni, seorang menteri Israel menyebut Turki, bersama Suriah, telah menggantikan Iran sebagai ancaman terbesar bagi negaranya.
Lima hari kemudian, Israel kembali menaikkan tensi dengan mengakui pembantaian warga Armenia oleh Kesultanan Utsmaniyah pada 1915 sebagai genosida, sesuatu yang selama ini ditolak Ankara.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan membalas dengan menuduh Israel melakukan genosida di Gaza. Ia juga menyebut operasi militer Israel di Suriah dan Lebanon sebagai ancaman bagi Turki. Sebelumnya, pada awal Juni, Menteri Dalam Negeri Turki bahkan mengatakan ia berharap suatu hari menjadi gubernur Yerusalem ketika kota itu berada di bawah kendali Turki. Kekaisaran Ottoman pernah menguasai Yerusalem dan Palestina selama hampir empat abad hingga 1917.
Hubungan Ankara dan Tel Aviv memang sudah lama diwarnai perang kata. Namun kali ini, yang diperdebatkan bukan lagi sekadar kebijakan, melainkan posisi masing-masing sebagai ancaman keamanan.
Dalam beberapa bulan terakhir, pejabat Israel semakin sering menyandingkan Turki dengan Iran dalam pembahasan keamanan nasional. Sebaliknya, Turki tidak lagi hanya mengecam operasi Israel di Gaza, tetapi juga menilai langkah Israel di Suriah dan Lebanon sebagai ancaman langsung bagi kepentingannya.
Â
Dalam diplomasi, perubahan cara sebuah negara mendefinisikan ancaman sering kali menjadi petunjuk arah kebijakan berikutnya. Konfrontasi militer memang masih jauh, tetapi hubungan kedua negara kini telah bergerak melampaui sekadar perbedaan sikap politik.
Lebih dari Politik Dalam Negeri
Sebagian eskalasi ini tentu dipengaruhi politik domestik.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang akan menghadapi pemilu pada Oktober, berkepentingan mempertahankan narasi bahwa Israel terus dikepung ancaman dan membutuhkan kepemimpinan yang kuat.
Di sisi lain, Erdogan, yang disebut-sebut dapat memajukan pemilu sebelum jadwal 2028, juga membutuhkan isu eksternal di tengah inflasi yang masih berada di kisaran 30% dan suku bunga yang tetap tinggi.
Namun, tidak berhenti di situ.
Kedua negara memang memiliki kekhawatiran strategis yang nyata. Israel melihat pengaruh Turki semakin besar di kawasan. Sementara Turki menilai operasi militer Israel semakin mendekati kepentingan keamanan nasionalnya sendiri.
Persaingan yang Semakin Nyata
Kekhawatiran Israel terhadap Turki datang dari beberapa arah sekaligus, antara lain:
-
pengaruh Ankara yang semakin besar di Suriah;
-
kerja sama pertahanan yang berkembang dengan Mesir, Pakistan, dan Arab Saudi;
-
upaya Turki mendapatkan kembali jet tempur siluman F-35 dari Amerika Serikat; serta
-
klaim atas wilayah sengketa dan ladang gas di Mediterania Timur.
Di sisi lain, Turki juga melihat Israel sebagai sumber tekanan baru di kawasan. Beberapa isu yang paling sering disorot Ankara meliputi:
-
operasi militer Israel di Gaza, Lebanon, dan Iran;
-
dugaan dukungan Israel kepada kelompok bersenjata Kurdi di Suriah, Iran, dan Irak; serta
-
kerja sama Israel dengan Yunani dan Siprus yang mencakup latihan militer, pertukaran intelijen, hingga perlindungan infrastruktur energi di Mediterania.
Suriah di Titik Persimpangan
Hampir semua kepentingan Turki dan Israel bertemu di Suriah. Namun tujuan keduanya bertolak belakang.
Turki ingin melihat Suriah kembali menjadi negara yang kuat dan stabil di bawah pemerintahan baru. Sebaliknya, Israel lebih memilih Suriah tetap lemah agar tidak berkembang menjadi ancaman militer di masa depan.
Perbedaan itu terlihat di lapangan. Turki mempertahankan pasukannya di wilayah utara, sementara Israel beroperasi di selatan dan telah melancarkan ratusan serangan terhadap sasaran militer Suriah, termasuk pangkalan udara yang disebut akan diserahkan kepada Turki.
Meski demikian, kedua negara masih berusaha menghindari benturan langsung. Komunikasi rutin antara badan intelijen dan militer kedua pihak sejauh ini berhasil mencegah pasukan mereka saling berhadapan.
Suriah kini menjadi titik paling nyata tempat kepentingan Turki dan Israel mulai bertabrakan.
Faktor Amerika
Perubahan keseimbangan kawasan juga dipengaruhi Amerika Serikat.
Perang Israel melawan Iran justru memperkuat posisi diplomatik Turki. Ankara berhasil mempertahankan hubungan baik dengan Washington sekaligus berperan sebagai perantara antara Amerika Serikat dan Iran. Pada saat yang sama, Turki juga mempercepat pembahasan kerja sama pertahanan dengan Mesir, Pakistan, dan Arab Saudi.
Â
Di pihak lain, Israel memandang perkembangan itu dengan waspada. Benjamin Netanyahu dikabarkan tidak menyukai kedekatan Presiden Donald Trump dengan Erdogan maupun meningkatnya peran Turki dalam isu Suriah.
Ketegangan bertambah setelah Trump membuka peluang untuk meninjau kembali penjualan jet tempur siluman F-35 kepada Turki. Penjualan itu diblokir pada 2019 setelah Ankara membeli sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia.
Pada 24 Juni, Trump mengatakan pemerintahannya sedang mengkaji kembali keputusan tersebut. "I'm going to probably do something that's going to make him very happy," katanya, merujuk kepada Erdogan.
Hubungan yang Belum Terputus
Meski hubungan politik memburuk, Ankara dan Tel Aviv belum benar-benar memutus hubungan.
Kedua negara masih mempertahankan kedutaan masing-masing, meski para duta besar telah dipanggil pulang sejak 2023.
Hubungan ekonomi juga belum berhenti sepenuhnya. Meski Erdogan mengumumkan embargo dagang terhadap Israel dua tahun lalu, ekspor Turki masih mengalir melalui negara ketiga atau lewat Otoritas Palestina. Sementara itu, minyak dari Azerbaijan dan Irak utara tetap dikirim ke Israel melalui pelabuhan Ceyhan di Turki.
Ini memperlihatkan bahwa rivalitas geopolitik tidak selalu berujung pada putusnya hubungan ekonomi.
Â
(mae/mae) Addsource on Google