Ngeri! Ini Ramalan Terbaru IMF untuk Arab Saudi - Iran
Jakarta, CNBC Indonesia - Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) turut memberikan gambaran mengenai negara-negara Timur Tengah dalam laporan World Economic Outlook (WEO) Update edisi Juli 2026.
Jika sejumlah negara Asia masih diproyeksikan tumbuh kencang, kawasan Timur Tengah justru menjadi salah satu kelompok yang paling rentan dalam proyeksi pertumbuhan ekonomi versi IMF.
Penyebab utamanya adalah perang yang berakibat pada gangguan jalur energi, dan membuat naiknya harga komoditas energi.
Dalam laporan tersebut, IMF memperkirakan pertumbuhan kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah turun tajam menjadi 0,7% pada 2026. Padahal pada 2025, kawasan ini masih tumbuh 3,7%.
Namun demikian, pada 2027, pertumbuhannya diperkirakan melonjak ke 6,5% dengan asumsi membaiknya kondisi energi dan jalur pasok global.
Kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara bahkan diproyeksikan mengalami kontraksi 0,5% pada 2026, sebelum berbalik tumbuh 7,3% pada 2027. Kondisi ini menunjukkan tekanan besar pada 2026.
Mesir menjadi salah satu negara yang masih diproyeksikan tumbuh cukup kuat. Ekonomi Mesir diperkirakan tumbuh 4,6% pada 2026, lebih tinggi dibandingkan realisasi 2025 yang sebesar 4,4%. Proyeksi Mesir juga direvisi naik 0,4 poin persentase dari laporan April 2026.
Arab Saudi masih diproyeksikan tumbuh positif, tetapi lajunya turun tajam. Ekonomi negara tersebut diperkirakan hanya tumbuh 1,7% pada 2026, jauh lebih rendah dibandingkan 4,6% pada 2025. Pada 2027, pertumbuhan Arab Saudi diperkirakan membaik ke 5,5%.
IMF menyebut Arab Saudi relatif lebih tidak terdampak dibanding beberapa produsen komoditas lain di kawasan karena memiliki rute ekspor yang lebih beragam. Meski begitu, tekanan dari perang dan gangguan energi tetap membuat proyeksi 2026 direvisi turun 1,4 poin persentase.
Iran menjadi negara dengan tekanan paling berat. Ekonomi Iran diproyeksikan mengalami kontraksi sebesar 5,4% pada 2026, setelah pada 2025 sudah turun 0,8%.
Menariknya, proyeksi Iran untuk 2026 justru direvisi menjadi naik 0,7 poin persentase dibandingkan laporan April. IMF menjelaskan kenaikan ini berkaitan dengan realisasi ekspor minyak yang lebih baik pada Maret dan April, serta adanya pelonggaran sebagian pembatasan ekspor. Namun, secara keseluruhan ekonomi Iran tetap diperkirakan mengalami kontraksi yang cukup dalam.
Produsen Energi Paling Terpukul
Laporan WEO Juli 2026 juga menyoroti beberapa negara produsen energi yang terdampak besar oleh gangguan output dan transportasi energi.
Irak, Kuwait, dan Qatar menjadi produsen komoditas yang paling terdampak oleh gangguan produksi energi dan transportasi. Ketiga negara tersebut diproyeksikan mengalami kontraksi tajam pada 2026.
Kondisi ini berbeda dengan Arab Saudi yang relatif lebih terlindungi karena memiliki rute ekspor yang lebih beragam.
Tekanan di Timur Tengah juga sangat berkaitan dengan Selat Hormuz. Dalam skenario dasar WEO Juli 2026, pembukaan kembali Selat Hormuz diasumsikan mulai terjadi pada pertengahan Juli 2026. Kondisi diperkirakan kembali mendekati sebelum perang pada Maret 2027.
Asumsi ini penting karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia. Gangguan di jalur ini bisa langsung berdampak ke pasokan minyak dan gas, harga komoditas, inflasi, hingga nilai tukar negara berkembang.
Karena itu, proyeksi pertumbuhan Timur Tengah pada 2026 terlihat sangat lemah, lalu melonjak pada 2027. Kenaikan besar pada 2027 bukan berarti kawasan ini benar-benar bebas risiko, tetapi lebih mencerminkan pemulihan setelah gangguan energi yang besar pada 2026 mulai mereda.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw) Addsource on Google