MARKET DATA
Newsletter

Siaga! S&P Beri Warning Keras-Masukkan RI ke Watchlist, Perang Memanas

mae,  CNBC Indonesia
08 July 2026 06:38
Karyawan berdiri dengan latarbelakang layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (11/7/2024). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Karyawan berdiri dengan latarbelakang layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (11/7/2024). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
  • Pasar keuangan Indonesia kompak berakhir di zona hijau, bursa saham dan rupiah sama-sama menguat
  • Wall ambruk berjamaah
  • Peringatan S&P Global Indices, data ekonomi, realisasi APBN hingga perkembangan data di luar negeri akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia kompak berakhir di zona hijau. Bursa saham dan mata uang rupiah sama-sama menguat.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan mengjadapi tekanan pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentiment pasar keuangan Indonesia hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menghijau pada perdagangan Selasa (7/7/2026). IHSG ditutup menguat 1,19% atau 70,43 poin ke level 5.986,5, didorong aksi beli yang menyebar di mayoritas saham.

Sebanyak 430 saham menguat, 141 saham melemah, dan 212 saham bergerak stagnan. Meski demikian, aktivitas perdagangan masih relatif sepi dengan nilai transaksi sebesar Rp10,4 triliun dari 22,4 miliar saham yang diperdagangkan dalam 1,67 juta kali transaksi.

 

Penguatan IHSG ditopang hampir seluruh sektor, dipimpin properti yang melonjak 2,49%, disusul keuangan (1,84%), bahan baku (1,10%), konsumer nonprimer (1,07%), dan konsumer primer (1,06%). Hanya sektor utilitas yang masih terkoreksi 0,2%.

Dari sisi saham, tiga bank jumbo menjadi motor utama penguatan IHSG, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI). Penguatan indeks juga ditopang oleh PT Astra International Tbk (ASII), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), serta PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).

Sementara itu, saham yang menjadi pemberat IHSG antara lain PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Bintang Delapan Mineral Tbk (DEWA).

Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengakhiri perdagangan Selasa kemarin menguat 0,06% ke level Rp17.975/US$. Penguatan ini membalikkan posisi rupiah pada perdagangan sebelumnya. Pada Senin (6/7/2026), rupiah ditutup melemah ke level Rp17.985/US$.



Sepanjang perdagangan kemarin, rupiah bergerak di rentang Rp17.930-Rp17.990/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,09% ke level 100,949.

Penguatan rupiah terjadi di tengah pengumuman Bank Indonesia (BI) mengenai cadangan devisa Indonesia yang meningkat pada Juni 2026.

BI mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 sebesar US$145,6 miliar. Posisi tersebut naik tipis dibandingkan akhir Mei 2026 yang sebesar US$144,9 miliar.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun stagnan di 7,183% pada perdagangan kemarin, dari 7, 146% pada hari sebelumnya.

Kenaikan imbal hasil menandai harga SBN yang turun karena dijual investor.

Add logo_svg as a preferred
source on Google

Dari bursa saham AS, Wall Street melemah pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.

Indeks jatuh karena investor kembali melakukan rotasi keluar dari saham-saham yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI), sementara harga minyak terus menguat.

Indeks Dow Jones turun 130,76 poin atau 0,25%, setelah sebelumnya sempat mencetak rekor tertinggi baru secara intraday. Pada penutupan perdagangan, Dow Jones berada di 52.925,15.

Sementara itu, Nasdaq Composite turun 1,16% menjadi 25.818,69, dan S&P 500 melemah 0,45% ke 7.503,85.

Saham Micron ditutup merosot 4,7%, diikuti pelemahan saham KLA, Marvell Technology, Broadcom, dan AMD. Sementara itu, VanEck Semiconductor ETF (SMH) turun lebih dari 3%.

 

"Ekspektasi pasar sudah sangat tinggi, sementara fundamental perusahaan kesulitan memenuhi harapan tersebut. Itulah yang mendorong pelemahan pasar hari ini," kata Direktur Riset FBB Capital Partners, Mike Bailey, kepada CNBC International.

Ia memperkirakan rotasi sektor yang terjadi belakangan ini masih akan berlanjut.

Investor justru mengalihkan dana ke sektor lain seperti kesehatan, keuangan, dan perusahaan teknologi besar.

Saham Eli Lilly naik hampir 3%, sementara JPMorgan Chase dan Microsoft juga menguat.

Saham Walmart turut naik setelah perusahaan mengumumkan pemangkasan harga sejumlah produk, termasuk daging sapi giling dan minuman Coca-Cola.

Sentimen pasar juga terbebani oleh lonjakan harga minyak setelah Iran menyerang sebuah kapal tanker gas alam cair (LNG) milik Qatar di dekat Selat Hormuz.

Harga minyak acuan global Brent ditutup naik 3% ke US$74,16 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat hampir 3% menjadi US$70,44 per barel.

Harga minyak kemudian kembali melanjutkan kenaikan setelah penutupan pasar menyusul keputusan AS mencabut izin yang mengizinkan penjualan minyak Iran.

Tekanan terhadap saham-saham AI bermula dari pasar Asia-Pasifik setelah indeks Kospi Korea Selatan anjlok hampir 5%, dipicu merosotnya saham produsen chip memori Samsung Electronics sekitar 7%.

Meski Samsung membukukan lonjakan laba kuartal II, kekhawatiran mengenai belanja dan permintaan membuat investor tetap melakukan aksi jual. Sementara itu, indeks Stoxx 600 Eropa ditutup melemah sekitar 0,7%.

Adam Crisafulli dari Vital Knowledge menjelaskan reaksi terhadap Samsung menunjukkan salah satu risiko terbesar pasar dalam beberapa pekan ke depan.

"Laporan kinerja kuartal II kemungkinan cukup kuat secara absolut, tetapi berbeda dengan musim laporan kuartal I, ekspektasi investor kini sudah sangat tinggi. Hal itu membuat standar yang harus dipenuhi perusahaan menjadi jauh lebih berat," ujarnya.

Sentimen negatif juga dipicu laporan Reuters yang mengutip sumber bahwa DeepSeek tengah mengembangkan chip AI buatannya sendiri. Langkah tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap semikonduktor dari produsen seperti Nvidia dan Samsung.

 

Sementara itu, saham SpaceX anjlok lebih dari 6% di hari pertama masuk ke dalam indeks Nasdaq-100. Penurunan tersebut terjadi meskipun banyak analis Wall Street memberikan rekomendasi positif beserta target harga yang optimistis, termasuk dari Morgan Stanley dan Raymond James.

Menurut Bailey, pelemahan saham SpaceX merupakan indikasi adanya pergeseran investor ke aset yang lebih aman (risk-off), mengingat perusahaan tersebut dipandang sebagai salah satu pemain di sektor kecerdasan buatan (AI).

Pasar keuangan Indonesia hari ini diperkirakan akan tertekan dengan begitu banyaknya sentimen negatif dari luar negeri.

Di antaranya perang memanas, peringatan S&P Global Indices hingga masih kencangnya ekonomi AS.

1. AS Menyerang Lagi, Perang Memanas Kembaii

Militer Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada Selasa sekaligus mencabut lisensi yang sebelumnya mengizinkan Teheran menjual minyak di pasar internasional. Langkah itu diambil setelah tiga kapal tanker diserang di Selat Hormuz dan semakin mengancam gencatan senjata yang rapuh.

Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan serangan tersebut merupakan respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Iran. Media Iran melaporkan sejumlah ledakan di Sirik, Pulau Qeshm, dan Bandar Abbas pada Rabu dini hari, namun belum ada laporan mengenai korban maupun kerusakan.

Pencabutan lisensi penjualan minyak Iran langsung mendorong harga minyak dunia melonjak lebih dari 3%. Iran mengecam keputusan Washington dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan damai sementara, seraya menegaskan akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingan nasionalnya.

Di saat bersamaan, Qatar menuduh Iran menyerang kapal tanker LNG Al Rekayyat, sementara sebuah kapal tanker minyak berbendera Arab Saudi juga dilaporkan rusak di lepas pantai Oman. Seorang pejabat AS menyebut indikasi awal menunjukkan Iran menembaki tiga kapal komersial.

Di dalam negeri, ratusan ribu warga menghadiri prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Qom, dengan massa menyerukan balas dendam terhadap AS dan Presiden Donald Trump.

Sementara itu, Trump kembali mengancam akan melanjutkan serangan jika Iran tidak mencapai kesepakatan permanen. Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan negosiasi tidak akan dimulai selama ancaman militer dari AS masih berlanjut.

2. S&P Dow Jones Indices memasukkan Indonesia dalam Watchlist S&P DJI 2027

S&P Dow Jones Indices memasukkan Indonesia, Turki, dan Nigeria dalam daftar pantauan (watchlist) 2027 dan berpotensi reklasifikasi pasar.

Artinya, S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) sedang memantau ketiga negara tersebut karena ada kemungkinan status pasar modalnya akan diubah dalam tinjauan tahunan 2027. Keputusan ini bukan berarti statusnya langsung berubah, melainkan baru masuk tahap pengawasan (watchlist).

Khusus untuk Indonesia, saat ini status Indonesia adalah Emerging Market (Pasar Berkembang). Dalam evaluasi 2027, Indonesia berpotensi direklasifikasi menjadi Special Measures / Frontier.

Alasan yang diberikan S&P DJI adalah "monitoring regulatory developments" atau memantau perkembangan regulasi.

Apa arti "Special Measures / Frontier"?

  • Special Measures berarti S&P DJI menilai terdapat isu atau perubahan regulasi yang dapat memengaruhi aksesibilitas pasar bagi investor global. Status ini merupakan sinyal bahwa pasar sedang diawasi secara khusus.
  • Frontier Market adalah klasifikasi di bawah Emerging Market.

Jika Indonesia benar-benar diturunkan ke status ini, artinya pasar modal Indonesia dianggap kurang memenuhi standar aksesibilitas, likuiditas, atau keterbukaan dibanding pasar berkembang.

Peringatan ini penting akrena jika pada akhirnya Indonesia benar-benar direklasifikasi menjadi Frontier Market, dampaknya bisa besar.

Kondisi tersebut dapat memicu arus keluar dana asing (capital outflow), menekan likuiditas, dan meningkatkan volatilitas di pasar saham domestik.

S&P DJI menyebut alasan memasukkan Indonesia ke dalam watchlist adalah "monitoring regulatory developments", atau memantau perkembangan regulasi yang dinilai dapat memengaruhi aksesibilitas investor terhadap pasar modal Indonesia.

Namun, keputusan final belum diambil. Indonesia masih berada dalam tahap pemantauan, dan hasil evaluasi baru akan ditentukan pada review 2027 setelah S&P DJI menilai perkembangan regulasi di Indonesia.

Seperti diketahui, S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) melakukan tinjauan tahunan terhadap klasifikasi negara pada pasar-pasar yang mengalami perkembangan material yang berpotensi mengakibatkan perubahan klasifikasi.

Untuk meningkatkan transparansi, S&P DJI juga menyusun dan menerbitkan watchlist berisi pasar-pasar yang sedang dipantau untuk kemungkinan perubahan klasifikasi. Pembaruan ini merangkum tindakan yang saat ini sedang dipertimbangkan S&P DJI terkait pasar-pasar yang diidentifikasi untuk ditinjau dalam evaluasi klasifikasi tahun 2027.

3. Realisasi APBN hingga Proyeksi Akhir Tahun

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) semester I-2026 masih mencatat defisit sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pemerintah menilai posisi tersebut masih berada dalam batas aman dan tetap menjaga defisit di bawah ketentuan 3% PDB.

Hingga akhir Juni 2026, pendapatan negara telah mencapai Rp1.459,4 triliun atau 46,3% dari target APBN, ditopang penerimaan perpajakan sebesar Rp1.187,8 triliun, Pendapatan Negara Non-Pajak (PNBP) Rp271 triliun, dan hibah Rp700 miliar. Sepanjang tahun, pendapatan negara diproyeksikan mencapai Rp3.208,1 triliun atau 101,7% dari target APBN.

Di sisi lain, belanja negara terealisasi Rp1.656 triliun atau 43,1% dari pagu APBN, meningkat 17,8% secara tahunan. Belanja tersebut terdiri dari belanja kementerian/lembaga (K/L) sebesar Rp658,9 triliun, belanja non-K/L Rp639,7 triliun, serta transfer ke daerah Rp357,4 triliun, yang menjadi realisasi tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Hingga akhir tahun, pendapatan negara diperkirakan mencapai Rp3.208,1 triliun atau 101,7% dari target.

Sementara itu, belanja negara hingga semester I-2026 mencapai Rp1.656,0 triliun atau 43,1% dari pagu APBN. Hingga akhir tahun, belanja negara diperkirakan mencapai Rp3.942,4 triliun atau 102,6% dari pagu. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan belanja pemerintah hingga akhir tahun berpotensi melampaui pagu awal.

Kenaikan ini terutama terlihat pada belanja pemerintah pusat, khususnya belanja kementerian/lembaga yang diperkirakan mencapai 107,9% dari pagu APBN.

Naiknya outlook belanja di 2026, dapat dikaitkan dengan tambahan kebutuhan belanja, seperti untuk pembayaran kewajiban pemerintah seperti subsidi dan kompensasi energi.

Dengan kondisi tersebut, defisit APBN 2026 diperkirakan menembus Rp734,3 triliun atau 2,85% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit ini lebih besar dibandingkan target awal APBN 2026 yang sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68% dari PDB.

 

4. Kinerja Perbankan Masih Solid

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan kinerja perbankan nasional terus membaik pada Mei 2026. Penyaluran kredit tumbuh 11,51% secara tahunan (yoy) menjadi Rp8.918 triliun, meningkat dari 9,98% pada April, dengan motor utama berasal dari kredit investasi yang melonjak 21,95% yoy.

Di sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga meningkat 13,47% yoy menjadi Rp10.294 triliun, ditopang pertumbuhan giro, deposito, dan tabungan. OJK menilai likuiditas perbankan tetap memadai, tercermin dari rasio AL/NCD (Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit) sebesar 108,20% dan  alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) 24,74%, jauh di atas ketentuan minimum.

 

Kualitas aset industri juga tetap terjaga. Rasio non-performing loan (NPL) gross berada di level 2,17%, NPL net sebesar 0,84%, sementara rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 23,74%, menunjukkan permodalan perbankan masih kuat di tengah tantangan ekonomi.

5. Sebanyak 11 Perusahaan Antre IPO, Investor Kripto Naik

OJK juga melaporkan sejumlah sektor jasa keuangan masih menunjukkan kinerja positif di tengah gejolak pasar. Di pasar modal, penghimpunan dana korporasi mencapai Rp112,67 triliun hingga Juni 2026, dengan 11 perusahaan masih mengantre dalam pipeline penawaran umum perdana saham (IPO), meski IHSG masih terkoreksi 34,74% sejak awal tahun.

Di sektor aset digital, jumlah investor kripto terus bertambah menjadi 22,4 juta pada Mei 2026. Nilai transaksi kripto tercatat Rp23,01 triliun, sementara transaksi derivatif aset keuangan digital (AKD) mencapai Rp5,69 triliun, mencerminkan kepercayaan investor yang tetap terjaga.

Sementara itu, di industri asuransi syariah, OJK mencatat 41 Unit Usaha Syariah (UUS) mengubah rencana bisnis. Sebanyak 26 UUS akan melakukan spin off menjadi perusahaan baru, sedangkan 15 UUS memilih mengalihkan portofolionya. Dengan proses tersebut, jumlah perusahaan asuransi syariah diproyeksikan meningkat menjadi 45 perusahaan pada akhir 2026.

6. Indeks Keyakinan Konsumen

Hari ini, BI akan mengumumkan Survei Konsumen per Juni 2026. Sebelumnya, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di level 120,9 pada Mei 2026, masih berada di zona optimistis meski sedikit melemah.

Data ini menjadi indikator penting untuk mengukur daya tahan konsumsi rumah tangga sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

7. Risalah FOMC Bisa Guncang Pasar

Pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari, The Fed akan merilis publikasi risalah rapat FOMC (Federal Open Market Committee).

Investor akan membedah setiap pernyataan pejabat Federal Reserve guna mencari petunjuk mengenai prospek suku bunga. Pasar ingin mengetahui apakah mayoritas pembuat kebijakan masih condong mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer) atau mulai membuka peluang pelonggaran kebijakan dalam beberapa bulan mendatang.

8. Neraca Perdagangan AS Defisit Melebar, Optimisme Ekonomi Membaik, Ekspektasi Inflasi Naik

Defisit perdagangan AS melebar tajam menjadi US$77,6 miliar pada Mei 2026 dari US$54,6 miliar pada April, sejalan dengan ekspektasi pasar sebesar US$78,5 miliar. Ini merupakan defisit terbesar sejak Maret 2025.

Impor naik 3,3% menjadi US$395,3 miliar, tertinggi dalam lebih dari satu tahun, didorong peningkatan pembelian obat-obatan, ponsel, minyak mentah, dan mobil penumpang.
Ekspor justru turun 3,2% menjadi US$317,7 miliar, akibat melemahnya pengiriman emas nonmoneter, logam mulia, komputer, aksesori komputer, serta produk farmasi.

Data tersebut mengindikasikan ekspor neto berpotensi menjadi beban yang lebih besar bagi pertumbuhan PDB AS pada kuartal II-2026. Di saat yang sama, ketidakpastian kebijakan perdagangan masih berlanjut seiring pemerintahan Donald Trump menyiapkan kebijakan tarif baru dan mengubah mekanisme peninjauan perdagangan tahunan dengan Kanada dan Meksiko.

Sementara itu, Indeks RealClearMarkets/TIPP Economic Optimism naik menjadi 45,5 pada Juli 2026 dari 42,5 pada Mei, sedikit di atas ekspektasi pasar sebesar 45.
Indeks prospek ekonomi enam bulan ke depan meningkat menjadi 42,1 dari 37,1.

Indeks prospek keuangan pribadi naik menjadi 52,2 dari 50,1, menjadi satu-satunya komponen yang berada di atas level 50, yang mencerminkan optimisme.
Kepercayaan terhadap kebijakan ekonomi pemerintah juga meningkat menjadi 42,1 dari 40,2.

Ekspektasi inflasi warga AS untuk 12 bulan ke depan juga naik menjadi 3,7% pada Juni 2026 dari 3,5%, level tertinggi sejak September 2023.
Ekspektasi inflasi tiga tahun ke depan naik menjadi 3,3%, tertinggi sejak Juni 2022. Sementara itu, ekspektasi inflasi lima tahun ke depan tetap di 3,0%.

Ekspektasi kenaikan harga bensin justru turun tajam menjadi 1,5%, level terendah sejak Agustus 2022.
Survei juga menunjukkan persepsi pasar tenaga kerja membaik. Peluang kehilangan pekerjaan dalam 12 bulan ke depan turun menjadi 14,1%, sedangkan peluang memperoleh pekerjaan baru meningkat menjadi 44,9%.


Meski kondisi keuangan rumah tangga dinilai lebih baik dibanding setahun lalu, masyarakat memperkirakan akses terhadap kredit akan semakin ketat pada masa mendatang.

Berikut agenda ekonomi hari ini:

  • Bank Indonesia akan merllis data survei keyakinan konsumen Juni
  • Kunjungan Presiden Republik Indonesia dan Perdana Menteri India di Candi Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

  • Colliers Indonesia Virtual Media Briefing Q2 2026 terkait update terbaru pasar properti.

  • Sidang Gugatan Hotel Sultan di PN Jakarta Pusat.

  • Peresmian Pembangunan Fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Denpasar Selatan, Bali.

  • Seremoni Pencatatan Perdana Saham BACH & EMMI di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan.

  • Pertemuan Penasehat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh dengan Menteri Keuangan di Gedung Juanda 1, kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat.

  • Rapat Kerja Badan Anggaran DPR dengan Menteri Keuangan di ruang rapat Banggar DPR, Gedung Nusantara, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat.

  • Wakil Menteri Komunikasi dan Digital menghadiri Peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia: Kedaulatan Digital dari Ruang Angkasa di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie.

  • Launch Ceremony of the mRNA Dengue Vaccine Prototype di Ruang Leimena, Gedung Adhyatma, Kemenkes, Jakarta Selata

     

Berikut agenda korporasi hari ini:

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Mutuagung Lestari Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Bangun Kosambi Sukses Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk.

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Ateliers Mecaniques D Indonesie Tbk.

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Dharma Satya Nusantara Tbk.

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Elnusa Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Habco Trans Maritima Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Kabelindo Murni Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Bayan Resources Tbk

Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Baramulti Suksessarana Tbk

Tanggal cum HMETD PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk.

Tanggal cum HMETD PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk.

Tanggal cum Dividen Tunai PT Solusi Sinergi Digital Tbk

Tanggal cum HMETD PT Singaraja Putra Tbk.

Tanggal cum Dividen Saham Suparma Tbk

Tanggal cum HMETD PT Anabatic Technologies Tbk

Tanggal cum HMETD Bakrie & Brothers Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai Trias Sentosa Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai PT Sinergi Inti Plastindo Tbk.

Tanggal cum Dividen Tunai PT Paramita Bangun Sarana Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai PT Trimegah Bangun Persada Tbk.

Tanggal cum Dividen Tunai Multi Indocitra Tbk

Tanggal cum HMETD PT Wahana Interfood Nusantara Tbk.

Tanggal cum HMETD Minna Padi Investama Sekuritas Tbk

Tanggal cum Dividen Tunai PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk

Berikut indikator ekonomi terbaru:



Most Popular
Features