Diam-Diam India Jadi Mesin Devisa RI, 10 Barang Ini Paling Diburu
Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi telah tiba di Indonesia untuk menjalani kunjungan kenegaraan. Lawatan tersebut merupakan kunjungan balasan atas kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke India pada Januari 2025.
Kunjungan ini menjadi momentum untuk memperkuat hubungan diplomatik sekaligus memperluas kerja sama strategis di berbagai sektor antara Indonesia dan India. Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan, lawatan Modi merupakan cerminan semakin eratnya hubungan bilateral kedua negara.
"PM India Sri Narendra Modi melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia sebagai kunjungan balasan yang dilakukan Bapak Presiden beberapa waktu yang lalu dan merupakan suatu bentuk dari peningkatan kedekatan dan kerja sama antara kedua negara," ujar Sugiono di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (6/7/2026) malam.
Kedatangan Modi disambut langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, Menlu Sugiono, serta sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di Bandara Halim Perdanakusuma. Setelah tiba di Jakarta, Modi dijadwalkan memulai agenda resmi kunjungan kenegaraannya di Istana Merdeka pada Selasa (7/7/2026).
Di luar agenda diplomatik, hubungan Indonesia dan India punya arti penting dari sisi ekonomi. India bukan sekadar mitra dagang biasa bagi Indonesia, melainkan salah satu sumber devisa terbesar dari neraca perdagangan barang.
Melansir data dari Satu Data Perdagangan Kementerian Perdagangan, pada periode Januari-Mei 2026, India menjadi negara penyumbang surplus dagang terbesar kedua bagi Indonesia setelah Amerika Serikat (AS). Perdagangan Indonesia dengan India masih menghasilkan devisa bersih yang sangat besar.
Sepanjang Januari-Mei 2026, ekspor Indonesia ke India tercatat sebesar US$7,46 miliar atau setara sekitar Rp134,13 triliun (asumsi kurs Rp17.980/US$). Nilai ini naik 2,41% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.Â
Sementara itu, impor Indonesia dari India mencapai US$2,17 miliar, naik 8,89% secara tahunan. Dengan demikian, Indonesia masih mencatat surplus neraca perdagangan dengan India sebesar US$5,29 miliar.
Namun, surplus tersebut relatif stagnan karena turun tipis 0,03% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kondisi ini terjadi karena impor dari India tumbuh lebih cepat dibandingkan ekspor Indonesia kesana.
Dengan nilai surplus sebesar itu, India menjadi pasar yang sangat penting bagi komoditas ekspor utama Indonesia. Apalagi, struktur ekspor RI ke India masih banyak ditopang oleh barang-barang bernilai besar seperti batu bara, minyak sawit mentah, hingga produk energi dan logam.
Komoditas Ekspor RI ke India
Ekspor Indonesia ke India masih didominasi oleh komoditas energi dan bahan baku industri. Batu bara menjadi komoditas ekspor terbesar dengan nilai US$1,98 miliar sepanjang Januari-Mei 2026.
Meski masih menjadi yang terbesar, ekspor batu bara tersebut turun 18,97% secara tahunan. Penurunan ini menunjukkan bahwa nilai ekspor batu bara ke India mulai terkoreksi, meskipun posisinya tetap menjadi tulang punggung ekspor RI ke India.
Komoditas terbesar kedua adalah minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dengan nilai US$1,08 miliar. Berbeda dengan batu bara, ekspor CPO ke India justru melonjak 79,82% secara tahunan.
Kenaikan ini tidak lepas dari posisi India yang memang selama ini menjadi salah satu pasar utama ekspor CPO Indonesia. Dengan jumlah penduduk yang besar dan kebutuhan minyak nabati yang tinggi, India menjadi tujuan penting bagi pengiriman sawit RI, sehingga pergerakan permintaan dari negara tersebut sangat berpengaruh terhadap kinerja ekspor CPO Indonesia.
Kenaikan juga terlihat pada ekspor sel fotovoltaik, yakni komponen utama yang digunakan untuk menangkap cahaya matahari dan mengubahnya menjadi listrik pada panel surya. Nilai ekspor komoditas ini ke India mencapai US$711 juta, tumbuh tajam 474,97% secara tahunan.
Komoditas Impor RI dari India
Di sisi impor, nilai barang yang masuk dari India ke Indonesia masih jauh lebih kecil dibandingkan ekspor RI ke negara tersebut. Namun, daftar komoditas impor dari India tetap menarik karena memuat sejumlah barang strategis, mulai dari kendaraan bermotor, belerang, kacang tanah, besi kasar, daging sapi beku, vaksin, mesin, hingga avtur.
Komoditas impor terbesar Indonesia dari India pada Januari-Mei 2026 adalah kendaraan bermotor untuk pengangkutan barang dengan nilai US$80 juta. Nilai ini turun 19% secara tahunan, tetapi tetap menjadi kelompok barang impor terbesar RI dari India.Â
Adapun, nilai impor kendaraan tersebut diperkirakan berkaitan dengan pengadaan kendaraan operasional oleh PT Agrinas Pangan Nusantara untuk mendukung program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Isu impor kendaraan dari India sempat menjadi perhatian setelah Agrinas menjelaskan rencana pengadaan kendaraan operasional untuk program tersebut.
Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo De Sousa mengatakan program KDMP membutuhkan sebanyak 160.000 unit kendaraan pick up. Kendaraan tersebut diimpor dari China, Jepang, dan India karena menurutnya kendaraan pick up tipe 4x4 belum diproduksi secara lokal.
"Pengadaan kendaraan sebanyak 160.000. Semua mobil yang ada di sini kan secara jenis yang 4x4, semuanya full impor. Nggak ada yang pembuatan lokal," kata Joao saat ditemui wartawan di kantor Kemenko Pangan, Selasa (31/3/2026).
Adapun rinciannya, sebanyak 13.600 unit merupakan kendaraan bermerek Mitsubishi yang diimpor dari Jepang, 10.000 unit Hino dari Jepang, 900 unit Isuzu dari Jepang, 13.000 unit Foton dari China, sementara sisanya berasal dari India.
Dengan total kebutuhan mencapai 160.000 unit, porsi kendaraan dari India menjadi yang terbesar dalam rencana pengadaan tersebut. Kehadiran mobil pick up impor asal India juga mulai terlihat di sejumlah koperasi desa, termasuk di Surabaya.
Joao menyebut anggaran untuk program tersebut telah dialokasikan sebesar Rp200 triliun. Sementara itu, sumber pendanaan impor kendaraan tersebut disebut berasal dari alokasi pembangunan KDMP sebesar Rp3 miliar.
Selain kendaraan bermotor, impor Indonesia dari India juga cukup besar pada komoditas belerang. Sepanjang Januari-Mei 2026, nilai impor belerang dari India tercatat sebesar US$79 juta, menjadikannya komoditas impor terbesar kedua RI dari negara tersebut.
Belerang merupakan bahan baku penting bagi banyak industri di Indonesia. Komoditas ini biasanya digunakan untuk membuat asam sulfat, yang kemudian banyak dipakai dalam industri pupuk, kimia, pengolahan mineral, hingga pemurnian logam. Belerang juga digunakan dalam industri karet, pulp dan kertas, serta beberapa kebutuhan manufaktur lainnya.
Nilai impor belerang ini melonjak sangat tajam, yakni mencapai 166.185% secara tahunan.
Belerang sendiri merupakan bahan baku penting untuk berbagai industri, terutama industri kimia, pupuk, hingga proses pengolahan mineral. Karena itu, lonjakan nilai impor belerang dari India menjadi salah satu faktor yang membuat impor RI dari India ikut meningkat pada periode tersebut.
CNCB INDONESIA RESEARCHÂ
(evw/evw) Addsource on Google