Harga Batu Bara Terbelah Dua Kasta, Ada yang Melonjak & Tersungkur
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara turun empat hari beruntun meski dihujani banyak kabar baik.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Senin (6/7/2026) ditutup di posisi US$ 128,25 per ton. Harganya 0,58%.
Pelemahan ini memperpanjang derita batu bara yang sudah turun 0,93% dalam empat hari beruntun.
Harga batu bara melemah meski banyak kabar baik. Harga batu bara juga masih terbelah di mana jenis kokas naik sementara termal turun.
Pengiriman batu bara untuk seluruh keperluan dari Pelabuhan Gladstone di Queensland, Australia timur laut, mencapai 6,36 juta ton pada Juni 2026. Angka ini menjadi volume pengiriman bulanan tertinggi sepanjang semester pertama tahun ini, berdasarkan data terbaru dari Gladstone Ports Corporation (GPC).
Dikutip dari Mysteel Global, batu bara kokas menyumbang sekitar 70% dari total arus batu bara yang melalui Pelabuhan Gladstone, menjadikannya jalur ekspor utama bagi batu bara yang ditambang di wilayah tambang Queensland bagian tengah.
Dibandingkan Mei, volume pengiriman pada Juni melonjak 41%, sementara secara tahunan naik 13,6% dibandingkan Juni tahun lalu.
Pengiriman batu bara dari Pelabuhan Gladstone ke Jepang pada Juni melonjak 46% dibandingkan bulan sebelumnya dan naik 27% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi 2,24 juta ton. Volume tersebut merupakan yang tertinggi sejak November 2022.
Sementara itu, ekspor batu bara Australia ke China melalui pelabuhan tersebut meningkat 71% secara bulanan dan 5,5% secara tahunan menjadi 576.221 ton, sekaligus menjadi volume bulanan tertinggi sepanjang tahun ini.
Pada awal Juni, minat pembeli China terhadap batu bara Australia meningkat tajam setelah terjadi kelangkaan mendadak pasokan batu bara kokas domestik yang memicu lonjakan harga.
Banyak tambang di China diperintahkan menghentikan operasi untuk menjalani inspeksi keselamatan sejak akhir Mei, menyusul ledakan mematikan di sebuah tambang bawah tanah di Provinsi Shanxi, China utara.
Tambang Blackwater, yang mayoritas dimiliki oleh perusahaan Australia Whitehaven Coal Limited, umumnya mengirimkan batu baranya melalui jalur kereta api menuju Pelabuhan Gladstone untuk diekspor.
Di antara tujuan ekspor utama lainnya, pengiriman batu bara ke India mencapai 1,16 juta ton pada Juni, naik 11,5% dibandingkan Mei, namun turun 26% dibandingkan Juni tahun lalu.
Sementara itu, ekspor ke Korea Selatan turun 10,4% secara bulanan menjadi 1,29 juta ton. Meski demikian, dibandingkan periode yang sama tahun lalu, volume ekspor ke Korea Selatan masih melonjak 52%.
Secara keseluruhan, selama periode Januari-Juni 2026, total ekspor batu bara melalui Pelabuhan Gladstone mencapai 33,27 juta ton, meningkat 10,5% dibandingkan semester pertama tahun lalu.
El Nino Picu Permintaan Batu Bara
Fenomena cuaca Super El Niño tahun ini diperkirakan akan mendorong lonjakan permintaan listrik berbahan bakar batu bara di India selama 12 bulan ke depan. Hal itu disebabkan potensi kesenjangan pasokan listrik akibat suhu yang lebih tinggi, menurut laporan lembaga riset berbasis di Finlandia, Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) yang dirilis pada Senin.
Menurut CREA, El Niño akan memengaruhi berbagai sistem energi di seluruh dunia. Namun, dampaknya diperkirakan paling besar akan dirasakan oleh India.
Fenomena El Niño yang umumnya dikaitkan dengan kecepatan angin yang lebih rendah dan curah hujan yang berkurang diperkirakan akan menekan produksi listrik dari tenaga angin dan tenaga air di India. Akibatnya, akan muncul kesenjangan pasokan listrik yang kemungkinan besar akan ditutup melalui peningkatan pembangkitan listrik berbahan bakar batu bara.
"Jika penurunan produksi energi terbarukan dikombinasikan dengan meningkatnya permintaan listrik, India berpotensi menghadapi kesenjangan pembangkitan listrik hampir 18 terawatt-hour (TWh)," tulis para analis CREA dalam laporannya, dikutip dari Reuters.
Skenario yang paling mungkin saat ini adalah lonjakan pembangkitan listrik berbahan bakar batu bara, yang diperkirakan akan melepaskan sekitar 17 juta ton emisi CO₂.
Sebagai importir dan pengguna batu bara terbesar kedua di dunia setelah China, India masih sangat bergantung pada batu bara meskipun kapasitas energi terbarukannya terus berkembang pesat. Kehadiran Super El Niño dinilai dapat memperkuat alasan India untuk tetap mempertahankan penggunaan batu bara sebagai sumber energi utama.
Secara keseluruhan, pembangkitan listrik dan pembangunan kapasitas pembangkit berbahan bakar batu bara di India terus meningkat. Batu bara masih menjadi tulang punggung sistem kelistrikan negara tersebut dengan menyumbang sekitar 60% dari total produksi listrik nasional.
Meskipun pembangunan pembangkit energi terbarukan terus melaju, India tetap mengandalkan batu bara untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan listriknya.
Pemerintah juga berupaya menghindari risiko pemadaman listrik, terutama saat gelombang panas ekstrem meningkatkan konsumsi energi.
Penasihat energi di lembaga kajian kebijakan pemerintah India, NITI Aayog, Rajnath Ram, pada akhir tahun lalu mengatakan bahwa batu bara masih akan menjadi bagian penting dari sistem kelistrikan India selama dua dekade ke depan.
"Kita tidak bisa bersikap subjektif terhadap batu bara. Pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat memanfaatkannya secara lebih berkelanjutan," ujarnya.
Pengiriman Batu Bara ke China Turun
Kedatangan batu bara melalui jalur kereta api ke pelabuhan-pelabuhan utama di China utara pada 6 Juli 2026 turun 18,63% dibandingkan hari sebelumnya.
Penurunan pasokan kereta mengindikasikan berkurangnya pengiriman dari wilayah tambang utama seperti Shanxi, Shaanxi, dan Inner Mongolia menuju pelabuhan ekspor domestik.
Apabila kedatangan kereta terus berada di bawah tingkat pemuatan kapal, stok batu bara di pelabuhan berpotensi turun. Kondisi ini biasanya menjadi faktor pendukung harga batu bara domestik China.
Namun apabila permintaan dari pembangkit listrik masih lesu, dampak terhadap harga cenderung terbatas.
Sebaliknya, pasar batu bara termal di area tambang China masih berada di bawah tekanan pada 6 Juli, karena belum ada perbaikan nyata pada fundamental permintaan dan pasokan. Persediaan batu bara di pembangkit listrik masih tinggi, sementara cuaca yang relatif tidak terlalu panas menahan konsumsi listrik.
Penyebab utama harga melemah adalah konsumsi batu bara di pembangkit listrik masih di bawah tahun lalu. Pada 3 Juli, konsumsi harian enam grup pembangkit listrik pesisir utama tercatat sekitar 786.300 ton, turun 7,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Produksi listrik tenaga air (PLTA) tetap tinggi akibat curah hujan yang melimpah di wilayah Sungai Yangtze. Selain itu, hujan yang dipicu sisa Topan Maysak di beberapa provinsi selatan turut meningkatkan pembangkitan listrik dari PLTA sehingga mengurangi kebutuhan pembangkit listrik tenaga batu bara.
Dengan stok batu bara yang tinggi, pembangkit listrik lebih memilih memenuhi kebutuhan melalui kontrak jangka panjang, sementara pembelian di pasar spot hanya dilakukan untuk kebutuhan mendesak. Industri kimia dan kokas juga hanya membeli sesuai kebutuhan karena margin keuntungan yang tipis.
(mae/mae) Addsource on Google