China Menggila! Peta Industri Mobil Dunia Berubah Total
Jakarta, CNBC Indonesia - Peta kekuatan Industri otomotif dunia sudah berubah. Lima tahun lalu, daftar produsen mobil terbesar dunia hampir sepenuhnya diisi nama-nama yang sudah lama mendominasi industri otomotif, terutama dari Benua Eropa/
Hari ini, dua posisi teratas masih ditempati Toyota dan Volkswagen. Namun tepat di bawah mereka, susunan pemain mulai berubah. Produsen asal China merangkak naik, sementara sejumlah merek Jepang, Eropa, dan Amerika kehilangan posisi yang selama bertahun-tahun terasa aman.
Perubahan itu menunjukkan satu hal. Persaingan industri otomotif global tidak lagi hanya ditentukan oleh para pemain lama, tetapi juga oleh siapa yang paling cepat beradaptasi.
Puncaknya Masih Sama
Toyota kembali menjadi produsen mobil terbesar di dunia pada 2025 dengan penjualan lebih dari 11 juta kendaraan. Volkswagen tetap berada di posisi kedua dengan penjualan mendekati 9 juta unit.
Di bawah keduanya, Hyundai-Kia naik ke peringkat ketiga dan menggeser General Motors ke posisi keempat. Stellantis, yang lahir dari merger Fiat Chrysler dan PSA Group pada 2021, menempati peringkat kelima dengan penjualan sekitar 5,6 juta unit.
China Mulai Masuk ke Barisan Depan
Perubahan paling mencolok datang dari China.
Hingga 2023, BYD bahkan belum masuk dalam daftar 15 produsen mobil terbesar dunia. Setahun kemudian perusahaan itu menembus papan atas, dan pada 2025 langsung berada di posisi ketujuh dengan penjualan lebih dari 4,1 juta kendaraan.
Geely pun naik dari peringkat ke-14 menjadi ke-11, sementara Changan juga berhasil masuk ke dalam jajaran 15 besar.
Lima tahun lalu, banyak produsen China masih dipandang sebagai pemain yang kuat di pasar domestik. Kini mereka mulai bersaing di tingkat global dan menjadi pesaing langsung bagi merek-merek yang telah puluhan tahun mendominasi industri.
Nama-Nama Lama Mulai Bergeser
Perubahan di industri otomotif global tidak hanya melahirkan pemain baru. Di saat yang sama, beberapa nama yang selama puluhan tahun identik dengan pasar mobil dunia justru kehilangan posisi.
Honda turun dari peringkat kelima menjadi kedelapan dalam lima tahun terakhir. Nissan bergeser dari posisi ketujuh ke peringkat ke-10, sementara Renault mengalami penurunan paling tajam di antara produsen besar, dari peringkat kesembilan menjadi ke-14.
Â
Produsen premium asal Jerman juga tidak sepenuhnya kebal terhadap perubahan. BMW turun dua peringkat menjadi posisi ke-13, sedangkan Mercedes-Benz bergeser dari peringkat ke-12 menjadi ke-15.
Perubahan ini menunjukkan bahwa ukuran dan sejarah sebuah merek tidak lagi menjamin posisinya tetap aman. Di tengah persaingan yang semakin ketat, mempertahankan pangsa pasar menjadi tantangan yang sama besarnya dengan merebut pasar baru.
Pergeseran Industri Tidak Punya Satu Penyebab
Mudah menganggap kebangkitan produsen baru semata-mata didorong mobil listrik. Namun data lima tahun terakhir menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.
Toyota tetap menjadi produsen mobil terbesar di dunia, sementara Volkswagen masih bertahan di posisi kedua. Hyundai-Kia naik ke peringkat ketiga, Ford mempertahankan posisinya di urutan keenam, dan Stellantis langsung masuk lima besar setelah terbentuk dari penggabungan Fiat Chrysler dengan PSA Group pada 2021.
Artinya, perubahan industri otomotif tidak digerakkan oleh satu faktor. Mobil listrik memang menjadi salah satu pendorong penting, tetapi merger, ekspansi global, efisiensi produksi, hingga strategi produk juga ikut menentukan siapa yang mampu bertahan dan siapa yang mulai tertinggal.
Persaingan menjadi lebih terbuka. Produsen mapan kini tidak hanya bersaing satu sama lain, tetapi juga menghadapi pemain baru yang berkembang jauh lebih cepat dibanding satu dekade lalu.
CNCB INDONESIA RESEARCHÂ
(mae/mae) Addsource on Google