Jelang HUT ke-250 AS: Ribuan Warga Amerika Mulai Menyerah Cari Kerja
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) tengah bersiap menyambut hari ulang tahun kemerdekaannya yang ke-250 pada Sabtu, 4 Juli 2026. Usia seperempat abad ini seharusnya menjadi momentum besar bagi negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu.
Namun, menjelang perayaan bersejarah itu, ada kabar kurang sedap dari pasar tenaga kerja AS.
Angka pengangguran memang turun pada Juni, tetapi penurunan tersebut ternyata bukan sepenuhnya pertanda baik.
Tingkat pengangguran AS turun ke 4,2% pada Juni, menjadi yang terendah dalam setahun terakhir. Sekilas, angka ini terlihat positif. Masalahnya, penurunan tersebut bukan terjadi karena semakin banyak warga AS mendapat pekerjaan, melainkan karena banyak orang justru berhenti mencari kerja.
Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS yang dirilis Kamis kemarin (2/7/2026) waktu setempat menunjukkan tingkat partisipasi angkatan kerja turun ke 61,5%. Ini merupakan level terendah sejak Maret 2021. Jika periode pandemi Covid-19 dikeluarkan dari perhitungan, angka tersebut menjadi yang terendah dalam 50 tahun terakhir.
Tingkat partisipasi angkatan kerja menggambarkan jumlah penduduk usia kerja yang sedang bekerja atau aktif mencari pekerjaan. Jadi, ketika angka ini turun, artinya semakin banyak orang yang keluar dari pasar tenaga kerja, baik karena pensiun, menyerah mencari pekerjaan, atau alasan lainnya.
Kepala Ekonomi AS RBC Mike Reid menyebut penurunan ini sebagai eksodus besar-besaran dari pasar tenaga kerja.
"Tingkat pengangguran turun ke 4,2% karena jumlah pekerja yang menganggur dan ukuran angkatan kerja sama-sama menyusut," kata Reid dalam catatannya dikutip dari CNBC International.
Menurut dia, kondisi ini bisa saja disebabkan oleh meningkatnya jumlah pensiunan. Namun, ada kemungkinan lain yang lebih mengkhawatirkan, yakni para pencari kerja sebelumnya mulai menyerah dan memilih keluar dari angkatan kerja.
Data survei rumah tangga menunjukkan gambaran yang cukup tajam. Pada Juni saja, jumlah angkatan kerja AS anjlok 720.000 orang. Di saat yang sama, jumlah orang yang tidak masuk dalam angkatan kerja melonjak 832.000 orang.
Kondisi ini membuat data tenaga kerja AS terlihat seperti memiliki dua sisi. Di satu sisi, data non-farm payrolls (NFP) menunjukkan ekonomi AS masih menambah 57.000 pekerjaan pada Juni. Meskipun, tambahan lapangan kerja tersebut jauh lebih rendah dibandingkan Mei yang direvisi turun menjadi 129.000 pekerjaan.
Angka ini juga meleset dari perkiraan pasar yang sebelumnya memperkirakan penambahan 110.000 pekerjaan.
Namun di sisi lain, survei rumah tangga menunjukkan jumlah orang yang benar-benar bekerja justru turun 507.000 orang.
Secara tahunan, angkatan kerja AS sudah berkurang lebih dari 1 juta orang. Jumlah orang yang bekerja juga turun sekitar 1,06 juta orang, sementara jumlah pengangguran naik 40.000 orang.
Rasio penduduk yang bekerja terhadap total populasi juga turun ke 59% pada Juni. Ini menjadi level terendah sejak Oktober 2021. Semua pelemahan itu terjadi ketika tingkat pengangguran hanya naik tipis 0,1 poin persentase menjadi 4,2%.
Ekonom Senior Allianz untuk Amerika Utara Dan North menilai angka partisipasi tenaga kerja jauh lebih penting untuk diperhatikan dibandingkan tingkat pengangguran.
"Yang benar-benar memengaruhi saya bukan semata tingkat pengangguran. Perkembangan pentingnya adalah tingkat partisipasi, dan ini turun cukup besar hanya dalam satu bulan. Dalam setahun terakhir, penurunannya juga cukup besar. Menurut saya, ini angka yang lebih penting," kata North dikutip dari CNBC International.
Selama ini, penurunan partisipasi kerja di AS sering dikaitkan dengan berkurangnya jumlah imigran serta banyaknya generasi baby boomer dan Gen X yang mulai pensiun. Namun, data terbaru menunjukkan masalahnya tidak sesederhana itu.
Pada Juni, penurunan terbesar justru datang dari kelompok pekerja usia produktif utama, yakni mereka yang berusia 25 hingga 54 tahun. Tingkat partisipasi kelompok ini turun 0,6 poin persentase menjadi 83,3%, level terendah sejak Desember 2023.
Menurut North, penjelasan bahwa penurunan ini hanya disebabkan oleh pensiun dan imigrasi mulai kurang kuat jika melihat data terbaru.
Beberapa ekonom memang menilai data Juni bisa saja terlalu berisik atau belum sepenuhnya menggambarkan tren yang stabil. Salah satu penyebabnya adalah penurunan besar pada pekerja sektor rekreasi dan perhotelan, yang bisa membuat angka bulanan terlihat lebih ekstrem.
Namun, penurunan partisipasi tenaga kerja bukan hanya terjadi sekali. Angka ini sudah menjadi bagian dari tren yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.
Kepala Ekonom Navy Federal Credit Union Heather Long menyebut cukup mengejutkan melihat 720.000 orang berhenti mencari kerja sepenuhnya dalam satu bulan, sementara sektor perhotelan juga kehilangan pekerjaan.
Menurut dia, pasar tenaga kerja AS memang masih lebih baik dibandingkan tahun lalu. Namun, peluang kerja kini mulai semakin terbatas.
CNBCÂ INDONESIA RESEARCHÂ
(evw/evw) Addsource on Google