MARKET DATA

10 Mata Uang Terlemah Dunia Semester I-2026, Ada Rupiah-Won!

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
02 July 2026 15:25
FILE PHOTO: A U.S. Dollar note is seen in this June 22, 2017 illustration photo. REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo/File Photo
Foto: Foto Ilustrasi mata uang Dolar. REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Semester I-2026 menjadi periode yang berat bagi banyak mata uang dunia. Tekanan datang bertubi-tubi, mulai dari konflik geopolitik, lonjakan harga minyak, inflasi yang kembali memanas, hingga dolar Amerika Serikat (AS) yang makin perkasa.

Sejak akhir Februari, pasar global diguncang perang AS-Iran. Ketegangan ini kemudian makin membesar setelah Selat Hormuz ditutup. Padahal, jalur ini merupakan salah satu urat nadi utama perdagangan minyak dunia.

Akibatnya, harga minyak mentah dunia melonjak tajam. Kenaikan harga minyak tidak hanya berdampak ke sektor energi, tetapi juga merembet ke biaya logistik, transportasi, hingga harga barang kebutuhan sehari-hari. Ujung-ujungnya, tekanan inflasi kembali meningkat di banyak negara.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar mulai memperkirakan suku bunga global akan bertahan tinggi lebih lama. Bahkan menjelang akhir semester I-2026, ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve atau The Fed kembali menguat.

Pada saat yang sama, dolar AS juga menjadi buruan investor. Saat perang dan ketidakpastian meningkat, investor biasanya mencari aset yang dianggap lebih aman. Salah satunya adalah dolar AS.

Kombinasi antara status dolar sebagai safe haven dan ekspektasi suku bunga The Fed yang lebih tinggi membuat mata uang negara-negara lain semakin tertekan. Banyak mata uang emerging market harus bekerja ekstra keras menghadapi dolar AS yang terus menguat.

Berdasarkan data yang telah dihimpun CNBC Indonesia melalui Refinitiv, berikut 10 mata uang dengan performa terburuk sepanjang paruh pertama 2026. 

1. Rial Iran 

Rial Iran menjadi mata uang dengan pelemahan paling dalam sepanjang Semester I-2026. Mata uang ini tercatat ambruk 3.173,8% terhadap dolar AS.

Kurs rial bergerak sangat tajam dari 42.000 per dolar AS pada awal periode menjadi 1.374.998 per dolar AS di akhir Semester I-2026. Artinya, jumlah rial yang dibutuhkan untuk membeli satu dolar AS melonjak luar biasa besar hanya dalam waktu enam bulan.

Tekanan terhadap rial tidak bisa dilepaskan dari konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS). Perang yang pecah pada akhir Februari membuat risiko ekonomi Iran meningkat drastis. Aktivitas ekonomi terganggu, sentimen investor memburuk, dan kebutuhan terhadap dolar AS ikut melonjak.

Selain perang, rial juga masih dibayangi tekanan sanksi AS. Sanksi tersebut membatasi ruang gerak ekonomi Iran, termasuk akses terhadap sistem keuangan global dan perdagangan internasional. Dalam kondisi seperti ini, pasokan dolar menjadi semakin terbatas, sementara permintaannya tetap tinggi.

2. Bolivar Venezuela 

Di posisi kedua ada bolivar Venezuela. Mata uang ini melemah 110,16% sepanjang paruh pertama tahun ini.

Kurs bolivar bergerak dari 300,61 per dolar AS menjadi 631,78 per dolar AS. Dengan kata lain, hanya dalam setengah tahun, kebutuhan bolivar untuk membeli satu dolar AS menjadi lebih dari dua kali lipat.

Tekanan terhadap bolivar tidak lepas dari gejolak politik besar yang terjadi di Venezuela. Pada awal Januari 2026, Amerika Serikat (AS) melancarkan operasi militer dan menangkap Presiden Nicolás Maduro.

Dalam narasi pemerintah Venezuela dan sebagian pihak, langkah itu disebut sebagai penculikan karena Maduro dibawa keluar dari negaranya oleh pasukan AS. Reuters melaporkan Maduro kemudian dibawa menuju New York untuk menghadapi dakwaan pidana.

3. Dinar Libya 

Dinar Libya menempati posisi ketiga dalam daftar mata uang terlemah. Sepanjang Semester I-2026, dinar Libya melemah 18,42% terhadap dolar AS.

Kurs dinar bergerak dari 5,40 per dolar AS menjadi 6,39 per dolar AS. Pelemahannya memang tidak seekstrem Iran atau Venezuela, tetapi tetap besar untuk ukuran pergerakan mata uang dalam waktu enam bulan.

4. Lira Turki 

Lira Turki juga masuk dalam daftar mata uang dengan kinerja terburuk. Mata uang ini melemah 8,61% sepanjang Semester I-2026.

Kurs lira bergerak dari 42,94 per dolar AS menjadi 46,64 per dolar AS. Pelemahan ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap lira belum benar-benar reda.

5. Rupee Sri Lanka 

Rupee Sri Lanka berada di posisi kelima dengan pelemahan 8,56% terhadap dolar AS.

Kurs rupee Sri Lanka naik dari 309,50 per dolar AS menjadi 336,00 per dolar AS. Pelemahan ini menunjukkan bahwa mata uang Sri Lanka masih sensitif terhadap perubahan kondisi global.

6. Cedi Ghana 

Cedi Ghana juga tidak lepas dari tekanan dolar AS. Mata uang ini melemah 8,13% dalam enam bulan pertama tahun ini. 

Kurs cedi bergerak dari 10,45 per dolar AS menjadi 11,30 per dolar AS. Angka ini menempatkan cedi sebagai mata uang terlemah keenam dalam daftar.

Pelemahan cedi menunjukkan bahwa tekanan dolar AS tidak hanya menghantam negara yang berada di pusat konflik, tetapi juga negara berkembang lain yang masih rentan terhadap arus modal keluar dan tekanan biaya impor.

7. Won Korea Selatan 

Won Korea Selatan menjadi salah satu mata uang Asia yang masuk dalam daftar ini. Sepanjang Semester I-2026, won melemah 7,26% terhadap dolar AS.

Kurs won bergerak dari 1.442,65 per dolar AS menjadi 1.547,33 per dolar AS. Pelemahan ini cukup menarik karena Korea Selatan merupakan salah satu ekonomi besar Asia.

Namun, ketika dolar AS menguat dan pasar global masuk mode hati-hati, mata uang negara yang bergantung pada perdagangan global seperti Korea Selatan tetap bisa ikut tertekan. Ini menunjukkan bahwa tekanan dolar AS pada Semester I-2026 cukup luas.

8. Rupiah 

Rupiah juga masuk dalam daftar 10 mata uang dengan performa terburuk hingga pertengahan 2026 ini. Mata uang Garuda melemah 7,23% terhadap dolar AS.

Kurs rupiah bergerak dari Rp16.670 per dolar AS pada awal periode menjadi Rp17.875 per dolar AS di akhir Semester I-2026.

Tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari eksternal. Dari dalam negeri, pasar tengah memiliki kekhawatiran besar terhadap kondisi fiskal Indonesia dan arah kebijakan pemerintah. Investor menilai ruang fiskal perlu dijaga, terutama di tengah kebutuhan belanja negara yang besar dan tantangan menjaga defisit di bawah batasan 3%.

Ketidakpastian arah kebijakan pemerintah turut menambah tekanan. Hal ini membuat pelaku pasar lebih berhati-hati masuk ke aset rupiah, baik di pasar saham maupun obligasi.

Kekhawatiran tersebut juga tercermin dari langkah sejumlah lembaga pemeringkat global. Fitch dan Moody's sebelumnya menurunkan outlook Indonesia, yang menjadi sinyal bahwa risiko terhadap fiskal dan kebijakan ekonomi Indonesia mulai mendapat perhatian lebih besar dari pasar global.

9. Shilling Tanzania 

Shilling Tanzania berada di posisi kesembilan dengan pelemahan 6,97% terhadap dolar AS.

Kurs shilling bergerak dari 2.440 per dolar AS menjadi 2.610 per dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan dolar AS juga menjalar ke mata uang negara berkembang di Afrika.

Bagi negara berkembang, penguatan dolar biasanya menjadi tantangan besar. Biaya impor bisa meningkat, sementara pembayaran kewajiban dalam dolar menjadi lebih mahal.

10. Hryvnia Ukraina Masih Tertekan Perang

Hryvnia Ukraina menutup daftar 10 mata uang terlemah sepanjang Semester I-2026. Mata uang ini melemah 5,84% terhadap dolar AS.

Kurs hryvnia bergerak dari 42,10 per dolar AS menjadi 44,56 per dolar AS. Meski pelemahannya tidak sedalam mata uang lain dalam daftar ini, tekanan terhadap hryvnia tetap mencerminkan kondisi Ukraina yang masih rapuh.

Salah satu faktor utama yang membayangi hryvnia adalah perang Ukraina melawan Rusia yang masih berlangsung. Konflik berkepanjangan membuat aktivitas ekonomi Ukraina belum bisa pulih sepenuhnya. Belanja negara untuk kebutuhan perang juga tetap besar, sementara risiko terhadap stabilitas ekonomi masih tinggi.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular