8 Kabar Buruk Hantam RI di Awal Juli, Ekonomi Baik-Baik Saja?
Jakarta, CNBC Indonesia -Â Awal Juli 2026 dibuka dengan sederet kabar kurang sedap bagi Ekonomi Indonesia. Dalam waktu berdekatan, sejumlah data penting memberi sinyal bahwa kondisi Ekonomi RI sedang tidak benar-benar nyaman.Â
Tekanan datang dari dalam negeri maupun luar negeri. Dari dalam negeri, inflasi kembali naik, aktivitas manufaktur jatuh ke zona kontraksi, dan neraca dagang kembali defisit setelah enam tahun bertahan surplus.
Dari luar negeri, tekanannya juga tidak kalah berat. Ekonomi Amerika Serikat (AS) masih menunjukkan daya tahan, pasar tenaga kerjanya belum melemah drastis, sementara inflasi masih jauh di atas target The Fed. Kombinasi ini bisa membuat bank sentral AS tetap bersikap hawkish.
Situasi ini jelas tidak mudah. Rupiah masih harus berhadapan dengan dolar AS yang kuat, sementara kita juga perlu menjaga inflasi, nilai tukar, dan momentum pertumbuhan ekonomi secara bersamaan.
Berikut sejumlah tekanan yang membuat ekonomi RI tidak bisa disebut baik-baik saja pada awal Juli ini.
1. Inflasi RI Makin Panas
Alarm pertama datang dari inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Juni 2026 mencapai 3,34% secara tahunan atau year on year/yoy. Secara bulanan, inflasi tercatat sebesar 0,44% month to month/mtm, sementara inflasi tahun kalender mencapai 1,79%.
Angka ini memang masih berada dalam rentang sasaran inflasi Bank Indonesia. Namun, posisinya sudah semakin dekat ke batas atas target plus minus 2,5%.Â
Dalam riset BCA Economic and Industry, kenaikan inflasi ini tidak terlalu mengejutkan. Pasalnya, rupiah masih melemah sehingga ikut mendorong kenaikan harga barang impor. Selain itu, harga minyak global yang masih tinggi pada bulan sebelumnya juga ikut memberi tekanan terhadap harga di dalam negeri.
"Mengingat komitmen pemerintah untuk memanfaatkan dana SAL guna mendorong pertumbuhan kredit, kami dapat berasumsi bahwa inflasi inti akan tetap stabil atau berada dalam tren naik selama enam bulan ke depan," tulis BCAÂ dalam risetnya.Â
Meski harga energi global telah turun tajam dari level tertingginya selama masa perang, dua faktor lain masih dapat mendorong inflasi lebih tinggi ke depan. Pelemahan rupiah dapat semakin diteruskan ke kenaikan harga barang domestik, dan kemunculan El Nino yang diperkirakan terjadi dapat mendorong harga pangan lebih tinggi.
2. Manufaktur Kehilangan Tenaga
Kabar kurang mengenakan berikutnya datang dari sektor manufaktur. S&P Global mencatat PMI Manufaktur Indonesia turun tajam ke level 46,9 pada Juni dari sebelumnya 50 di Mei. Angka di bawah 50 ini menunjukkan aktivitas manufaktur tengah mengalami kontraksi.Â
Penurunan ini tidak bisa dianggap sepele. Manufaktur adalah salah satu sektor penting dalam ekonomi Indonesia karena menyerap banyak tenaga kerja, menggerakkan rantai pasok, dan berkaitan erat dengan ekspor maupun konsumsi domestik.
Ketika PMI jatuh cukup dalam, artinya kegiatan pabrik sedang melambat. Produksi bisa tertahan, pesanan baru melemah, dan pelaku usaha cenderung lebih hati-hati dalam mengambil keputusan bisnis.
3. Defisit Neraca Dagang Pertama KaliÂ
Hal yang cukup mengejutkan datang dari neraca perdagangan. Menurut rilis BPS, Indonesia mencatatkan defisit neraca dagang sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026.Â
BPS mencatat, defisit ini terjadi karena ekspor tercatat US$23,20 miliar, sementara impor mencapai US$24,81 miliar. Defisit ini didorong oleh lonjakan impor minyak dan gas sebesar 70% yoy, bersamaan dengan pembelian nonmigas yang tetap kuat.
Catatan ini menjadi pukulan karena Indonesia sebelumnya menikmati surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak April 2020. Alhasil, ini menjadi defisit pertama dalam enam tahun dan terdalam sejak April 2019.
"Tidak adanya penyesuaian harga BBM domestik untuk menekan permintaan, ditambah harga minyak global yang tinggi dan rupiah yang lebih lemah, membebani neraca perdagangan. Ekspor turun 5% yoy, terutama akibat pelemahan pengiriman minyak sawit, besi dan baja, serta mesin, meskipun ekspor nikel tetap tangguh," tulis ekonom senior DBS Radhika Rao.
Kabar baiknya, ketegangan geopolitik yang mulai mereda telah membuat harga minyak acuan global turun tajam pada Juni. Ia menilai kondisi ini berpotensi mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan Indonesia mulai kuartal III-2026.
Deretan data tersebut menjadi tekanan negatif dari dalam negeri. Namun, masalahnya tidak berhenti di situ. Dari luar negeri, tekanan juga datang dari Amerika Serikat (AS), yang kondisi ekonominya justru masih terlihat cukup kencang.
Kondisi ini menjadi penting karena ekonomi AS yang kuat, inflasi yang masih tinggi, dan pasar tenaga kerja yang belum banyak melemah bisa membuat ekspektasi suku bunga tinggi The Fed bertahan lebih lama. Bahkan, peluang The Fed kembali menaikkan suku bunga juga mulai ikut diperhitungkan pasar.
4. Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2026 AS
Ekonomi AS masih menunjukkan daya tahan. Bureau of Economic Analysis (BEA) mencatat produk domestik bruto atau gross domestic product (GDP) AS tumbuh 2,1% secara tahunan atau annual rate pada kuartal I-2026 berdasarkan estimasi final.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan kuartal IV-2025 yang hanya tumbuh 0,5%. BEA mencatat kenaikan PDB AS pada kuartal I-2026 ditopang oleh investasi, ekspor, belanja pemerintah, dan konsumsi masyarakat.
5. Inflasi PCE AS
Selain ekonomi yang masih tumbuh, tekanan harga di AS juga belum reda. BEA mencatat indeks harga personal consumption expenditures atau PCE price index naik 4,1% secara tahunan pada Mei 2026.
Secara bulanan, PCE price index naik 0,4%. Sementara itu, core PCE yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi naik 3,4% secara tahunan dan 0,3% secara bulanan.
6. Data Job Openings AS Terbaru
Pasar tenaga kerja AS juga masih cukup solid. Berdasarkan data Job Openings and Labor Turnover Survey atau JOLTS, jumlah lowongan kerja di AS pada Mei 2026 masih berada di level 7,6 juta.
Angka tersebut menunjukkan permintaan tenaga kerja di AS belum melemah drastis, meski suku bunga sudah berada di level tinggi.
7. Klaim Pengangguran Awal Mingguan
Sinyal serupa juga terlihat dari data klaim pengangguran awal. Departemen Tenaga Kerja AS mencatat initial jobless claims turun 12.000 menjadi 215.000 pada pekan yang berakhir 20 Juni 2026.
Penurunan klaim pengangguran ini menunjukkan tekanan di pasar tenaga kerja AS belum membesar. Dengan kata lain, belum terlihat lonjakan besar pekerja yang kehilangan pekerjaan.
8. The Fed Makin Hawkish
Empat indikator tersebut membuat ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed kembali mengeras. Ekonomi AS masih tumbuh, inflasi masih jauh di atas target, lowongan kerja tetap tinggi, dan klaim pengangguran justru turun.
Sikap hawkish The Fed juga sudah terlihat pada FOMC terakhir. Pada pertemuan 16-17 Juni 2026, The Fed memang menahan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%. Namun, pernyataannya tetap menegaskan bahwa aktivitas ekonomi AS tumbuh solid, pasar tenaga kerja relatif stabil, dan inflasi masih tinggi dibandingkan target 2%.
Nada hawkish juga terlihat dari proyeksi terbaru The Fed. Dalam Summary of Economic Projections Juni 2026, median proyeksi federal funds rate untuk akhir 2026 naik menjadi 3,8%, dari proyeksi Maret yang sebesar 3,4%. Proyeksi inflasi PCE 2026 juga dinaikkan menjadi 3,6%, dari sebelumnya 2,7%.
Pasar pun mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga lagi. Berdasarkan Fed Rate Monitor Investing.com yang mengacu pada harga futures Fed funds CME, probabilitas The Fed menaikkan suku bunga ke kisaran 3,75%-4,00% pada FOMC 29 Juli 2026 berada di 28,8%. Sementara itu, peluang suku bunga tetap ditahan di 3,50%-3,75% berada di 71,2%.
CNBCÂ INDONESIA RESEARCHÂ
(evw/evw) Addsource on Google