China Beri Kabar Buruk Buat Pengusaha Batu Bara RI, AS Beri Harapan
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melandai dihujani kabar baik dari Amerika Serikat (AS). Namun, sentimen negatif dari China dan India lebih mendorong harga ke bawah.
Merujuk Refinitv, harga batu bara pada Rabu (1/7/2026) ditutup di US$ 129,4 per ton atau turun tipis 0,03%.
Pelemahan ini memutus tren positifnya yang menguat 2,7% dalam dua hari sebelumnya.
Batu bara sebenarnya mendapat sentiment positif dari AS.
Perusahaan-perusahaan di AS diperkirakan akan menggelontorkan sekitar US$50 miliar untuk pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dan gas alam tahun ini, menurut International Energy Agency (IEA), seperti dikutip Financial Times.
Ini menjadi pertama kalinya dalam beberapa dekade belanja perusahaan AS untuk pembangkit batu bara dan gas melampaui investasi China di kedua sumber energi tersebut. Selisihnya diperkirakan mencapai sekitar US$3 miliar.
Lonjakan investasi tersebut terutama didorong oleh meningkatnya permintaan turbin gas seiring pesatnya pembangunan pusat data (data center) di Amerika Serikat.
Menurut IEA, perusahaan-perusahaan AS telah memesan kapasitas pembangkit berbasis turbin gas hingga 20 gigawatt (GW) hanya pada kuartal I tahun ini.
Di sisi lain, harga turbin gas melonjak tajam akibat terbatasnya pasokan. Seorang analis Rystad Energy mengatakan harga turbin gas telah naik dari sekitar US$800 per kilowatt (kW) menjadi lebih dari US$2.500 per kW.
Selain kebutuhan listrik dari pusat data yang mengandalkan pasokan listrik stabil (baseload) dari pembangkit gas dan batu bara.
Ekspansi pembangkit angin dan surya juga meningkatkan kebutuhan pembangkit baseload untuk menjaga kestabilan jaringan listrik saat kondisi cuaca tidak mendukung produksi energi terbarukan.
Meski permintaan listrik terus melonjak, kapasitas produksi turbin gas hampir tidak bertambah dalam beberapa tahun terakhir sehingga memicu kekurangan pasokan.
Salah satu produsen turbin gas terbesar dunia, Siemens Energy, melaporkan pada Februari lalu bahwa bisnis layanan turbin gasnya mencatat rekor pemesanan, dengan 102 turbin baru masuk dalam daftar pesanan. Sekitar 40% pesanan tersebut berasal dari Amerika Serikat, sementara 35% berasal dari Eropa.
Sementara itu, Mitsubishi Power, produsen turbin gas terbesar ketiga di dunia, tahun lalu mengumumkan rencana menggandakan kapasitas produksinya untuk memenuhi lonjakan permintaan.
Chief Executive Officer (CEO) perusahaan mengatakan peningkatan kapasitas produksi sebesar 30% tidak lagi cukup untuk mengimbangi tingginya permintaan, sehingga pemenuhan pesanan menjadi prioritas utama perusahaan.
Produksi Batu Bara India Turun
Produksi batu bara perusahaan pelat merah India, Coal India Ltd (CIL), turun 7,5% menjadi 169,6 juta ton (MT) pada kuartal I tahun fiskal 2026/2027 (April-Juni), meski permintaan dari sektor ketenagalistrikan tetap kuat di tengah konsumsi listrik yang mencapai rekor pada musim panas.
Sebagai produsen yang menyumbang lebih dari 80% produksi batu bara India, CIL sebelumnya membukukan produksi 183,3 juta ton pada periode April-Juni tahun fiskal sebelumnya.
Pada Juni saja, produksi batu bara CIL turun tipis 0,6% menjadi 57,4 juta ton dari 57,8 juta ton pada Juni tahun lalu.
Anak usaha yang mencatat penurunan produksi antara lain Bharat Coking Coal Ltd (BCCL) dan Mahanadi Coalfields Ltd (MCL). Sementara itu, South Eastern Coalfields Ltd (SECL), Eastern Coalfields Ltd (ECL), Central Coalfields Ltd (CCL), dan Western Coalfields Ltd (WCL) masih membukukan pertumbuhan produksi.
Meski produksi menurun, penjualan batu bara CIL justru meningkat. Pada Juni, penjualan naik 7,5% menjadi 65,8 juta ton dari 61,2 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.
Secara kumulatif sepanjang April-Juni, penjualan batu bara CIL juga naik 3,5% menjadi 197,7 juta ton, dibandingkan 191 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Harga Batu Bara di China Turun
Harga batu bara termal di pelabuhan China anjlok akibat stok yang melimpah dan cuaca yang lebih sejuk dari perkiraan, sehingga harapan kenaikan permintaan listrik selama musim panas memudar.
Hingga kini pembangkit listrik dan pelaku pasar tidak agresif membeli pasokan baru. Persediaan batu bara di pelabuhan dan pembangkit listrik masih tinggi sehingga kebutuhan restocking sangat terbatas.
Gelombang panas yang diharapkan mendorong konsumsi listrik belum terjadi.
Cuaca yang relatif sejuk mengurangi penggunaan pendingin ruangan sehingga permintaan listrik dan batu bara lebih rendah dari perkiraan.
Produksi batu bara domestik China juga tetap tinggi sehingga pasokan melimpah dan semakin menekan harga.
Di sisi lain, pembangkit listrik tenaga air (PLTA) memperoleh pasokan air yang lebih baik di sejumlah wilayah, sehingga mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.
Pelemahan harga di China juga berpotensi menekan harga batu bara laut (seaborne coal), termasuk batu bara dari Indonesia dan Australia, karena China merupakan importir batu bara terbesar di dunia. Jika permintaan China melemah, ekspor dari negara pemasok berisiko ikut tertekan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sentimen negatif karena China merupakan pasar ekspor batu bara terbesar. Apabila harga batu bara di China terus melemah dan impor melambat, harga acuan batu bara global serta kinerja ekspor batu bara Indonesia berpotensi ikut tertekan.
(mae/mae) Addsource on Google