Mata Uang Asia Yen - Ringgit Kebakaran Hebat: Rupiah Paling Parah
Jakarta, CNBC Indonesia - Seluruh mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (1/7/2026). Tekanan terjadi seiring indeks dolar AS kembali menguat.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.45 WIB, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, seluruhnya kompak tertekan dari dolar AS. Tekanan paling dalam dialami won Korea Selatan yang melemah 0,65% ke posisi KRW 1.557/US$. Rupiah menyusul sebagai mata uang dengan pelemahan terdalam kedua di Asia.
Mata uang Garuda melemah 0,53% ke posisi Rp17.970/US$. Posisi ini membuat rupiah semakin dekat dengan level psikologis Rp18.000/US$.
Peso Filipina juga terkoreksi cukup tajam, yakni 0,42% ke posisi PHP 61,580/US$. Baht Thailand melemah 0,30% ke THB 33,34/US$, disusul dong Vietnam yang turun 0,24% ke VND 26.319/US$.
Ringgit Malaysia turut masuk zona merah setelah melemah 0,20% ke posisi MYR 4,090/US$. Dolar Singapura turun 0,19% ke SGD 1,295/US$, sementara dolar Taiwan melemah 0,16% ke TWD 31,829/US$.
Tekanan yang juga terlihat pada yen Jepang yang terkoreksi 0,14% ke posisi JPY 162,76/US$. Meski pelemahannya tidak sedalam mata uang Asia lainnya, posisi yen kini berada di level terlemah dalam 40 tahun terakhir atau sejak 1986.
Yuan China juga ikut melemah tipis 0,11% ke posisi CNY6,7927/US$.
Pelemahan pada seluruh mata uang Asia pagi ini terjadi di tengah menguatnya dolar AS di pasar global. Hal ini terlihat dari pergerakan indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, yang per pukul 09.45 WIB terpantau menguat 0,12% ke posisi 101,311. DXY kembali bergerak naik setelah sempat melemah pada awal pekan.
Penguatan dolar AS terjadi karena investor menunggu rilis data tenaga kerja bulanan AS terbaru. Data ini akan menjadi petunjuk penting untuk membaca kekuatan pasar tenaga kerja dan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).
Dolar AS juga mendapat dukungan dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield Treasury AS tenor 10 tahun naik sekitar 10 basis poin pada perdagangan sebelumnya, sehingga membuat aset berbasis dolar kembali lebih menarik di mata investor.
Dari sisi data ekonomi, lowongan kerja AS pada Mei naik ke level tertinggi dalam dua tahun. Data yang dirilis Selasa menunjukkan jumlah lowongan kerja meningkat 9.000 menjadi 7,594 juta. Angka ini lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 7,296 juta, dan juga berada di atas data April yang direvisi menjadi 7,585 juta.
Kuatnya data lowongan kerja menunjukkan permintaan tenaga kerja AS masih cukup solid, meski ada tanda-tanda perekrutan mulai melambat. Kondisi ini membuat pasar kembali melihat peluang The Fed mempertahankan sikap ketatnya lebih lama.
Setelah pengumuman suku bunga pada Juni, para pejabat The Fed memberi sinyal bahwa kenaikan suku bunga masih bisa kembali terjadi tahun ini. Pada rapat Juni, The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,50% hingga 3,75%.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperhitungkan peluang 33,70% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga 25 basis poin pada rapat 28-29 Juli. Sementara itu, peluang suku bunga tetap ditahan berada di 66,30%.
Di luar faktor suku bunga, investor juga masih mencermati pembicaraan damai AS-Iran di Qatar. Harapan terhadap gencatan senjata jangka panjang masih ada, meski kedua pihak tidak diperkirakan menggelar pembicaraan langsung.
CNBCÂ INDONESIA RESEARCHÂ
(evw/evw) Addsource on Google