Dosen Bingung, Banyak Mahasiswa Punya Kemampuan Setara Anak 10 Tahun
Jakarta, CNBC Indonesia - Lebih dari 1.800 dosen di sistem Universitas California mengungkapkan bahwa semakin banyak mahasiswa baru yang tidak memiliki kemampuan dasar matematika dan sains yang memadai untuk mengikuti perkuliahan. Akibatnya, dosen terpaksa mengajarkan kembali materi matematika tingkat sekolah menengah pertama sebelum masuk ke materi kuliah.
Mereka menyebut semakin banyak mahasiswa tahun pertama yang masuk tanpa bekal dasar yang memadai untuk mengikuti perkuliahan.Â
Kekhawatiran itu mendorong lebih dari 1.800 dosen matematika dan sains di University of California menandatangani surat terbuka. Mereka memperingatkan bahwa kemampuan dasar mahasiswa terus melemah, sampai-sampai materi yang semestinya selesai dipelajari di sekolah kini harus diulang di ruang kuliah.
Kampus Harus Mengulang Pelajaran Sekolah
Di kampus Berkeley, sekitar 20% hingga 30% mahasiswa yang mengambil kalkulus dasar datang dengan severe preparation deficits atau kekurangan kemampuan akademik yang serius. Para dosen mengatakan mereka terpaksa mengajarkan kembali matematika tingkat sekolah menengah pertama sebelum bisa masuk ke materi kuliah.
Laporan dari University of California San Diego menunjukkan kondisi yang tidak kalah mengkhawatirkan. Dalam lima tahun, jumlah mahasiswa baru dengan kemampuan matematika di bawah tingkat sekolah menengah atas meningkat hampir 30 kali lipat hingga mencapai hampir satu dari delapan mahasiswa.
Sekitar 70% dari kelompok tersebut bahkan belum menunjukkan kemampuan matematika yang diharapkan dari remaja berusia 14 tahun.
Yang Melemah Bukan Hanya Matematika
Persoalannya ternyata tidak berhenti di angka. Di Harvard University, sejumlah dosen humaniora dan ilmu sosial mengaku mulai memperpendek bahan bacaan. Laporan internal fakultas menyebut semakin banyak mahasiswa kesulitan menyelesaikan teks panjang, mempertahankan fokus, dan memahami tulisan yang kompleks.
Artinya, perubahan yang terjadi bukan sekadar penurunan kemampuan berhitung. Bekal akademik yang menjadi fondasi belajar di perguruan tinggi, mulai dari membaca, menyusun argumen, hingga berkonsentrasi dalam waktu lama, ikut mengalami kemunduran.
Masalahnya Ternyata Lebih Luas
OECD mencoba mengukurnya melalui Survey of Adult Skills yang melibatkan sekitar 160.000 responden dari puluhan negara. Untuk melihat kondisi mahasiswa, organisasi tersebut memisahkan peserta berusia di bawah 35 tahun yang saat pengujian masih menempuh pendidikan tinggi.
Hasilnya mencolok. Di negara-negara maju, sekitar 8% mahasiswa perguruan tinggi memiliki kemampuan literasi yang setara dengan tingkat yang diharapkan dari anak berusia sekitar 10 tahun. Untuk numerasi, proporsinya hampir sama.
Yang lebih mengkhawatirkan, dibanding satu dekade sebelumnya, proporsi mahasiswa dengan kemampuan literasi pada tingkat terbawah telah meningkat lebih dari dua kali lipat.
Semakin banyak mahasiswa berhasil masuk perguruan tinggi. Namun tidak semuanya datang dengan kesiapan akademik yang sama.
Tidak Semua Negara Mengalami Penurunan yang Sama
Perbedaannya cukup lebar. Di Estonia, kurang dari 2% mahasiswa perguruan tinggi berada pada tingkat literasi terbawah. Di Polandia, angkanya mencapai sekitar 20% untuk literasi. Sementara di Chile, hampir seperempat mahasiswa berada pada tingkat numerasi terendah.
Britania Raya justru mencatat hasil di atas rata-rata dan menunjukkan perbaikan dibanding satu dekade sebelumnya.
Sebaliknya, Amerika Serikat menjadi salah satu negara dengan penurunan paling tajam. Sekitar satu dari tujuh mahasiswa memiliki kemampuan literasi yang tidak melampaui tingkat sekolah dasar, naik dari sekitar satu dari 20 satu dekade sebelumnya. Untuk numerasi, proporsinya mendekati satu dari lima mahasiswa.
Pandemi Covid-19 menjadi salah satu faktor yang paling sering disebut. OECD mencatat sekolah di berbagai negara rata-rata tutup sekitar 20 minggu, belum termasuk sistem belajar bergiliran dan gangguan akibat karantina.
Namun penurunannya sudah terlihat jauh sebelum pandemi.
Di Amerika, nilai National Assessment of Educational Progress (NAEP) mulai menurun setelah mencapai puncaknya pada awal 2010-an. Pola serupa juga terlihat pada hasil Programme for International Student Assessment (PISA) di sejumlah negara seperti Prancis, Jerman, Belanda, dan Selandia Baru.
Penjelasan lain ikut bermunculan:
-
meningkatnya migrasi
-
perubahan kurikulum yang lebih menekankan soft skills
-
berkurangnya kebiasaan membaca
-
meningkatnya waktu yang dihabiskan di depan layar
Di Amerika, misalnya, proporsi anak usia sembilan tahun yang membaca buku untuk kesenangan turun dari hampir 60% pada 1990-an menjadi sekitar 37% saat ini.
Menurut Andreas Schleicher, Direktur Pendidikan OECD, penurunan literasi juga terlihat pada kelompok usia yang lebih tua karena semakin sedikit orang terbiasa membaca teks yang panjang dan kompleks.
Seleksi Masuk Kampus Ikut Berubah
Banyak pengamat menilai perguruan tinggi ikut mengubah cara mereka memilih mahasiswa.
Sebelum pandemi, lebih dari separuh universitas di Amerika masih mewajibkan calon mahasiswa mengikuti SAT atau ACT. Kini jumlahnya diperkirakan tinggal sekitar 10%.
Akibatnya, kampus semakin bergantung pada indikator lain yang justru makin sulit diukur. Esai pendaftaran kini jauh lebih mudah dibuat dengan bantuan AI. Di saat yang sama, nilai sekolah juga dinilai semakin mengalami inflasi.
Mina Aganagic, profesor matematika di UC Berkeley sekaligus salah satu penandatangan surat terbuka, menyebut proses seleksi kini menjadi semakin sulit dibaca.
"Admissions is becoming a black box."
Menurutnya, semakin sulit memastikan apakah berkas pendaftaran benar-benar mencerminkan kemampuan akademik calon mahasiswa.
Perubahan tidak berhenti setelah mahasiswa diterima. Di Yale University, sekitar 79% nilai pada tahun ajaran 2022-2023 berupa A atau A-, naik dari 67% pada 2010-2011.
Di Britania Raya, proporsi lulusan sarjana yang memperoleh predikat First Class naik dari sekitar 7% pada 1995 menjadi sekitar 30% pada 2025.
Harvard juga mengakui persoalan serupa. Dalam laporan internalnya, para dosen menyebut inflasi nilai selama bertahun-tahun membuat sistem penilaian semakin sulit digunakan sebagai ukuran kemampuan akademik.
AI Menambah Lapisan Masalah
Di tengah perubahan itu, hadir tantangan baru. Survei Higher Education Policy Institute menunjukkan 94% mahasiswa di Britania Raya menggunakan AI untuk membantu mengerjakan tugas. Sekitar 12% mengaku pernah menyalin langsung hasil yang dibuat AI, naik dari 3% setahun sebelumnya.
Di Amerika, penelitian lain menemukan sekitar dua pertiga mahasiswa universitas negeri menggunakan AI selama tahun ajaran 2023-2024. Sekitar 9% di antaranya mengaku memanfaatkannya untuk berbuat curang.
Menurut Igor Chirikov dari UC Berkeley, angka tersebut kemungkinan sudah lebih tinggi saat ini.
Dalam penelitian terhadap sekitar 500.000 nilai mahasiswa di sebuah universitas besar di Texas, Chirikov menemukan proporsi nilai A pada mata kuliah yang banyak mengandalkan kemampuan menulis dan coding meningkat sekitar 13 poin persentase sejak ChatGPT diperkenalkan pada akhir 2022. Kenaikan serupa tidak terlihat pada mata kuliah yang relatif sulit dibantu AI.
Pertanyaan yang kini dihadapi perguruan tinggi bukan lagi sekadar bagaimana menerima lebih banyak mahasiswa. Pertanyaannya jauh lebih mendasar. Apakah nilai, ijazah, dan gelar masih benar-benar mencerminkan kemampuan yang seharusnya mereka wakili?
source on Google