MARKET DATA

Mata Uang Asia Kebakaran: Rupiah - Won Terkapar, Cuma 2 Negara Selamat

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
30 June 2026 09:49
Karyawan menghitung uang di tempat penukaran uang di money Changer Valuta Artha Mas, Mall Ambasador, Kuningan, Jakarta, (21/6/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Karyawan menghitung uang di tempat penukaran uang di money Changer Valuta Artha Mas, Mall Ambasador, Kuningan, Jakarta, (21/6/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (30/6/2026). Tekanan terjadi saat indeks dolar AS kembali menguat.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.10 WIB, dari 10 mata uang Asia, sebanyak tujuh mata uang melemah terhadap dolar AS, sementara tiga lainnya menguat.

Rupiah menjadi salah satu mata uang yang berada di zona merah pada pagi ini. Mata uang Garuda melemah 0,25% ke posisi Rp17.880/US$. Posisi ini membuat rupiah kembali bergerak mendekati level psikologis Rp17.900/US$.

Tekanan paling dalam dialami won Korea Selatan yang melemah 0,54% ke posisi KRW 1.549,09/US$. Dong Vietnam menyusul dengan koreksi 0,28% ke posisi VND 26.304/US$.

Peso Filipina juga melemah 0,13% ke posisi PHP 61,259/US$, sementara dolar Singapura turun 0,08% ke SGD 1,293/US$. Dolar Taiwan terkoreksi 0,07% ke TWD 31,872/US$, baht Thailand melemah 0,03% ke THB 33,26/US$.

Di sisi lain, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia setelah naik 0,30% ke posisi MYR 4,055/US$. Yen Jepang juga menguat 0,14% ke posisi JPY 162,15/US$, sementara yuan China naik tipis 0,01% ke CNY 6,793/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat 0,17% ke posisi 101,280 pada pukul 09.10 WIB. Penguatan ini terjadi setelah DXY sempat turun 0,26% pada perdagangan sebelumnya.

Meski sempat terkoreksi, dolar AS masih berada di level yang cukup tinggi. DXY bahkan berada di momentum kenaikan sekitar 1,3% sepanjang kuartal II-2026. Kondisi ini menunjukkan dolar AS masih cukup kuat di tengah kombinasi sentimen suku bunga The Fed, data ekonomi AS, dan ketidakpastian geopolitik.

Perhatian utama pasar pekan ini tertuju pada data tenaga kerja AS. Laporan nonfarm payrolls yang akan dirilis Kamis menjadi agenda penting karena dapat memberi gambaran baru mengenai kekuatan pasar tenaga kerja AS dan arah kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve/The Fed.

Pelaku pasar juga mencermati sejumlah keputusan Mahkamah Agung AS. Salah satunya adalah keputusan yang menolak upaya Presiden Donald Trump untuk memecat Gubernur The Fed Lisa Cook. Keputusan ini membantu meredakan sebagian kekhawatiran pasar terhadap independensi The Fed di bawah pemerintahan Trump.

Dari sisi geopolitik, perhatian pasar masih tertuju pada hubungan AS-Iran. Tim negosiasi Iran dan AS dijadwalkan berada di Doha pekan ini. Namun, Iran menyatakan belum ada pertemuan yang dijadwalkan, setelah serangan rudal dari kedua pihak pada akhir pekan kembali menguji gencatan senjata sementara untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung empat bulan.

Meski begitu, laporan media yang mengutip pejabat AS menyebut kedua negara telah sepakat untuk menahan diri menjelang putaran negosiasi berikutnya. Kapal-kapal juga disebut dapat kembali bergerak bebas melalui selat.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperhitungkan peluang 31,50% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat 28-29 Juli. Sementara itu, peluang suku bunga tetap dipertahankan berada di 68,50%.

Kini, investor menunggu data ketenagakerjaan AS, mulai dari data ADP hingga nonfarm payrolls pekan ini. Data tersebut akan menjadi petunjuk penting untuk menilai apakah The Fed masih punya ruang untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular