BACH Mau IPO: Mesin Laba Ngebut, Tapi Ketergantungan Impor Jadi Risiko
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bach Multi Global Tbk (BACH) tengah mematangkan langkahnya untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui Penawaran Umum Perdana Saham (IPO).
Perusahaan yang memiliki dua pilar bisnis utama, yakni penyediaan genset dan infrastruktur telekomunikasi ini, mengincar dana publik untuk memperkuat modal kerja dan melunasi sebagian liabilitas perbankan.
Berikut adalah ulasan mendalam terkait prospektus BACH, membedah tren kinerja keuangan, rasio operasional, hingga analisis katalis positif serta risiko bisnis Perseroan.
Kinerja Keuangan Historis
Perseroan mencatatkan tren pertumbuhan kinerja top line maupun bottom line yang sangat agresif. Laba bersih BACH melonjak tajam pada tahun 2025, sejalan dengan peningkatan permintaan pada segmen penyewaan genset serta operasional jasa konstruksi telekomunikasi.
Sumber Pendapatan Berdasarkan Lini Bisnis
Berbeda dengan emiten yang bergantung pada satu sektor, BACH memiliki diversifikasi pada dua lini bisnis kritikal. Pada tahun 2025, penjualan dan penyewaan genset menjadi penyumbang pendapatan terbesar, disusul oleh segmen jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi yang dijalankan melalui anak usahanya, PT Bach Multi Infrastruktur (BMI).
Rencana Penggunaan Dana Hasil IPO
Dari aksi korporasi ini, BACH membidik dana segar maksimal sebesar Rp307,50 miliar. Perseroan akan menggunakan sebagian kecil dana tersebut untuk deleveraging (membayar utang), sementara porsi terbesarnya difokuskan untuk ekspansi modal kerja berupa pembelian unit genset baru guna memenuhi kebutuhan pasar.
Rasio Keuangan, Likuiditas, dan Profitabilitas
Kapasitas BACH dalam mencetak laba (profitabilitas) semakin solid, tercermin dari ROE yang menembus 29,02% pada 2025. Meski demikian, agresivitas ekspansi perusahaan membuat rasio utang terhadap ekuitas (DER) merangkak naik dari 0,83x pada 2023 menjadi 1,30x pada 2025. Likuiditas jangka pendek (Current Ratio) juga menyusut ke 1,29x, walau masih berada di atas ambang batas persyaratan kovenan perbankan.
Katalis Positif: Dukungan Grup Infrastruktur Digital
Daya tarik utama BACH terletak pada ekosistem bisnisnya. Sejak Juli 2023, Perseroan merupakan bagian dari grup infrastruktur digital terkemuka yang terafiliasi dengan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (Grup Djarum), yang mengelola puluhan ribu menara dan ratusan ribu kilometer jaringan fiber optik. Selain itu, komitmen manajemen membagikan dividen hingga 50% dari laba bersih mulai tahun 2027 menjadi angin segar bagi investor.
Katalis Negatif: Ketergantungan Pemasok dan Kovenan Bank
Di balik kokohnya fundamental, BACH menghadapi risiko rantai pasok. Perseroan sangat bergantung pada prinsipal genset luar negeri seperti Himoinsa dan Guangdong Westinpower, sehingga rentan terhadap fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. Selain itu, peningkatan rasio utang membuat Perseroan terikat dengan negative covenants ketat dari perbankan yang dapat membatasi ruang gerak aksi korporasi tanpa restu kreditur.
Struktur Kepemilikan Saham dan Manuver Akuisisi (Dalam %)
Dalam struktur kepemilikan saham, PT Bach Multi Global Tbk (BACH) menyimpan manuver korporasi yang patut dicermati secara saksama. Pasca-IPO, porsi kepemilikan publik (Masyarakat) ditetapkan sebesar 15,06% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh.
Namun, perlu diperhatikan akan adanya Perjanjian Opsi yang disepakati pada 7 Januari 2026 antara dua pemegang saham terbesar Perseroan. PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) selaku pemegang saham pengendali akan mengeksekusi hak opsi pembelian saham milik PT Bach Multi Sukses Investama (BMSI) selambat-lambatnya lima hari kerja setelah saham BACH resmi tercatat di bursa.
Manuver akuisisi internal ini akan secara langsung mengukuhkan posisi GTP sebagai pemegang saham mayoritas absolut dengan porsi kepemilikan mencapai 51,00%. Dan sebagai gambaranÂ
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls) Addsource on Google