MARKET DATA

Babak Baru Pasar Minyak Dunia: Arab Saudi Hidupkan Lagi Ras Tanura

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
30 June 2026 10:15
Ketergantungan Asia pada Impor Energi dari negara Teluk
Foto: Infografis/ Ketergantungan Asia pada Impor Energi dari negara Teluk/ Ilham Restu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar minyak memasuki babak baru setelah ketegangan di Timur Tengah mulai mereda. Fokus pelaku pasar kini bergeser dari ancaman gangguan pasokan menuju laju pemulihan ekspor minyak dari kawasan Teluk.

Perubahan itu terlihat dari kembali beroperasinya pelabuhan utama Arab Saudi, meningkatnya pengiriman fuel oil, hingga semakin banyak kapal tanker yang kembali melintasi Selat Hormuz.

Saudi Aramco pada Jumat (26/6/2026) kembali memuat minyak mentah di terminal Ras Tanura setelah hampir empat bulan berhenti beroperasi. Data LSEG yang dikutip Reuters memperlihatkan dua kapal tanker jenis Very Large Crude Carrier (VLCC) milik Bahri sedang melakukan pemuatan, sementara satu kapal lainnya menunggu giliran. Satu VLCC mampu mengangkut sekitar 2 juta barel minyak mentah.

Ras Tanura memiliki posisi penting dalam perdagangan energi dunia.

Konflik turut mengubah peta ekspor HSFO di Timur Tengah. Sebelum perang, pasokan kawasan didominasi Irak, Kuwait, Iran, dan Uni Emirat Arab. Memasuki Juni, komposisinya berganti. Suriah muncul sebagai titik ekspor terbesar setelah menjadi jalur alternatif bagi fuel oil Irak, sementara Arab Saudi dan Oman meningkatkan pengiriman dari pelabuhan yang tidak bergantung pada Selat Hormuz.

 

Sebelum perang pecah, pelabuhan ini rutin mengekspor lebih dari 5 juta barel minyak mentah per hari. Kilang domestik terbesar Arab Saudi berkapasitas 550 ribu barel per hari juga berada di kawasan tersebut. Aktivitas di Ras Tanura dihentikan sejak Maret sebagai langkah antisipasi ketika konflik membuat kapal-kapal tidak dapat berlayar normal melalui Selat Hormuz.

Ras TanuraRas Tanura Foto: Reuters- Refinitiv- Muralikumar Anantharaman, June 26, 2026

Selama penutupan itu, ekspor minyak Saudi dialihkan ke pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah. Jalur tersebut dipilih karena tidak melewati Selat Hormuz yang sempat diblokade Iran selama konflik berlangsung. Dampaknya cukup besar.

Data LSEG memperlihatkan ekspor minyak mentah Arab Saudi turun menjadi sekitar 4 juta barel per hari dalam tiga bulan terakhir, dari lebih dari 7 juta barel per hari pada Februari.

Pemulihan juga mulai terlihat pada perdagangan fuel oil di kawasan Timur Tengah.

Data Kpler dan LSEG memperkirakan ekspor fuel oil mencapai sekitar 2,4 juta ton atau sekitar 508 ribu barel per hari sepanjang Juni. Angka tersebut naik lebih dari 20% dibandingkan Mei. Meski demikian, volumenya masih jauh dari kondisi sebelum perang ketika ekspor kawasan ini berkisar 5,5 juta hingga 6 juta ton setiap bulan.

 

Kenaikan ekspor tersebut berasal dari beberapa jalur. Irak memperbesar pengiriman melalui pelabuhan Baniyas di Suriah. Volume ekspornya bahkan melampaui 600 ribu ton sepanjang Juni, tertinggi sejak jalur itu mulai digunakan pada Maret. Sebelum perang, ekspor fuel oil Irak umumnya dikirim dari Pelabuhan Khor al-Zubair menuju Asia melalui Selat Hormuz. Ketika jalur tersebut terganggu, jutaan barel fuel oil diangkut menggunakan truk menuju Suriah sebelum kembali diekspor melalui Baniyas.

Arab Saudi juga memperbesar pengiriman fuel oil dari Yanbu. Reuters mencatat volume ekspor pada Juni diperkirakan melampaui 300 ribu ton, tertinggi dalam lima bulan terakhir. Oman ikut meningkatkan ekspor hingga mendekati 300 ribu ton, level tertinggi dalam lebih dari dua tahun.

Di sisi lain, ekspor Iran masih bergerak terbatas. Amerika Serikat memang memberikan kelonggaran sanksi selama 60 hari, tetapi transaksi pembayaran dan layanan perbankan masih menjadi hambatan bagi perdagangan minyak negara tersebut.

Arus kapal tanker yang kembali melintasi Selat Hormuz ikut memperkuat pasokan global. Reuters melaporkan pengiriman minyak melalui jalur itu telah mencapai level tertinggi sejak konflik pecah. Irak melalui SOMO serta Qatar mulai menawarkan minyak ke pasar, mengikuti langkah Kuwait dan Uni Emirat Arab. Data pelayaran juga memperlihatkan dua VLCC kosong, Natsumi dan Halti, memasuki Teluk Persia untuk memuat minyak Iran.

 

Rystad Energy memperkirakan sekitar 2 juta barel produksi minyak per hari telah kembali ke pasar hanya dalam tiga pekan terakhir. Produksi yang sebelumnya berhenti di kawasan Teluk turun menjadi 9,6 juta barel per hari pada pertengahan Juni, dari 11,7 juta barel per hari tiga pekan sebelumnya. Lembaga tersebut memperkirakan pemulihan pasokan kawasan Teluk akan berlanjut hingga kembali normal pada akhir tahun.

Tambahan pasokan ini menjadi salah satu faktor yang membebani harga minyak dunia. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan mulai mereda, sementara ekspor dari sejumlah produsen utama terus bertambah.

Meski risiko keamanan di Selat Hormuz belum sepenuhnya hilang setelah adanya laporan dugaan serangan terhadap kapal dagang pada Kamis, perhatian pasar kini lebih banyak tertuju pada derasnya pasokan minyak yang kembali memasuki perdagangan global.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular