MARKET DATA

24 Jam Mencekam! Gempa Besar Hantam Berbagai Negara, Kebetulan?

Aisha Mayra,  CNBC Indonesia
26 June 2026 18:10
Citra satelit menunjukkan Avenida La Playa di La Guaira, Venezuela, 8 Mei 2026, sebelum dua gempa bumi dahsyat. (Vantor/Handout via REUTERS)
Foto: Citra satelit menunjukkan Avenida La Playa di La Guaira, Venezuela, 8 Mei 2026, sebelum dua gempa bumi dahsyat. (via REUTERS/VANTOR)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam waktu kurang dari 24 jam, gempa kuat mengguncang sejumlah belahan dunia pada Rabu-Kamis (24-25/6/2026).

California diguncang gempa magnitudo (M) 5,6  sementara Venezuela mengalami dua gempa besar beruntun berkekuatan M7,2 dan M7,5.

Jepang kemudian diguncang gempa M6,9 di lepas pantai Prefektur Iwate. Pada periode yang sama, aktivitas seismik juga tercatat di Filipina, Indonesia, Papua Nugini, Meksiko, Selandia Baru, hingga Kepulauan Kermadec.

Gempa Besar Datang Beruntun

Tiga gempa terbesar dalam rentetan tersebut terjadi di Venezuela, Jepang, dan California.

US Geological Survey (USGS) mencatat Venezuela diguncang dua gempa besar hanya dalam selang waktu kurang dari dua menit. Gempa M7,2 segera diikuti gempa M7,5 yang memicu kerusakan luas, korban jiwa, dan peringatan tsunami di kawasan Karibia.

Beberapa jam kemudian, gempa M6,9 mengguncang lepas pantai Prefektur Iwate, Jepang. Getarannya terasa hingga Tokyo dan sempat membuat operator menghentikan sementara layanan kereta cepat Tohoku Shinkansen sebagai langkah pengamanan.

 

Sebelumnya, California Utara lebih dulu mengalami gempa M5,6, yang menjadi guncangan terkuat di kawasan tersebut sejak 1940. Pada saat yang hampir bersamaan, katalog gempa global juga mencatat puluhan gempa lain di Filipina, Indonesia, Alaska, Meksiko, Chile, hingga Selandia Baru.

Jika dilihat di peta, rangkaian ini memang tampak mencolok. Namun, apakah semuanya saling berkaitan?

Tidak Berasal dari Sumber yang Sama

Sebagian besar lokasi yang mengalami gempa memang berada di Pacific Ring of Fire, sabuk tektonik sepanjang sekitar 40.000 kilometer yang menjadi lokasi sekitar 90% gempa bumi dunia.

Jepang, California, Filipina, Indonesia, Papua Nugini, Selandia Baru, hingga Kepulauan Kermadec berada di jalur ini. Karena itu, kemunculan beberapa gempa pada hari yang sama mudah menimbulkan kesan bahwa semuanya saling berkaitan.

Namun ada pengecualian penting.

Citra satelit menunjukkan gedung-gedung apartemen yang runtuh di La Guaira, Venezuela, 25 Juni 2026, setelah dua gempa bumi dahsyat. (Vantor/Handout via REUTERS)Citra satelit menunjukkan gedung-gedung apartemen yang runtuh di La Guaira, Venezuela, 25 Juni 2026, setelah dua gempa bumi dahsyat. (Vantor/Handout via REUTERS) Foto: Citra satelit menunjukkan gedung-gedung apartemen yang runtuh di La Guaira, Venezuela, 25 Juni 2026, setelah dua gempa bumi dahsyat. (via REUTERS/VANTOR)

 

Dua gempa terbesar justru terjadi di Venezuela, yang bukan bagian dari Ring of Fire Pasifik. Menurut USGS dan Colombian Geological Service, aktivitas di negara tersebut dipicu oleh interaksi Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan, bukan sistem subduksi di sepanjang Cincin Api Pasifik.

Artinya, kemunculan sejumlah gempa besar dalam waktu berdekatan tidak otomatis berarti semuanya berasal dari mekanisme tektonik yang sama.

Mengapa Terasa Gempa Terjadi di Mana-Mana?

Jawabannya tidak hanya terletak pada aktivitas Bumi, tetapi juga pada cara manusia memantaunya.

USGS memperkirakan sekitar 20.000 gempa terjadi setiap tahun di seluruh dunia, atau rata-rata sekitar 55 gempa setiap hari. Sebagian besar berkekuatan kecil, terjadi di bawah laut, atau jauh dari kawasan berpenduduk sehingga tidak pernah dirasakan masyarakat.

Di sisi lain, sistem pemantauan kini jauh lebih rapat dibanding sebelumnya. Hampir setiap gempa besar langsung muncul di peta digital, media sosial, hingga notifikasi ponsel hanya dalam hitungan menit.

Yang berubah bukan hanya aktivitas seismiknya, tetapi juga kemampuan manusia untuk melihatnya secara real time.

Apakah Gempa-Gempa Itu Saling Memicu?

Sejumlah seismolog menilai jawabannya hampir pasti tidak.

"The fact that they happen to have occurred in close temporal proximity is almost certainly just a statistical coincidence," kata Peter Stafford, Profesor Engineering Seismology di Imperial College London.

 

Pandangan serupa disampaikan John Cassidy dari Natural Resources Canada. Menurutnya, gempa terjadi setiap hari di berbagai bagian Ring of Fire sehingga kemunculannya dalam hari yang sama bukan sesuatu yang luar biasa.

USGS juga mencatat rata-rata terdapat sekitar 16 gempa berkekuatan magnitudo 7 atau lebih setiap tahun. Dalam kondisi tersebut, beberapa gempa besar memang dapat muncul dalam rentang waktu yang berdekatan tanpa memiliki hubungan sebab-akibat.

Bumi Terus Bergerak

Di bawah permukaan, lempeng tektonik terus bergerak beberapa sentimeter setiap tahun. Setiap batas lempeng memiliki karakter, mekanisme, dan siklus pelepasan energi yang berbeda.

Karena itu, gempa di Jepang tidak otomatis memicu gempa di Venezuela, begitu pula gempa di California tidak berarti Indonesia akan segera mengalami gempa besar. Pengaruh perubahan tegangan akibat gempa umumnya terbatas di sekitar zona sumbernya, bukan melintasi ribuan kilometer.

Rentetan gempa dalam 24 jam terakhir lebih tepat dipahami sebagai pengingat bahwa Bumi memang tidak pernah benar-benar diam. Meski terjadi hampir bersamaan dan menarik perhatian dunia, masing-masing peristiwa tetap memiliki penyebab geologinya sendiri.

 

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular