MARKET DATA

Asia Jadi Tameng Ekonomi Dunia, Kuasai 60% Cadangan Devisa Global

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
29 June 2026 10:10
10 Negara Sultan dengan Cadev Terbesar di Planet Ini
Foto: Infografis/ 10 Negara Sultan dengan Cadev Terbesar di Planet Ini/ Ilham Restu

Jakarta, CNBC Indonesia - Cadangan devisa menjadi salah satu benteng pertahanan penting bagi sebuah negara. Saat pasar keuangan sedang bergejolak, mata uang melemah, atau investor asing menarik dananya keluar, cadangan devisa bisa dipakai untuk meredam tekanan.

Cadangan devisa mirip dana darurat negara. Bank sentral dapat menggunakannya untuk menstabilkan nilai tukar, membayar impor penting, melunasi kewajiban luar negeri, hingga menjaga kepercayaan investor.

Berdasarkan data IMF International Reserves and Foreign Currency Liquidity (IRFCL) dikutip dari Visual Capitalist, yang menghitung cadangan devisa namun tidak memasukan emas berdasarkan periode pelaporan terbaru dari pertengahan 2025 hingga kuartal II 2026, China berada di posisi pertama dengan cadangan devisa sebesar US$3,41 triliun.

Angka ini membuat China unggul jauh dari negara lain. Jepang berada di posisi kedua dengan cadangan devisa US$1,26 triliun, disusul Swiss di posisi ketiga dengan US$932,3 miliar.

Di bawahnya ada Taiwan dengan US$602,5 miliar dan India sebesar US$543 miliar. Keduanya semakin mempertegas kuatnya posisi Asia dalam daftar negara pemilik cadangan devisa terbesar dunia.

Jika dilihat dari 10 besar, tujuh negara berasal dari Asia. Selain China, Jepang, Taiwan, dan India, ada Hong Kong dengan US$442,1 miliar, Korea Selatan US$423,1 miliar, serta Singapura US$419,3 miliar.

Tujuh negara Asia dalam daftar 10 besar tersebut secara bersama sama menguasai lebih dari separuh cadangan devisa global. Total cadangan devisa ketujuh negara itu mencapai sekitar US$7 triliun, atau sekitar 55% dari total cadangan devisa global yang berada di kisaran US$13 triliun.

Besarnya cadangan ini tidak lepas dari model pertumbuhan yang banyak bertumpu pada ekspor, surplus perdagangan yang berlangsung lama, serta kebijakan menjaga bantalan keuangan dalam jumlah besar.

Trauma Krisis 1997 Masih Membekas

Besarnya cadangan devisa negara negara Asia tidak muncul begitu saja. Salah satu titik balik pentingnya adalah krisis keuangan Asia pada 1997.

Saat itu, banyak negara di kawasan mengalami tekanan besar. Nilai tukar jatuh tajam, arus modal asing keluar, dan sejumlah negara harus mencari bantuan eksternal untuk menjaga stabilitas ekonominya.

Dari pengalaman tersebut, banyak pemerintah di Asia kemudian memilih memperbesar cadangan devisa sebagai bentuk perlindungan diri. Dengan cadangan yang besar, negara punya ruang lebih luas untuk menghadapi guncangan dari luar tanpa terlalu bergantung pada bantuan asing.

Karena itu, cadangan devisa bukan hanya soal gengsi ekonomi. Di banyak negara Asia, cadangan devisa menjadi alat penting untuk menjaga stabilitas saat pasar global sedang tidak bersahabat.

AS Ekonomi Terbesar, Tapi Cadangan Devisanya Tidak Jumbo

Hal menarik justru terlihat dari Amerika Serikat (AS). Meski masih menjadi ekonomi terbesar dunia, AS hanya berada di peringkat ke 13 dengan cadangan devisa sebesar US$244,6 miliar.

Posisi AS bahkan berada di bawah Singapura, Korea Selatan, Thailand, hingga Brasil. Sekilas ini terlihat aneh, tetapi penjelasannya ada pada peran dolar AS itu sendiri.

Dolar AS adalah mata uang cadangan utama dunia. Banyak transaksi perdagangan internasional, investasi global, hingga cadangan bank sentral negara lain menggunakan dolar AS.

Karena dunia membutuhkan dolar, AS tidak perlu menumpuk mata uang asing dalam jumlah besar seperti negara lain. AS juga bisa memenuhi banyak kewajibannya menggunakan mata uangnya sendiri.

Ini berbeda dengan banyak negara lain yang harus memiliki cadangan valuta asing besar untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan menghadapi potensi tekanan pasar.

Cadangan Besar Punya Manfaat, Tapi Ada Biayanya

Cadangan devisa yang besar tentu memberi banyak keuntungan. Negara dengan cadangan besar biasanya lebih siap menghadapi gejolak eksternal, menjaga kepercayaan investor, dan menahan tekanan pada mata uangnya.

Namun, cadangan besar juga punya biaya. Dana tersebut umumnya ditempatkan pada aset yang relatif aman, seperti surat utang pemerintah negara maju, yang imbal hasilnya tidak selalu tinggi.

Artinya, ada dana besar yang hanya terparkir demi mendapatkan keamanan, bukannya dipakai untuk mendorong aktivitas ekonomi domestik. Karena itu, pemerintah dan bank sentral perlu menyeimbangkan antara kebutuhan menjaga keamanan ekonomi dan peluang menggunakan dana untuk kebutuhan lain.

Kondisi ini juga menunjukkan bahwa pengaruh finansial global tidak hanya ditentukan oleh ukuran ekonomi semata. AS tetap menjadi pusat sistem moneter dunia karena dominasi dolar. Namun, besarnya cadangan devisa negara negara Asia memperlihatkan betapa pentingnya kawasan ini dalam perdagangan, manufaktur, dan arus modal global.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular