Produksi Pisang Cetak Rekor, Laris Manis Dijual ke Malaysia-Singapura
Jakarta, CNBCÂ Indonesia-Â Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan produksi pisang Indonesia sedang berada di level tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Pada 2025, produksi pisang nasional mencapai 9,817 juta ton. Angka ini naik 6,02% dibandingkan 2024 yang tercatat 9,260 juta ton. Kenaikan sebesar 557 ribu ton tersebut membuat produksi pisang Indonesia mencetak rekor baru dalam periode 2021-2025.
Jika ditarik lebih jauh, tren kenaikan produksi terlihat cukup konsisten. Pada 2021 produksi berada di level 8,741 juta ton, kemudian naik menjadi 9,245 juta ton pada 2022 dan 9,335 juta ton pada 2023. Setelah sempat turun tipis pada 2024, produksi kembali melonjak pada 2025.
Di sisi lain, konsumsi rumah tangga belum sepenuhnya kembali ke level sebelum 2024. Pada 2025 konsumsi tercatat 2,231 juta ton, memang naik 22,6% dibandingkan 2024. Namun angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan konsumsi pada 2021-2023 yang berada di kisaran 2,37-2,42 juta ton.
Dengan kata lain, pasokan pisang nasional tumbuh lebih cepat dibanding konsumsi domestik. Kondisi ini membuat ruang bagi pasar ekspor menjadi semakin penting.
BPS mencatat produksi terbesar pada 2025 terjadi di triwulan I dengan volume mencapai 2,58 juta ton. Pada periode tersebut terdapat 77,14 juta rumpun tanaman yang menghasilkan. Panen awal tahun menjadi penyumbang terbesar terhadap total produksi nasional.
Jawa Timur masih menjadi raja pisang Indonesia. Produksinya mencapai 2,77 juta ton atau berkontribusi 28,63% terhadap total nasional. Lampung berada di posisi kedua dengan produksi sekitar 2 juta ton atau 20,39% dari total nasional.
Â
Posisi ketiga ditempati Jawa Barat dengan produksi 1,31 juta ton atau sekitar 13,36%. Ketiga provinsi ini menyumbang lebih dari 62% produksi pisang Indonesia.
Besarnya kontribusi Jawa Timur ditopang oleh 22,88 juta rumpun tanaman yang menghasilkan. Lampung memiliki sekitar 10,05 juta rumpun produktif, sedangkan Jawa Barat sekitar 19,49 juta rumpun.
Ketika pasokan domestik melimpah, ekspor pisang Indonesia terus bergerak naik. Pada 2025 volume ekspor pisang segar mencapai 31.793 ton, tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Dalam empat tahun, volume ekspor meningkat lebih dari dua kali lipat. Pada 2021 ekspor masih 13.656 ton, lalu naik menjadi 22.113 ton pada 2022, 24.827 ton pada 2023, dan 26.248 ton pada 2024.
Kenaikan ekspor ini tercermin pada nilai perdagangan. Nilai ekspor pisang pada 2025 mencapai US$14,1 juta, naik 34,04% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara nilai impor hanya sekitar US$4,76 ribu.
Malaysia menjadi pasar utama pisang Indonesia dengan nilai ekspor mencapai US$6,04 juta dan volume sekitar 17.798 ton. Jepang berada di posisi kedua dengan nilai US$2,34 juta dan volume sekitar 3.855 ton.
Â
Singapura menempati urutan berikutnya dengan nilai ekspor sekitar US$1,90 juta dan volume sekitar 3.404 ton. Tiga negara tersebut menjadi tulang punggung ekspor pisang Indonesia.
Jika melihat struktur pasar, sebagian besar produksi pisang Indonesia masih diserap di dalam negeri. Dari total produksi 9,817 juta ton pada 2025, konsumsi rumah tangga mencapai 2,231 juta ton dan ekspor sekitar 31.793 ton.
Artinya, pasar domestik tetap menjadi penopang utama industri pisang nasional. Namun pertumbuhan ekspor yang konsisten memperlihatkan bahwa pisang Indonesia semakin kompetitif di pasar regional.
Bagi petani, tren ini membuka peluang baru. Produksi yang terus meningkat memberi ruang untuk memperluas pasar, sementara permintaan dari negara tetangga masih cukup kuat. Tantangan berikutnya terletak pada kualitas pascapanen, logistik, dan konsistensi pasokan agar pertumbuhan ekspor dapat berlanjut dalam jangka panjang.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/emb) Addsource on Google