MARKET DATA

Mata Uang Asia Ambruk: Rupiah - Won Keok, Cuma Peso & Ringgit Perkasa

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
26 June 2026 10:05
Ilustrasi Mata Uang Asing (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)
Foto: Ilustrasi Mata Uang Asing (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia tertekan dalam menghadapi dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (26/6/2026) atau menjelang akhir pekan. Tekanan terjadi saat indeks dolar AS kembali bergerak menguat dan masih bertahan di level tinggi.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, dari 10 mata uang Asia, terpantau sebanyak tujuh mata uang melemah terhadap dolar AS, dua mata uang menguat, dan satu mata uang stagnan.

Rupiah menjadi salah satu mata uang yang tertekan cukup dalam pada perdagangan pagi ini. Mata uang Garuda melemah 0,36% ke posisi Rp17.980/US$. Posisi ini membuat rupiah semakin dekat ke level psikologis Rp18.000/US$.

Tekanan terdalam pagi ini dialami baht Thailand yang melemah 0,33% ke posisi THB 33,43/US$. Won Korea Selatan menyusul dengan pelemahan 0,27% ke KRW 1.549,9/US$.

Dolar Taiwan juga masuk zona merah setelah turun 0,21% ke posisi TWD 31,842/US$. Dolar Singapura melemah 0,10% ke SGD 1,296/US$, sementara yuan China terkoreksi tipis 0,02% ke CNY 6,798/US$.

Yen Jepang juga melemah tipis 0,01% ke posisi JPY 161,79/US$. Adapun dong Vietnam bergerak stagnan di posisi VND 26.314/US$.

Di sisi lain, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia setelah naik 0,24% ke posisi MYR 4,105/US$. Peso Filipina juga mampu menguat 0,13% ke PHP 61,189/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat 0,08% ke posisi 101,510 pada waktu yang sama. Penguatan ini membuat dolar AS tetap berada di area tinggi, meski pada perdagangan Kamis sempat terkoreksi dan menghentikan reli tiga hari beruntun.

DXY sebelumnya sempat menjauh dari level terkuat sejak Mei 2025. Namun, dolar AS masih berada di jalur penguatan mingguan dua pekan beruntun untuk pertama kalinya sejak konflik Timur Tengah pecah pada akhir Februari.

Penguatan dolar AS dalam beberapa waktu terakhir masih dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan moneter AS yang lebih ketat. Setelah rapat FOMC pekan lalu, pasar mulai melihat adanya perbedaan arah kebijakan moneter antara AS dan kawasan lain, terutama Eropa.

Analis Capital Economics menilai dolar AS memang sedikit terkoreksi setelah kenaikan tajam pasca-FOMC. Namun, mereka melihat perbedaan arah kebijakan moneter antara AS dan Eropa masih dapat membuka ruang penguatan lanjutan bagi greenback pada paruh kedua 2026.

"Setelah kenaikan tajam menyusul rapat FOMC pekan lalu, dolar AS sedikit melemah hari ini dan mungkin akan jeda dalam waktu dekat," tulis analis Capital Economics dalam risetnya, dikutip dari Reuters.

Dari sisi data, inflasi AS kembali menjadi perhatian pasar. Indeks harga Personal Consumption Expenditures/PCE, yang menjadi ukuran inflasi favorit bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), naik 4,1% secara tahunan pada Mei 2026. Kenaikan ini sejalan dengan ekspektasi ekonom dan dipengaruhi oleh lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah.

Sejumlah pejabat The Fed juga memberikan sinyal yang beragam. Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee menyebut ada sedikit harapan dari inflasi jasa. Namun, dia tetap menilai tekanan harga inti masih terlalu tinggi dan bergerak ke arah yang kurang nyaman.

Sementara itu, Presiden The Fed New York John Williams mengatakan tekanan inflasi kemungkinan akan mereda tahun ini. Namun, level inflasi masih terlalu tinggi untuk saat ini.

Komentar para pejabat The Fed tersebut sedikit meredam ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga yang terlalu cepat. Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini memperhitungkan peluang 69% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada rapat yang berakhir 29 Juli, naik dari 65,8% sehari sebelumnya.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular