MARKET DATA

Di Balik Perang Iran, Komoditas "Renyah" Ini Mendadak Panen Cuan

Aisha Mayra,  CNBC Indonesia
24 June 2026 20:10
Bendera Iran. (AP Photo/Jin-Man Lee/File Foto)
Foto: Bendera Iran. (AP/Jin-Man Lee/File Foto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pistachio menjadi salah satu komoditas yang diam-diam menikmati berkah dari perang Iran.

Perang Iran sempat mengganggu ekspor pistachio melalui Selat Hormuz, membuat pengiriman turun 31% dan mendorong kenaikan harga yang menguntungkan petani California, yang kini menyumbang sekitar 60% produksi pistachio dunia. Tren cokelat Dubai juga ikut mendongkrak permintaan.

Namun, keuntungan ini diperkirakan hanya sementara karena ekspor Iran berpotensi pulih jika perdamaian bertahan, sementara petani California masih menghadapi tantangan cuaca ekstrem dan pembatasan penggunaan air.

Dikutip dari The Economist, selama empat generasi, keluarga Joe Coelho beternak sapi di dekat Riverdale, California. Namun pada 2021, mereka menjual seluruh ternaknya dan beralih menanam pistachio.

Keputusan itu datang pada waktu yang tepat.

Pada Mei 2026, harga pistachio di Amerika Serikat mencapai US$5,30 per pon atau US$11,68 per kg (sekitar Rp 207.850, US$1= Rp 17.795), menurut penyedia data pasar Expana. Itu merupakan harga tertinggi dalam satu dekade.

Dalam setahun, harganya telah naik lebih dari 25%, dari US$3,28 per pon pada Desember 2023 menjadi US$4,14 setahun kemudian. Tahun ini, harganya melesat lebih tinggi lagi.

Salah satu penyebabnya berada lebih dari 12.000 kilometer dari kebun milik Coelho.

Ilustrasi Kacang Pistachios. (Dok. Freepik)Ilustrasi Kacang Pistachios. (Dok. Freepik) Foto: Ilustrasi Kacang Pistachios. (Dok. Freepik)

Harga Pistachio Melesat

Sebelum konflik pecah, permintaan pistachio sebenarnya sudah meningkat. Popularitas Dubai chocolate, cokelat premium berisi krim pistachio yang viral di media sosial, ikut mengangkat konsumsi kacang tersebut di berbagai negara.

Namun perang memberi dorongan baru.

Gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz membuat ekspor pistachio Iran tersendat. Dalam 30 hari hingga 21 Mei, pengiriman pistachio bercangkang dari Iran turun 31% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

 

Bagi pasar global, penurunan itu cukup besar.

Iran bukan pemain kecil. Negara tersebut telah membudidayakan dan memperdagangkan pistachio selama ribuan tahun dan masih menjadi salah satu pemasok utama dunia. Ketika pasokannya terganggu, harga global langsung bereaksi.

Dan kenaikan harga itu menciptakan pemenang yang tak terduga.

Ketika California Diuntungkan

Bagi petani pistachio California, momen seperti ini bukan hal baru. Industri mereka justru tumbuh dari gejolak geopolitik.

Pada 1979, ketika krisis penyanderaan Iran meletus, Presiden Jimmy Carter melarang impor berbagai produk Iran ke Amerika Serikat, termasuk sekitar 25 juta pon pistachio.

Pada dekade berikutnya, petani AS menuduh Iran menjual pistachio dengan harga terlalu murah untuk menekan pesaing. Washington kemudian mengenakan tarif sebesar 241%.

Dubai Chocolate bars stand in a branch of chocolate producer Lindt before the sale of 100 Dubai Chocolate bars starts in Stuttgart, southern Germany, on November 15, 2024. The hype around the chocolate bar - usually filled with pistachio and tahini paste and crispy Kadaif noodles - has also sparked the interest in German customers and led to long queues outside shops. (Photo by THOMAS KIENZLE / AFP)Dubai Chocolate bars stand in a branch of chocolate producer Lindt before the sale of 100 Dubai Chocolate bars starts in Stuttgart, southern Germany, on November 15, 2024. The hype around the chocolate bar - usually filled with pistachio and tahini paste and crispy Kadaif noodles - has also sparked the interest in German customers and led to long queues outside shops. (Photo by THOMAS KIENZLE / AFP) Foto: AFP/THOMAS KIENZLE

 

Ruang kosong itu perlahan diisi California.

Kini, kebun-kebun di negara bagian tersebut diperkirakan menyumbang sekitar 60% produksi pistachio dunia pada 2025. Ketika pasokan Iran kembali terganggu, petani California sekali lagi menikmati lonjakan permintaan.

"Saya tidak ingin orang berpikir saya senang dengan perang ini. Tidak ada yang senang," kata Coelho kepada The Economist.

"Tapi perang menghilangkan sebagian pasokan dunia dan membuka ruang bagi kami untuk mengisinya."

Kalimat itu mungkin terdengar dingin. Namun pasar komoditas memang bekerja seperti itu. Ketika pasokan di satu negara terganggu, produsen di tempat lain sering kali menjadi penerima manfaat.

Kadang-kadang, pemenangnya berada sangat jauh dari medan konflik.

Masa Manis yang Mungkin Singkat

Pertanyaannya sekarang bukan lagi siapa yang diuntungkan. Tetapi berapa lama keuntungan itu bertahan.

Jika situasi di Timur Tengah mereda, ekspor Iran diperkirakan kembali berjalan mendekati kondisi normal. Sejauh ini, kerusakan pada kebun pistachio Iran juga dinilai tidak terlalu besar.

Sementara itu, California menghadapi persoalannya sendiri.

International Nut & Dried Fruit Council memperkirakan produksi pistachio global dapat turun sekitar sepertiga pada 2026. Salah satu penyebabnya adalah gelombang panas yang merusak kebun di California.

Coelho menunjuk sekelompok buah pistachio di salah satu pohonnya. 

"Anda bisa lihat, semuanya seperti terbakar," ujarnya. Masalahnya tidak berhenti di situ.

Pohon pistachio memiliki siklus produksi alami. Ada tahun ketika hasil panen melimpah, lalu diikuti tahun dengan produksi yang jauh lebih rendah.

Artinya, harga tinggi belum tentu berarti keuntungan besar. Petani mungkin menjual dengan harga lebih mahal, tetapi jumlah yang dipanen justru lebih sedikit.

Efek Perang yang Menjalar Jauh

Kisah pistachio menunjukkan bagaimana perang dapat mengubah nasib orang-orang yang berada jauh dari lokasi konflik.

Perang di Timur Tengah tidak hanya memengaruhi harga minyak atau pasar saham. Konflik itu juga dapat menentukan pendapatan petani di California, harga cokelat di Dubai, hingga pasokan kacang di supermarket.

Sebuah gangguan di Selat Hormuz dapat membuat harga pistachio di Amerika mencetak rekor tertinggi dalam satu dekade.

Namun seperti banyak dampak ekonomi akibat perang, keuntungan itu kemungkinan bersifat sementara.

Ketika pasokan kembali normal, para petani pistachio akan kembali menghadapi persoalan yang lebih akrab bagi mereka: cuaca, air, dan hasil panen.

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular